Suatu Cinta bukan berasal dari pendekatan atau perkenalan yang lama.
Namun sebenarnya Cinta buah dari kecocokan
Bila engkau mencintai seseorang sebenarnya engkau mencintai diri mu dalam dirinya…
Karena sebenarnya cinta seperti cermin
Diasat kau melihatnya kau dapat melihat dirimu dalam dirinya.
- Kahlil Gibran -
jadi inget ama liriknya COUNTING CROWS "Butterfly In Reverse"
maryann you’re better than the world
they took a lot of time getting it right on this girl
i said maryann you’re better than the world
they did a lot of things right on this girl
i had a lot of girlfriends
i should have known them
click your heels and count back from three
do you want to go back
you should have known that
the butterfly in reverse here is me
maryann you’re better than the world
they took a lot of time getting it right on this girl
i said maryann you’re better than the world
they did a lot of things right on this girl
where’d you want to go to
with nothing beside you
but webbing and curfews and rain
and everything that hurts you
gets stuffed up inside you
like butterflies with wings
or other perfect things
we go swimming in the sunshine
dangling from clotheslines
seperate and fall into me
and did you ever see me
me absolutely
me but all you but still me
maryann you’re better than the world
they took a lot of time getting it right on this girl
i said maryann you’re better than the world
they did a lot of things right on this girl did alot of things right on this [2x]
did alot of things right on this girl
Monday, June 30, 2008
Thursday, June 26, 2008
Jealous?
Cemburu…
Pernah merasakan perasaan ini?
Tidak perlu malu untuk mengungkapkan rasa ini, karena setiap orang pasti pernah merasakannya meskipun tanpa disadari, terlebih ketika sedang menjalani hubungan dengan seseorang. Cemburu memang sering didefinisikan sebagai bentuk ketakutan akan kehilangan rasa sayang dari pasangan kita. Terkadang cemburu diperlukan sebagai petunjuk rasa sayang kita terhadap pasangan, namun tidak sedikit pula kalau cemburu yang berlebihan pun dapat membuat si pasangan menjadi terganggu.
Pernah ingat saat kita masih kanak-kanak? Saat melihat teman sepermainan kita lebih senang bermain dengan yang lain, kita merasa terabaikan. Atau saat beranjak dewasa, kita pernah dikhianati oleh sang kekasih sehingga alasan mengapa seseorang merasa cemburu adalah karena merasa takut kehilangan dan tidak aman, maka tidak heran bila timbul perasaan posesif terhadap si pasangan.
Lalu bagaimanakah menghadapi orang pencemburu? Yang pertama dapat dilakukan adalah kita tidak harus larut dalam situasi yang diciptakan oleh si pasangan. Kita dapat mengarahkan si pasangan untuk berfikir logis dan tetp tenang. Setelah ia mulai merasa rasional, baru berilah jamina kepadanya kalau Anda tidak akan membuat hubungan menjadi lebih beresiko. Bangunlah rasa kepercayaan diantara kita dan pasangan, karena point yang sebenarnya yang harus dijaga adalah hubungan yang tetap terjaga bukan? Tetapi bila sudah diberi pengertian dan pikiran-pikiran yang rasional kepada pasangan namun ia tetap saja tidak percaya sehingga rasa cemburunya menjadi semakin berlebihan, keras kepala, dan tidak rasional, maka jalan trakhir yang dapat kita lakukan adalah memutuskannya. Hehehee….
Begitu saja kok repot….
Pernah merasakan perasaan ini?
Tidak perlu malu untuk mengungkapkan rasa ini, karena setiap orang pasti pernah merasakannya meskipun tanpa disadari, terlebih ketika sedang menjalani hubungan dengan seseorang. Cemburu memang sering didefinisikan sebagai bentuk ketakutan akan kehilangan rasa sayang dari pasangan kita. Terkadang cemburu diperlukan sebagai petunjuk rasa sayang kita terhadap pasangan, namun tidak sedikit pula kalau cemburu yang berlebihan pun dapat membuat si pasangan menjadi terganggu.
Pernah ingat saat kita masih kanak-kanak? Saat melihat teman sepermainan kita lebih senang bermain dengan yang lain, kita merasa terabaikan. Atau saat beranjak dewasa, kita pernah dikhianati oleh sang kekasih sehingga alasan mengapa seseorang merasa cemburu adalah karena merasa takut kehilangan dan tidak aman, maka tidak heran bila timbul perasaan posesif terhadap si pasangan.
Lalu bagaimanakah menghadapi orang pencemburu? Yang pertama dapat dilakukan adalah kita tidak harus larut dalam situasi yang diciptakan oleh si pasangan. Kita dapat mengarahkan si pasangan untuk berfikir logis dan tetp tenang. Setelah ia mulai merasa rasional, baru berilah jamina kepadanya kalau Anda tidak akan membuat hubungan menjadi lebih beresiko. Bangunlah rasa kepercayaan diantara kita dan pasangan, karena point yang sebenarnya yang harus dijaga adalah hubungan yang tetap terjaga bukan? Tetapi bila sudah diberi pengertian dan pikiran-pikiran yang rasional kepada pasangan namun ia tetap saja tidak percaya sehingga rasa cemburunya menjadi semakin berlebihan, keras kepala, dan tidak rasional, maka jalan trakhir yang dapat kita lakukan adalah memutuskannya. Hehehee….
Begitu saja kok repot….
Thursday, May 15, 2008
Detik Demi Detik
Ini adalah kawan-kawan gue di kantor. Setahun lebih gue kerja di sini,tepatnya di PT Tiga Visi Utama, produknya berbentuk majalah yang fokus berbicara mengenai 'parenting', namanya inspired kids. lalu ada juga yang bergerak di bidang Event Organizer bernama Spinner dan terakhir yang sedang di garap adalah Inspired Living.
Foto ini diambil ketika gue berpamitan untuk resign. Sedih juga kalau inget saat itu,but mau gimana lagi, karena saat itu gue keterima di tempat lain. Sebetulnya di kantor ini gue nyaman bekerja, bagi gue gak ada masalah personal ama kru-kru nya, karena gue termasuk orang yang cuek ama orang lain. So, gue ga terpengaruh ama orang yang bawel, cerewet, tukang gosip, atau lainnya. Yang penting bagi gue, selama dia ga ganggu gue bekerja, gue sih 'sebodo' amat.
gue coba sebutin satu-satu personil Tiga Visi ini.
bagian depan dari kanan ke kiri: Mb' Lina, dia bekerja di bagian HRD. Selanjutnya Adis, awalnya dia bekerja sebagai out sources tapi sekarang sudah menjadi pegawai tetap di perbantukan di bagian Spinner (EO). dan terakhir adalah Mb' Wiwit, dia adalah GM nya kantor.
Bagai kedua dari kanan ke kiri: Mb' Mei, dia bekerja di bagian Inspired Living dan baru masuk kira-kira dua minggu. Selanjutnya,Mb' Maya, dia di bagian distribusi majalah. Lalu Mb' Yanis, bagian event and promotion. Berikutnya ada Gue, staff editor. Di belakangnya ada Mb' Natali, dia adalah senior marketing (sumpeh cerewet banget!)hehee. Sebelahnya Mb' Lina, dia staff editor dan sama-sama resign saat itu. Lalu ada Mb'Ike, dia adalah asisten chief editor (my soulmate), dan terakhir ada Mb'Revi, dia di bagian marketing.
Bagian ketiga dari kanan ke kiri (duh ga rapih banget si barisnya!): Tomi, dia adalah designer. Lalu agak jauhnya ada Christian, dia di bagian finance. dan di belakangnya ada Taufik, dia designer juga.
Bagian belakang dari kanan ke kiri: Mas Dody, dia adalah piar director Spinner. Selanjutnya Irwan, dia di bagian designer untuk spinner. Lalu ada Mas Oni, dia di bagian OB sekaligus kurir di kantor. Di bagian agak terpisah ada Mas Kukuh, dia adalah chief editor sekaligus 'ayah' bagi kami (gue doank kalee, hehee). dan yang terakhir ada Mas Irvan, dia membantu finance di bagian perpajakan.
sebetulnya masih ada lagi yang belum ada di foto itu, yakni Mb Meli, dia asissten editor. Lalu ada Mb' Ursula bagian event and promotion juga. Berikutnya ada Pak Hardi dan Pak Syarief, di bagian driver dan distribusi.
Mengapa gue bisa 'terdampar' di antara mereka-mereka itu begini ceritanya. Setahun yang lalu, tepatnya akhir maret 2007 gue lulus and menyandang gelar SE dari universitas lampung. Karena gue orangnya gak doyan 'diem', gue langsung lamar sana sini and salah satu lamarannya adalah ke kantor ini, melamar sebagai reporter. Gak nyampe satu bulan, kira-kira tiga minggu kemudian gue keterima di kantor ini (Tiga visi utama, red). Kebetulan saat kuliah dulu gue aktif di pers kampus. yah..meskipun ijasah ekonomi gue belum kepake, setidaknya ilmu gue di organisasi pers kampus dulu bisa gue gunain buat batu loncatan sebelum akhirnya gue mendapat kerjaan yang sesuai dengan ijasah atau emang udah disitu kali jalannya ;-)
Awal kerja di sini beda banget. Meskipun nyantai dan sudah terstruktur,tapi gue gak bisa nyepelein deadline begitu aja. Kalau gak, bisa-bisa ntu majalah gak terbit-terbit. Apalagi beda pemred, beda juga kondisinya.
Diawal-awal gue masuk, pimpinan gue seorang wanita 'perkasa'. Gue salut ama dia, namanya Mb Mia! dia termasuk orang yang gue kagumi and gue segenin, sampai akhirnya di akhir agustus 2007 dia digantikan dengan seorang pria yang sebelumnya pernah bekerja di majalah Gatra, namanya A Kukuh Karsadi, gue biasa memanggilnya mas Kukuh atau ayahkuh
Selanjutnya hari-hari gue terbiasa ama deadline, ketemu ama berbagai psikolog, dokter, pengamat pendidikan, sampai sekolah-sekolah elit di jakarta. Di sini juga gue belajar banyak tentang penyakit-penyakit yang baru gue kenal, masalah seputar keluarga, sampai masalah seputar kewanitaan , secara gue sering banget ketemu dokter kandungan. Oh ya, dari hasil liputan-liputan yang gue datengin, gue juga jadi sering ketemu artis, masuk hotel-hotel elite di jakarta and tentunya nyobain semua makanannya, heee... but its just refreshing for me, kalau suntuk di kantor, paling enak ya kalau ada liputan di hotel :))
yah.. begitulah. Pokoknya setahun gue bekerja di sini,banyak ilmu yang bisa gue ambil. meskipun mungkin dari beberapa ilmu itu belum bisa gue terapin sekarang, setidaknya saat gue sudah berkeluarga nanti, bisa gue terapin :)
i'm gonna miss u all
Thursday, April 24, 2008
Nongkrong? Yuukk
Kalau kebetulan sedang berjalan-jalan di Kota Bandarlampung, gak ada salahnya buat singgah sejenak di Waroeng Diggers. Waroeng yang umumnya didatangi oleh kaum muda-mudi ini bisa dibilang sebagai Cafe’ Hollywoodnya Lampung. Berada di bilangan Pahoman, Teluk Betung.
Beda ama café atau warung-warung lainnya yang pernah gue singgahi di Lampung. Selain menyajikan makanan dan minuman serta musik, baik live musik maupun setelan kaset, yang juga membuat menarik café ini adalah pemandangannya.
Letaknya yang berada di ketinggian membuat kita bisa melihat pemandangan yang ‘sumpeh’ keren banget. Di sana gue bisa lihat tiga pemandangan jadi satu, yakni gunung, kota, ama laut.
Foto ini diambil waktu gue ke Lampung dalam rangka beres-beres kosan. Kebetulan saat itu kosan gue belum diberesin, and banyak barang-barang yang mesti gue benahi.
Kembali ke waroeng Diggers. Menurut gue menu yang disajikan di waroeng ini terbilang biasa-biassa aja, alias standar. Karena yang datang ke sana kebanyakan kaum muda, nama-nama menu yang ditampilkan juga dibuat menarik, seperti ditambahin kata-kata merah delima, merah merona, dlll. Maklum gue gak terlalu hapal kalau ama nama-nama menu, yang penting makan….:D
Sesekali dalam seminggu waroeng ini menampilkan musik ‘live’ dari band-band local Lampung. Dan tempat duduk yang disediain juga ada tiga jenis, ada yang untuk keluarga, ada yang kayak saung “bambu’, dan ada yang di tengah-tengah lapangan tapi kalau hujan resikonya kebasahan, tapi kalau kebetulan cuaca cerah, wah…duduk di bagian ini lebih indah lagi pemandangannya. Apalagi kalau malam, lampu-lampu kota dan kapal laut kelihatan cantik banget.
Kebetulan foto ini gue ambil pada sore hari. Jadi ya begini jadinya…☺
Bisa jadi reference kalian kalau mau ngadain ultah and acara kongkow-kongkow bareng temen lama alias reunian.
Wednesday, April 23, 2008
in Memories
Hari ini gue chat ama Diova, dia salah satu sahabat sekaligus saudara gue. Di sela-sela obrolannya, dia kirim gambar hasil “racikan” nya, yang sebetulnya foto-foto di dalamnya diadopsi dari beberapa koleksi dia.
Hasilnya lumayan juga, dalam hati. Gue jadi inget masa-masa kuliah di Lampung. Mau tahu siapa aja yang ada di dalam foto itu? Ini dia….

Gambar atas, kiri ke kanan
Mayna, lengkapnya Mayna Satri. Cewe Lampung ini satu fakultas and satu jurusan ama gue di Unila, yakni Ekonomi Pembangunan. Sekarang ini dia hijrah ke Jakarta, mencoba mengadu nasib dengan bekerja di salah satu perusahaan Advertising di bilangan Tebet. Kalau ama dia, gue masih sering berhubungan, baik by phone maupun ketemu langsung, maklum jarak tempat tinggal dia yang di Pasar Minggu juga gak terlalu jauh dari kosan gue di bilangan Benhil.
Heni, cewe yang mempunyai nama lengkap Heni Fujiastuti ini lebih dikenal dengan sebutan Qynoz. Makanya Diova tulis nama dia di gambar itu dengan panggilan “Qynoz”. Asal dia dari desa Petir, Serang, satu kota ama gue tapi beda desa ☺. Udah lama juga gue gak bersua ama dia. Terakhir gue dapat kebar, cewe bertubuh mungil ini jadi dosen di Universitas Tirtayasa Banten sambil menjalani kuliah S2nya di UPI Bandung.
Diova, atau lebih lengkapnya Diova Laviria Alfirazi. Cewe turunan Palembang ini emang paling beda ama kita yang laennya. Terutama dengan gue, beberapa kali cara pikir gue selalu ‘beda’ ama cewe lulusan ilmu pendidikan bimbingan konseling ini. Tapi itulah pertemanan, dengan perbedaan semuanya menjadi indah. Sekarang ini dia aktif di MQ radio sebagai penyiar. Kalau tidak salah dia siaran setiap minggu and kamis, dan katanya juga sekarang sudah bisa didengar dengan hanya membuka situs MQ, mqfmlampung.listen2myradio.com. waduh…kok jadi ajang promosi ya :D
Nah yang terakhir itu gue. Sama dengan Mayna, gue yang asli Serang-Sunda ini juga berhijrah ke Jakarta, bekerja di salah satu media yang fokus berbicara seputar keluarga. Jadi maklum kalau sebagian isi blog ini isinya seputar keluargaa, khususnya pasangan suami istri ☺
Oh ya, ntah sejak kapan dan karena apa, sekarang ini kalau kita berempat berkomunikasi selalu menggunakan kata-kata “jeung”. Kok jadi kayak ibu-ibu arisan yak? Hehehehe.. but its fine…
Gambar tengah, kiri ke kanan
Keterangannya sama ama gambar di atas, tapi urutannya yang berbeda. Pertama Diova, gue, Mayna, and Heni alias Qynoz. Cuma foto gue kok kecil banget yak? Wah…agak-agak kecewa nih. But its ok, yang penting masih ada meskipun nyelip :D
Gambar bawah, kiri ke kanan
Ini adalah keluarga teknokra angkatan 24. Meskipun gak lengkap, tapi sebagian besar hadir saat pertemuan sore itu. Foto ini diambil di Pantai Mutun, Teluk Betung pada medio July 2006. Atas ide Iduy, dia taro kamera “curian” di atas karang and nyuruh kita buat angkat kaki sebelah. Alhasil, jepretannya pun gak bagus-bagus banget, coz kita semua gak tahan kepengen ketawa ngakak, hehehee…
Siapa mereka? Ini dia….
Iduy, Cowok ceking ini bernama lengkap Yudi Nopriansyah and orang LA alias Lampung Asli, tapi dia selalu mengaku kalau ada darah sunda mengalir di dalam tubuhnya. Kabar terakhir yang gue dengar, sekarang ini dia bersama teman-temannya aktif dalam kegiatan program pemerintah “nikah masal”. Meskipun aktif dimana-mana, mulai dari percetakan ampe nikahin orang, cuma yang disayangkan dari cowo berwajah preman namun anak mami ini, dia kurang perhatian ama kuliahnya. Jadi ampe sekarang dia masih ‘betah’ tinggal di kampus :D
Diova, keterangan sama ama yang gambar atas. Cuma gue tambahin, dia ini kalau ketawa suka merem, jadi paling seneng kita ledekin terutama ama gue, hehehe…
Mayna, sama ama keterangan gambar atas. Gue tambahin dikit, dia juga kalau ketawa terutama untuk hal-hal yang dianggap paling ‘lucu’ banget, ekspresinya suka merem kayak Diova. Tapi kalau gue bilang sih lebih mirip kayak orang lagi sakit perut kali ya, hahaha…
Qynoz, sama halnya dengan keterangan gambar atas. Sedikit gue tambahin juga, karena diantara kita dia yang mempunyai mata paling sipit alias ‘segaris’ jadi wajar kalau saat dia ketawa, kadang-kadang suka kita tinggalin, wkwkwkwk…
Dwi, cowo LA alias Lampung Asli ini nama lengkapnya gue lupa. Padahal dulu sering banget kita sebutin, karena saat itu di Teknokra ada dua orang yang namanya Dwi. Cuma sekarang dia lebih sering dipanggil dengan sebutan Dwi ‘Ayam’. Karena Cowo mellow ini pernah berjualan ayam potong untuk menghidupi adik-adiknya. Namun meskipun perjuangan dia di teknokra gak sampe selesai, tapi kita masih sering bareng. Terakhir gue tau kabarnya, dia menjadi pegawai di Kota Bumi, Lampung Utara tempat ia dilahirkan. Di unila dia kuliah ambil dua jurusan, D3 and S1.
Gue, kayaknya udah sering deh ngebahas tentang gue. Lengkapnya ada di blog profile ‘about me’ :D.
Diaji, sama halnya dengan Dwi, cowo Palembang ini pun tidak sampai selesai berjuang di Teknokra. Cuma karena dia masih rajin ke kampus, jadi masih sering maen and ketemu ama kita-kita di Teknokra. Meskipun gak sampai menjadi pengurus di Teknokra, namun ilmu kuliahnya di jurusan komunikasi menjadi semangat buat dia untuk jadi wartawan. Sekarang dia bekerja sebagai reporter di media groupnya Jawa Pos di Lampung.
Erik. Wong Kito Galoh ini punya nama lengkap Erik Khafif Mukti. Cowo ‘Hacker’ ini paling demen di depan komputer, apalagi ngoprak ngaprik website, dia paling jago banget. Sama halnya dengan Iduy, cowo tinggi sekaligus kerempeng ini juga aktif di mana-mana, tapi satu hal yang gak keliatan aktifnya, yakni ngurusin kuliahnya di fakultas ISIP jurusan komunikasi. Sekarang dia sibuk ama urusan pemberitaan Unila via website, jadi kalau pernah buka situsnya Unila.ac.id, rata-rata news yang ada di dalamnya itu buatan dia.
Sebetulnya masih ada beberapa temen angkatan 24 lainnya yang masih sering berhubungan dengan gue, meskipun hanya by YM alias chattingan, yaitu Dede Darmawan and Haji Munawaroh. Sayang keduanya waktu acara medio July itu tidak bisa ikut, karena saat itu Dede sibuk bekerja and Haji tidak ada di kosannya. Saat ini Dede atau cowok bergondrong gak jelas ini bekerja sebagai artistic di media Indonesia group di Lampung, dan Haji baru saja mendapat gelar sarjana hukumnya Maret 2008 silam.
Kalau liat-liat foto seperti ini, gue jadi teringat masa-masa di Lampung. Inget senang-susahnya tapi tetap kumpul-kumpul dengan mereka. Meskipun gue di sana merantau and gak punya sanak saudara, tapi dengan adanya mereka, kehidupan gue selalu ada yang mengisi.
Friends forever….
I love you all…..
Hasilnya lumayan juga, dalam hati. Gue jadi inget masa-masa kuliah di Lampung. Mau tahu siapa aja yang ada di dalam foto itu? Ini dia….

Gambar atas, kiri ke kanan
Mayna, lengkapnya Mayna Satri. Cewe Lampung ini satu fakultas and satu jurusan ama gue di Unila, yakni Ekonomi Pembangunan. Sekarang ini dia hijrah ke Jakarta, mencoba mengadu nasib dengan bekerja di salah satu perusahaan Advertising di bilangan Tebet. Kalau ama dia, gue masih sering berhubungan, baik by phone maupun ketemu langsung, maklum jarak tempat tinggal dia yang di Pasar Minggu juga gak terlalu jauh dari kosan gue di bilangan Benhil.
Heni, cewe yang mempunyai nama lengkap Heni Fujiastuti ini lebih dikenal dengan sebutan Qynoz. Makanya Diova tulis nama dia di gambar itu dengan panggilan “Qynoz”. Asal dia dari desa Petir, Serang, satu kota ama gue tapi beda desa ☺. Udah lama juga gue gak bersua ama dia. Terakhir gue dapat kebar, cewe bertubuh mungil ini jadi dosen di Universitas Tirtayasa Banten sambil menjalani kuliah S2nya di UPI Bandung.
Diova, atau lebih lengkapnya Diova Laviria Alfirazi. Cewe turunan Palembang ini emang paling beda ama kita yang laennya. Terutama dengan gue, beberapa kali cara pikir gue selalu ‘beda’ ama cewe lulusan ilmu pendidikan bimbingan konseling ini. Tapi itulah pertemanan, dengan perbedaan semuanya menjadi indah. Sekarang ini dia aktif di MQ radio sebagai penyiar. Kalau tidak salah dia siaran setiap minggu and kamis, dan katanya juga sekarang sudah bisa didengar dengan hanya membuka situs MQ, mqfmlampung.listen2myradio.com. waduh…kok jadi ajang promosi ya :D
Nah yang terakhir itu gue. Sama dengan Mayna, gue yang asli Serang-Sunda ini juga berhijrah ke Jakarta, bekerja di salah satu media yang fokus berbicara seputar keluarga. Jadi maklum kalau sebagian isi blog ini isinya seputar keluargaa, khususnya pasangan suami istri ☺
Oh ya, ntah sejak kapan dan karena apa, sekarang ini kalau kita berempat berkomunikasi selalu menggunakan kata-kata “jeung”. Kok jadi kayak ibu-ibu arisan yak? Hehehehe.. but its fine…
Gambar tengah, kiri ke kanan
Keterangannya sama ama gambar di atas, tapi urutannya yang berbeda. Pertama Diova, gue, Mayna, and Heni alias Qynoz. Cuma foto gue kok kecil banget yak? Wah…agak-agak kecewa nih. But its ok, yang penting masih ada meskipun nyelip :D
Gambar bawah, kiri ke kanan
Ini adalah keluarga teknokra angkatan 24. Meskipun gak lengkap, tapi sebagian besar hadir saat pertemuan sore itu. Foto ini diambil di Pantai Mutun, Teluk Betung pada medio July 2006. Atas ide Iduy, dia taro kamera “curian” di atas karang and nyuruh kita buat angkat kaki sebelah. Alhasil, jepretannya pun gak bagus-bagus banget, coz kita semua gak tahan kepengen ketawa ngakak, hehehee…
Siapa mereka? Ini dia….
Iduy, Cowok ceking ini bernama lengkap Yudi Nopriansyah and orang LA alias Lampung Asli, tapi dia selalu mengaku kalau ada darah sunda mengalir di dalam tubuhnya. Kabar terakhir yang gue dengar, sekarang ini dia bersama teman-temannya aktif dalam kegiatan program pemerintah “nikah masal”. Meskipun aktif dimana-mana, mulai dari percetakan ampe nikahin orang, cuma yang disayangkan dari cowo berwajah preman namun anak mami ini, dia kurang perhatian ama kuliahnya. Jadi ampe sekarang dia masih ‘betah’ tinggal di kampus :D
Diova, keterangan sama ama yang gambar atas. Cuma gue tambahin, dia ini kalau ketawa suka merem, jadi paling seneng kita ledekin terutama ama gue, hehehe…
Mayna, sama ama keterangan gambar atas. Gue tambahin dikit, dia juga kalau ketawa terutama untuk hal-hal yang dianggap paling ‘lucu’ banget, ekspresinya suka merem kayak Diova. Tapi kalau gue bilang sih lebih mirip kayak orang lagi sakit perut kali ya, hahaha…
Qynoz, sama halnya dengan keterangan gambar atas. Sedikit gue tambahin juga, karena diantara kita dia yang mempunyai mata paling sipit alias ‘segaris’ jadi wajar kalau saat dia ketawa, kadang-kadang suka kita tinggalin, wkwkwkwk…
Dwi, cowo LA alias Lampung Asli ini nama lengkapnya gue lupa. Padahal dulu sering banget kita sebutin, karena saat itu di Teknokra ada dua orang yang namanya Dwi. Cuma sekarang dia lebih sering dipanggil dengan sebutan Dwi ‘Ayam’. Karena Cowo mellow ini pernah berjualan ayam potong untuk menghidupi adik-adiknya. Namun meskipun perjuangan dia di teknokra gak sampe selesai, tapi kita masih sering bareng. Terakhir gue tau kabarnya, dia menjadi pegawai di Kota Bumi, Lampung Utara tempat ia dilahirkan. Di unila dia kuliah ambil dua jurusan, D3 and S1.
Gue, kayaknya udah sering deh ngebahas tentang gue. Lengkapnya ada di blog profile ‘about me’ :D.
Diaji, sama halnya dengan Dwi, cowo Palembang ini pun tidak sampai selesai berjuang di Teknokra. Cuma karena dia masih rajin ke kampus, jadi masih sering maen and ketemu ama kita-kita di Teknokra. Meskipun gak sampai menjadi pengurus di Teknokra, namun ilmu kuliahnya di jurusan komunikasi menjadi semangat buat dia untuk jadi wartawan. Sekarang dia bekerja sebagai reporter di media groupnya Jawa Pos di Lampung.
Erik. Wong Kito Galoh ini punya nama lengkap Erik Khafif Mukti. Cowo ‘Hacker’ ini paling demen di depan komputer, apalagi ngoprak ngaprik website, dia paling jago banget. Sama halnya dengan Iduy, cowo tinggi sekaligus kerempeng ini juga aktif di mana-mana, tapi satu hal yang gak keliatan aktifnya, yakni ngurusin kuliahnya di fakultas ISIP jurusan komunikasi. Sekarang dia sibuk ama urusan pemberitaan Unila via website, jadi kalau pernah buka situsnya Unila.ac.id, rata-rata news yang ada di dalamnya itu buatan dia.
Sebetulnya masih ada beberapa temen angkatan 24 lainnya yang masih sering berhubungan dengan gue, meskipun hanya by YM alias chattingan, yaitu Dede Darmawan and Haji Munawaroh. Sayang keduanya waktu acara medio July itu tidak bisa ikut, karena saat itu Dede sibuk bekerja and Haji tidak ada di kosannya. Saat ini Dede atau cowok bergondrong gak jelas ini bekerja sebagai artistic di media Indonesia group di Lampung, dan Haji baru saja mendapat gelar sarjana hukumnya Maret 2008 silam.
Kalau liat-liat foto seperti ini, gue jadi teringat masa-masa di Lampung. Inget senang-susahnya tapi tetap kumpul-kumpul dengan mereka. Meskipun gue di sana merantau and gak punya sanak saudara, tapi dengan adanya mereka, kehidupan gue selalu ada yang mengisi.
Friends forever….
I love you all…..
Friday, February 08, 2008
Ekspresi Kasih Sayang, Kenapa diperlukan?
Bagaimana cara mengekspresikan rasa sayang Anda pada pasangan ketika gairah cinta sudah hilang atau pudar? Ada yang mengatakan lewat bunga, coklat, materi, hingga kata-kata indah. Masih perlukah hal itu dilakukan meskipun sudah menikah?
Romantisme merupakan hal yang penting dalam hubungan cinta-kasih setiap pasangan yang menikah. Hilangnya romantisme biasanya juga ditandai dengan berkurangnya aktivitas keluarga yang sebelumnya sering dilakukan secara bersama-sama. Mulai hal-hal sepele, seperti berbelanja kebutuhan bulanan, olahraga bareng, hingga kegiatan yang perlu dipersiapkan, seperti berlibur ke luar kota, makan malam berdua di tempat romantis, dan sebagainya. Sementara ini, banyak hal yang dapat menyebabkan memudarnya gairah romantisme pasanga suami istri, seiring berjalannya waktu.
Biasanya rutinitas sehari-hari yang membosankan, sibuk bekerja, komunikasi, dan intensitas bertemu yang kurang bisa menyebabkan romantis dalam keluarga menjadi hilang. Kebanyakan hilangnya rasa itu terjadi pada usia perkawinan madya (15 tahunan).
Dari berbagai faktor yang ada, faktor rutinitas, dan ketidakpedulian untuk mengantisipasi hilangnya romantisme dengan berbagai variasi hubungan, merupakan penyebab utama hilangnya gairah romantisme pada suatu pasangan. Terjadinya perubahan peran pada setiap pasangan, juga bisa menyebabkan memudarnya romantisme.
Pada awal perkawinan orientasi sebuah pasangan menikah adalah menjadi suami istri, dimana orientasi hubungan mereka lebih kepada pemenuhan kebutuhan kedua belah pihak. Namun setelah punya anak, status mereka berubah menjadi orangtua, dimana orientasi hubungan mereka kemudian berubah terutama kepada kebutuhan anak. Di saat inilah, sebuah pasangan sibuk dengan tugasnya masing-masing, misalnya seorang istri berubah menjadi figur ibu yang harus mengurus anak, lalu suami berubah figur menjadi seorang ayah yang harus bekerja keras.
Rutinitas mengurus anak dan bekerja ini yang menjadi kebiasaan, sehingga tidak ada waktu untuk bagi pasangan duduk berdua, karena terlampau capek atau takut meninggalkan anak. Ketika anak-anak sudah besar pasangan ini berubah kembali menjadi suami istri. Tapi pada saat itu, biasanya mereka sudah tidak bisa lagi mengekspresikan rasa sayangnya, sehingga romantisme itu menjadi hilang dan pudar.
Mengapa gairah itu perlu ada?
Setiap pasangan haruslah menjaga nyala api romantisme mereka, untuk membangun sensasi yang mungkin sedang mengalami penurunan. Terjadinya perubahan pola dari suami-istri menjadi ayah-ibu, lalu kembali lagi menjadi suami-istri inilah yang menyebabkan pola kepribadian seseorang menjadi berubah. Biasanya seorang istri lebih merasakan gejala ekspresi sayang atau romentisme itu hilang dari pasangannya, karena wanita lebih sensitif dan emosional. Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan timbul permasalahan lainnya yang bisa menyebabkan keluarga menjadi tidak harmonis. Pudarnya nyala api romantisme bukan hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada anak dan anggota keluarga lainnya.
Untuk menjaga romantisme hubungan suami istri ini bukan hanya membutuhkan intensitas bertemu, namun juga memerlukan intensitas komunikasi yang baik. Di jaman modern seperti saat ini, meskipun tidak bertemu, tetapi tetap bisa dilakukan komunikasi seperti lewat e-mail, SMS, dan lain-lain. Sehingga hubungan cinta pun selalu segar.
Kondisi bisa saja berubah dan mengalami mood yang turun naik, tetapi ekspresi sayang tetap harus ada pada setiap pasangan agar pasangan tidak pernah merasa kehilangan rasa sayangnya.
Mengembalikan gairah cinta pada pasangan
Jangan takut untuk meninggalkan anak hanya untuk makan berdua dengan pasangan, atau jangan malu untuk berkata ”i love u” pada pasangan setiap ia bangun tidur. Karena biasanya kita menjadi malas untuk mengungkapkan atau mengekspresikan rasa sayang jika sudah lama tidak melakukannya. Seperti duduk berdua di depan TV, berdiskusi, dan sebagainya.
Namun dari itu semua yang penting adalah motivasi dari setiap pasangan untuk mengembalikan romantisme itu. Karena arti romantisme itu sendiri berbeda-beda bagi setiap pasangan, ada yang perlu dengan benda atau materi namun ada juga yang hanya dengan kata-kata. Karena bila si pasangan terbiasa mengartikan romantis itu dengan memberikan suatu benda, maka pelukan dan pasangan dari pasangannya tidak akan berasa. Sehingga, dibutuhkan komitmen dan motivasi bersama-sama antar pasangan. Jadi setiap pasangan harus saling membantu untuk merasakan kembali betapa cinta yang pernah tumbuh itu begitu menyenangkan untuk dinikmati dan direguk kembali. Sedangkan untuk mengatasinya, sebaiknya pasangan memiliki cara yang dapat membangkitkan kembali gairah yang sudah menurun tersebut dengan bervariasi.
Tips:
Munculkan Kembali Yang Pernah Ada
Untuk membangkitkan gairah romantis, tak harus mengeluarkan banyak uang. Bahkan sebenarnya Anda dapat membangkitkan romantisme tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra. Cobalah kembangkan imajinasi Anda, dan bayangkan hal-hal apa saja yang dapat membuat Anda dan pasangan Anda merasakan ungkapan sayang yang sudah lama tak terekspresikan.
1. Pergi berkencan
Tidak hanya saat berpacaran saja Anda mengajak pasangan untuk berkencan, setelah menikah pun Anda perlu sesekali mengajak pasangan Anda berkencan. Tapi sayangnya, kencan berdua ini justru jarang dilakukan oleh pasangan yang telah menikah. Anda bisa mengajaknya ke tempat-tempat tertentu yang menurut Anda akan dapat membuat Anda berdua merasa nyaman dan dan menyenangkan.
2. Menulis surat cinta
Saat Anda berpacaran tentu pernah menulis surat cinta pada si Dia. Kini meskipun sudah berumah tangga, tidak ada salahnya Anda kembali menulis surat cinta, atau sekedar menulis kata ”Aku sayang kamu” pada secarik kertas. Anda dapat menyimpannya di meja kerja, di dalam mobilnya, dan sebagainya. Yakinlah, ketika pasangan Anda melihat dan membukanya, ia akan merasa kalau Anda masih seperti yang dulu, saat pertama kali membina hubungan. Akan lebih baik, bila surat tersebut Anda susun dengan tulisan tangan Anda sendiri. Teknik seperti ini, menurut penulis Mars and Venus in The Bedroom, Jonh Gray Ph D, baik digunakan meski saat Anda sedang berjauhan maupun berdekatan dengan pasangan Anda.
3. Membuat kartu ucapan
Jika Anda sering membeli kartu ucapan untuk menyampaikan selamat ulangtahun, misalnya, kepada pasangan Anda, kini cobalah Anda membuat kartu ucapan cinta dengan tangan Anda sendiri. Tak penting apakah kartu ucapan itu bagus atau tidak, namun kesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Anda ingin mempersembahkan hasil karya Anda pada pasangan. Dengan cara ini, pasti ia akan lebih terkesan bahwa Anda telah berusaha untuk menyampaikan isi hati Anda padanya.
4. Bermain Games
Siapa bilang bermain games hanya untuk anak kecil. Jika sebelumnya Anda sering bermain games dengan anak-anak, kini ajaklah pasangan Anda untuk melakukan hal serupa. Bersenda gurau dengan pasangan bisa mengembalikan gairah cinta yang hilang. Kegiatan ini bisa menghilangkan rutinitas yang membosankan dan menghilangkan sejenak kepenatan Anda dan pasangan.
5. SMS si dia
Teknologi bisa mendukung Anda untuk membangkitkan kembali gairah cinta yang hilang atau telah pudar. Jika Anda malu atau sungkan untuk mengucapkan ”I love you” secara langsung, berikan kata-kata romantis lewat SMS pada pasangan Anda. Pilih waktu yang kira-kira ia sedang tak disibukkan oleh urusan pekerjaan. Misalnya, pada saat jam makan siang kantor, menanyakan kabar, atau sekedar menulis kata ”i love you”, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini, akan membuat pasangan Anda merasa diperhatikan oleh Anda.
6. Say with flower
Ungkapan ini tentu sudah tidak asing. Meskipun terkesan gombal, namun kebanyakan wanita menyukai bunga. Tidak perlu dengan rangkaian bunga yang besar, cukup setangkai bunga yang diselipkan atau disematkan di tempat-tempat yang pasti akan ia singgahi untuk keperluan tertentu. Misalnya, meja rias, meja kerja, lemari pakaian, buku yang sedang ia baca, tas kerja, dan sebagainya. Atau berikan setangkai bunga mawar pada pasangan Anda di saat makan malam, di saat akan tidur atau di saat ia bangun tidur. Lalu tulis kalimat yang bisa membangkitkan gairah cintanya, seperti ”kamu adalah milikku malam ini” atau kalimat cinta lainnya dalam guntingan kertas dan berbentuk hati.
7. Nonton film romantis
Jika khawatir meninggalkan si kecil untuk pergi keluar untuk pergi menonton ke bioskop, Anda bisa melakukannya dengan cara lain. Ajak pasangan Anda duduk berdampingan di rumah sambil menonton film-film romantis. Terutama film-film yang pernah Anda tonton berdua ketika berpacaran dulu, atau film dengan adegan-adegan maupun jalan cerita yang dapat mengingatkan Anda berdua, pada masa-masa berpacaran dulu.
8. Mendengarkan musik
Musik bisa mempengaruhi suasana. Melalui musik dan lagu Anda pun bisa membangkitkan suasana romantis. Ajak pasangan Anda duduk berdua sambil mendengarkan musik-musik romantis, atau lagu-lagu yang bisa membawa Anda berdua kembali ke masa lalu nan syahdu.
9. Masak berdua
Romantis tidak harus dengan memberikan materi atau benda pada pasangan. Memasak bersama pasangan pun dapat membangkitkan kembali gairah cinta yang memudar. Cari resep masakan favorit Anda berdua, dan pilih waktu yang longgar untuk mencoba memasaknya bersama-sama. Apa pun hasilnya, mencoba membuat sesuatu secara bersama-sama akan terasa lebih fun dan menantang. Kebersamaan Anda dengan pasangan pada saat memasak, ekspresi sayang pasti akan tumbuh kembali. Karena menikmati kebersamaan dengan pasangan merupakan kesempatan yang harus selalu disediakan.
10. Beri kejutan
Beri kejutan di hari spesial pasangan Anda, misalnya pada saat ia ulang tahun atau merayakan hari pernikahan. Tidak perlu memberi hadiah atau kado yang mahal, yang penting dapat memberi kesan bahwa apa yang Anda lakukan bertujuan untuk membahagiakannya dan menunjukkan perhatian Anda padanya. Misalnya memasak makanan kesukaannya, memijat pundak dan lengannyanya sepulang kerja, dan lain-lain.
11. Bernostalgia ke tempat-tempat ”bersejarah”
Ketika Anda berpacaran dulu pasti ada tempat-tempat yang berkesan yang pernah Anda kunjungi berdua. Tidak ada salahnya Anda berdua mengunjungi kembali tempat tersebut. Anda juga bisa memilih tempat yang ”bersejarah” bagi Anda berdua, yang bisa membangkitkan romantisme dan bahkan memunculkan kembali kenangan masa lalu saat masih berpacaran. Misalnya, saat Anda pertama kali berkencan dengannya, saat valentine teromantis yang pernah Anda alami berdua, dan sebagainya.
12. Mengubah penampilan
Mengubah penampilan Anda sehari-hari, juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk membangkitkan romantisme pasangan. Boleh jadi, penampilan yang ”begitu-begitu” tidak akan membuatnya bereaksi terhadap kata-kata romantis yang Anda tuturkan. Cobalah untuk bereksperimen, namun jangan terlalu berlebihan, yang penting dia menangkap kesan adanya perubahan pada diri Anda. Misalnya Anda mengubah potongan rambut dan berpakaian sederhana namun seksi, lalu berikan ciuman dan peluk hangat pada pasangan Anda, dan katakan kalau perubahan ini untuknya.
Romantisme merupakan hal yang penting dalam hubungan cinta-kasih setiap pasangan yang menikah. Hilangnya romantisme biasanya juga ditandai dengan berkurangnya aktivitas keluarga yang sebelumnya sering dilakukan secara bersama-sama. Mulai hal-hal sepele, seperti berbelanja kebutuhan bulanan, olahraga bareng, hingga kegiatan yang perlu dipersiapkan, seperti berlibur ke luar kota, makan malam berdua di tempat romantis, dan sebagainya. Sementara ini, banyak hal yang dapat menyebabkan memudarnya gairah romantisme pasanga suami istri, seiring berjalannya waktu.
Biasanya rutinitas sehari-hari yang membosankan, sibuk bekerja, komunikasi, dan intensitas bertemu yang kurang bisa menyebabkan romantis dalam keluarga menjadi hilang. Kebanyakan hilangnya rasa itu terjadi pada usia perkawinan madya (15 tahunan).
Dari berbagai faktor yang ada, faktor rutinitas, dan ketidakpedulian untuk mengantisipasi hilangnya romantisme dengan berbagai variasi hubungan, merupakan penyebab utama hilangnya gairah romantisme pada suatu pasangan. Terjadinya perubahan peran pada setiap pasangan, juga bisa menyebabkan memudarnya romantisme.
Pada awal perkawinan orientasi sebuah pasangan menikah adalah menjadi suami istri, dimana orientasi hubungan mereka lebih kepada pemenuhan kebutuhan kedua belah pihak. Namun setelah punya anak, status mereka berubah menjadi orangtua, dimana orientasi hubungan mereka kemudian berubah terutama kepada kebutuhan anak. Di saat inilah, sebuah pasangan sibuk dengan tugasnya masing-masing, misalnya seorang istri berubah menjadi figur ibu yang harus mengurus anak, lalu suami berubah figur menjadi seorang ayah yang harus bekerja keras.
Rutinitas mengurus anak dan bekerja ini yang menjadi kebiasaan, sehingga tidak ada waktu untuk bagi pasangan duduk berdua, karena terlampau capek atau takut meninggalkan anak. Ketika anak-anak sudah besar pasangan ini berubah kembali menjadi suami istri. Tapi pada saat itu, biasanya mereka sudah tidak bisa lagi mengekspresikan rasa sayangnya, sehingga romantisme itu menjadi hilang dan pudar.
Mengapa gairah itu perlu ada?
Setiap pasangan haruslah menjaga nyala api romantisme mereka, untuk membangun sensasi yang mungkin sedang mengalami penurunan. Terjadinya perubahan pola dari suami-istri menjadi ayah-ibu, lalu kembali lagi menjadi suami-istri inilah yang menyebabkan pola kepribadian seseorang menjadi berubah. Biasanya seorang istri lebih merasakan gejala ekspresi sayang atau romentisme itu hilang dari pasangannya, karena wanita lebih sensitif dan emosional. Jika kondisi ini dibiarkan, maka akan timbul permasalahan lainnya yang bisa menyebabkan keluarga menjadi tidak harmonis. Pudarnya nyala api romantisme bukan hanya berdampak pada pasangan, tetapi juga pada anak dan anggota keluarga lainnya.
Untuk menjaga romantisme hubungan suami istri ini bukan hanya membutuhkan intensitas bertemu, namun juga memerlukan intensitas komunikasi yang baik. Di jaman modern seperti saat ini, meskipun tidak bertemu, tetapi tetap bisa dilakukan komunikasi seperti lewat e-mail, SMS, dan lain-lain. Sehingga hubungan cinta pun selalu segar.
Kondisi bisa saja berubah dan mengalami mood yang turun naik, tetapi ekspresi sayang tetap harus ada pada setiap pasangan agar pasangan tidak pernah merasa kehilangan rasa sayangnya.
Mengembalikan gairah cinta pada pasangan
Jangan takut untuk meninggalkan anak hanya untuk makan berdua dengan pasangan, atau jangan malu untuk berkata ”i love u” pada pasangan setiap ia bangun tidur. Karena biasanya kita menjadi malas untuk mengungkapkan atau mengekspresikan rasa sayang jika sudah lama tidak melakukannya. Seperti duduk berdua di depan TV, berdiskusi, dan sebagainya.
Namun dari itu semua yang penting adalah motivasi dari setiap pasangan untuk mengembalikan romantisme itu. Karena arti romantisme itu sendiri berbeda-beda bagi setiap pasangan, ada yang perlu dengan benda atau materi namun ada juga yang hanya dengan kata-kata. Karena bila si pasangan terbiasa mengartikan romantis itu dengan memberikan suatu benda, maka pelukan dan pasangan dari pasangannya tidak akan berasa. Sehingga, dibutuhkan komitmen dan motivasi bersama-sama antar pasangan. Jadi setiap pasangan harus saling membantu untuk merasakan kembali betapa cinta yang pernah tumbuh itu begitu menyenangkan untuk dinikmati dan direguk kembali. Sedangkan untuk mengatasinya, sebaiknya pasangan memiliki cara yang dapat membangkitkan kembali gairah yang sudah menurun tersebut dengan bervariasi.
Tips:
Munculkan Kembali Yang Pernah Ada
Untuk membangkitkan gairah romantis, tak harus mengeluarkan banyak uang. Bahkan sebenarnya Anda dapat membangkitkan romantisme tanpa harus mengeluarkan biaya ekstra. Cobalah kembangkan imajinasi Anda, dan bayangkan hal-hal apa saja yang dapat membuat Anda dan pasangan Anda merasakan ungkapan sayang yang sudah lama tak terekspresikan.
1. Pergi berkencan
Tidak hanya saat berpacaran saja Anda mengajak pasangan untuk berkencan, setelah menikah pun Anda perlu sesekali mengajak pasangan Anda berkencan. Tapi sayangnya, kencan berdua ini justru jarang dilakukan oleh pasangan yang telah menikah. Anda bisa mengajaknya ke tempat-tempat tertentu yang menurut Anda akan dapat membuat Anda berdua merasa nyaman dan dan menyenangkan.
2. Menulis surat cinta
Saat Anda berpacaran tentu pernah menulis surat cinta pada si Dia. Kini meskipun sudah berumah tangga, tidak ada salahnya Anda kembali menulis surat cinta, atau sekedar menulis kata ”Aku sayang kamu” pada secarik kertas. Anda dapat menyimpannya di meja kerja, di dalam mobilnya, dan sebagainya. Yakinlah, ketika pasangan Anda melihat dan membukanya, ia akan merasa kalau Anda masih seperti yang dulu, saat pertama kali membina hubungan. Akan lebih baik, bila surat tersebut Anda susun dengan tulisan tangan Anda sendiri. Teknik seperti ini, menurut penulis Mars and Venus in The Bedroom, Jonh Gray Ph D, baik digunakan meski saat Anda sedang berjauhan maupun berdekatan dengan pasangan Anda.
3. Membuat kartu ucapan
Jika Anda sering membeli kartu ucapan untuk menyampaikan selamat ulangtahun, misalnya, kepada pasangan Anda, kini cobalah Anda membuat kartu ucapan cinta dengan tangan Anda sendiri. Tak penting apakah kartu ucapan itu bagus atau tidak, namun kesan yang ingin disampaikan adalah bahwa Anda ingin mempersembahkan hasil karya Anda pada pasangan. Dengan cara ini, pasti ia akan lebih terkesan bahwa Anda telah berusaha untuk menyampaikan isi hati Anda padanya.
4. Bermain Games
Siapa bilang bermain games hanya untuk anak kecil. Jika sebelumnya Anda sering bermain games dengan anak-anak, kini ajaklah pasangan Anda untuk melakukan hal serupa. Bersenda gurau dengan pasangan bisa mengembalikan gairah cinta yang hilang. Kegiatan ini bisa menghilangkan rutinitas yang membosankan dan menghilangkan sejenak kepenatan Anda dan pasangan.
5. SMS si dia
Teknologi bisa mendukung Anda untuk membangkitkan kembali gairah cinta yang hilang atau telah pudar. Jika Anda malu atau sungkan untuk mengucapkan ”I love you” secara langsung, berikan kata-kata romantis lewat SMS pada pasangan Anda. Pilih waktu yang kira-kira ia sedang tak disibukkan oleh urusan pekerjaan. Misalnya, pada saat jam makan siang kantor, menanyakan kabar, atau sekedar menulis kata ”i love you”, dan sebagainya. Hal-hal seperti ini, akan membuat pasangan Anda merasa diperhatikan oleh Anda.
6. Say with flower
Ungkapan ini tentu sudah tidak asing. Meskipun terkesan gombal, namun kebanyakan wanita menyukai bunga. Tidak perlu dengan rangkaian bunga yang besar, cukup setangkai bunga yang diselipkan atau disematkan di tempat-tempat yang pasti akan ia singgahi untuk keperluan tertentu. Misalnya, meja rias, meja kerja, lemari pakaian, buku yang sedang ia baca, tas kerja, dan sebagainya. Atau berikan setangkai bunga mawar pada pasangan Anda di saat makan malam, di saat akan tidur atau di saat ia bangun tidur. Lalu tulis kalimat yang bisa membangkitkan gairah cintanya, seperti ”kamu adalah milikku malam ini” atau kalimat cinta lainnya dalam guntingan kertas dan berbentuk hati.
7. Nonton film romantis
Jika khawatir meninggalkan si kecil untuk pergi keluar untuk pergi menonton ke bioskop, Anda bisa melakukannya dengan cara lain. Ajak pasangan Anda duduk berdampingan di rumah sambil menonton film-film romantis. Terutama film-film yang pernah Anda tonton berdua ketika berpacaran dulu, atau film dengan adegan-adegan maupun jalan cerita yang dapat mengingatkan Anda berdua, pada masa-masa berpacaran dulu.
8. Mendengarkan musik
Musik bisa mempengaruhi suasana. Melalui musik dan lagu Anda pun bisa membangkitkan suasana romantis. Ajak pasangan Anda duduk berdua sambil mendengarkan musik-musik romantis, atau lagu-lagu yang bisa membawa Anda berdua kembali ke masa lalu nan syahdu.
9. Masak berdua
Romantis tidak harus dengan memberikan materi atau benda pada pasangan. Memasak bersama pasangan pun dapat membangkitkan kembali gairah cinta yang memudar. Cari resep masakan favorit Anda berdua, dan pilih waktu yang longgar untuk mencoba memasaknya bersama-sama. Apa pun hasilnya, mencoba membuat sesuatu secara bersama-sama akan terasa lebih fun dan menantang. Kebersamaan Anda dengan pasangan pada saat memasak, ekspresi sayang pasti akan tumbuh kembali. Karena menikmati kebersamaan dengan pasangan merupakan kesempatan yang harus selalu disediakan.
10. Beri kejutan
Beri kejutan di hari spesial pasangan Anda, misalnya pada saat ia ulang tahun atau merayakan hari pernikahan. Tidak perlu memberi hadiah atau kado yang mahal, yang penting dapat memberi kesan bahwa apa yang Anda lakukan bertujuan untuk membahagiakannya dan menunjukkan perhatian Anda padanya. Misalnya memasak makanan kesukaannya, memijat pundak dan lengannyanya sepulang kerja, dan lain-lain.
11. Bernostalgia ke tempat-tempat ”bersejarah”
Ketika Anda berpacaran dulu pasti ada tempat-tempat yang berkesan yang pernah Anda kunjungi berdua. Tidak ada salahnya Anda berdua mengunjungi kembali tempat tersebut. Anda juga bisa memilih tempat yang ”bersejarah” bagi Anda berdua, yang bisa membangkitkan romantisme dan bahkan memunculkan kembali kenangan masa lalu saat masih berpacaran. Misalnya, saat Anda pertama kali berkencan dengannya, saat valentine teromantis yang pernah Anda alami berdua, dan sebagainya.
12. Mengubah penampilan
Mengubah penampilan Anda sehari-hari, juga bisa menjadi salah satu alternatif untuk membangkitkan romantisme pasangan. Boleh jadi, penampilan yang ”begitu-begitu” tidak akan membuatnya bereaksi terhadap kata-kata romantis yang Anda tuturkan. Cobalah untuk bereksperimen, namun jangan terlalu berlebihan, yang penting dia menangkap kesan adanya perubahan pada diri Anda. Misalnya Anda mengubah potongan rambut dan berpakaian sederhana namun seksi, lalu berikan ciuman dan peluk hangat pada pasangan Anda, dan katakan kalau perubahan ini untuknya.
Tuesday, December 18, 2007
Grandparenting: Membantu atau Campur Tangan?
Kompromi dan komunikasi dapat mengimbangi perbedaan pola asuh yang kakek-nenek terapkan kepada si kecil, khususnya dalam penerapan disiplin.
Dewi (27) langsung memasang wajah garang saat melihat putrinya Sakha (4) mengisap permen loli. Maklum saja Sakha baru saja sembuh dari sakit giginya, karena terlalu banyak makan permen. “Di kasih nenek,” begitu katanya enteng, saat Dewi menanyakan asal permen itu. Sakha sebenarnya tahu kalau Bundanya tidak akan senang bila mengetahui ia mengisap permen, karena gigi-giginya sudah banyak yang hitam dan keropos. Tapi ia pun paham, biasanya bunda tidak akan mengomel ketika tahu bahwa permen itu diperoleh dari nenek.
Kasus seperti ini, sebenarnya sangat menjengkelkan Dewi. Toh, ia tidak bisa melarang mertuanya memberikan apa yang Sakha minta. Dewi sengaja memilih tinggal dekat dengan mertua, selain karena ia baru saja menikah, karena mertuanya dapat membantu menjaga Sakha saat ia dan suaminya bekerja. Namun terkadang ia merasa campur tangan mertuanya dalam pengasuhan Sakha, sering melanggar peraturan yang ia dan suaminya terapkan untuk mendispilinkan Sakha.
Hal demikian memang sering terjadi pada pasangan yang masih tinggal bersama orangtua atau mertua, maupun tinggal berdekatan dengan mereka. Orangtua memang dituntut untuk menjadi pengasuh dan pendidik utama anak, namun ketika kakek-nenek harus ikut berperan juga dalam pengasuhan anak, pola asuh yang diterapkan biasanya cenderung permisif. Perbedaan dalam pola asuh orangtua dan kakek-nenek, misalnya dalam hal penerapan disiplin yang bertujuan untuk memandirikan si anak.
Pada dasarnya pola asuh itu sifatnya prinsipil, jadi sebenarnya tidak ada pola asuh yang salah, sebab tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Hanya saja cara mengasuhnya itu yang terkadang salah.
Dalam hal keinginan untuk mendisiplinkan anak, sebetulnya orangtua zaman dulu dan zaman sekarang relatif sama. Namun karena pengalaman hidup yang dialami, kakek-nenek menjadi tidak tega kepada cucunya. Misalnya ketika melihat cucunya seperti tidak mempunyai waktu bermain, karena sibuk les ini dan itu.
Ketika bayi baru lahir, kakek-nenek memang menjadi salah satu sumber bantuan, dukungan, dan dorongan. Mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan jika cucunya tidak enak badan, tidak mau makan, tidak bersendawa, menangis, dan sebagainya. Banyak wanita yang bertanya pada ibu atau mertuanya, sebelum ia menanyakan kepada suami mengenai seputar masalah bayi. Namun begitu masuk ke masalah pengasuhan anak, tampaknya pengasuhan yang diterapkan orangtuanya atau mertuanya menjadi salah, sehingga timbul ketidaksetujuan dengan mereka.
Sebetulnya kakek-nenek yang terlalu banyak ikut campur dalam pengasuhan anak tidak akan menjadi masalah jika orangtua sepaham dengan kakek-nenek tentang bagaimana cara mengasuh anak. Namun justru karena berbeda, timbul berbagai masalah, bahkan beberapa pasangan sering bertengkar karena beda paham tentang seberapa jauh orangtua mereka (kakek-nenek) bisa mengasuh anak. Sebagian besar terjadi karena mereka kurang komunikasi mengenai cara mendidik yang ‘baru’ sesuai dengan zaman untuk anak. Biasanya kakek-nenek terlalu memanjakan si anak. Aturan yang sudah diterapkan oleh orangtua kepada anak-anaknya justru dilanggar kakek-neneknya. Hal ini dapat menimbulkan perselisihan pada beberapa pasangan.
Ketika kakek-nenek ikut campur
Pengasuhan yang dilakukan kakek-nenek (grandparenting), yang bisa juga disebut ‘kesempatan kedua untuk menjadi orangtua’. Sehingga tidak heran banyak kakek-nenek yang ingin terlibat dalam pengasuhan cucu mereka, atau tidak jarang pula mereka melakukan ini untuk ‘menebus dosa’ atas ketidakmampuan yang dulu dialami ketika membesarkan anak mereka sendiri.
Adanya perbedaan pola asuh ini baik langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada kemandirian anak. Misalnya anak akan menjadi kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas hariannya seperti makan, mandi, atau kurang mandiri dalam menyelesaikan masalah. Namun yang menjadi masalah adalah ketika nenek tidak mengizinkan si cucu makan sendiri, alasannya anak masih kecil, akan berlepotan, berantakan, dan sebagainya. Padahal orangtua tahu bahwa untuk memandirikan anak, anak harus diberi kesempatan untuk makan sendiri sejak kecil.
Tetapi campur tangan kakek-nenek dalam pengasuhan cucu, hendaknya tak hanya dilihat dari sisi jeleknya saja. Ada juga sisi positifnya. Misalnya kakek-nenek dapat berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengasuh anak, sehingga anak mendapatkan pengasuhan yang lebih baik seperti pengaturan menu makanan, atau si anak tidak melulu bergaul dengan pengasuhnya. Sisi positif lainnya, biasanya kakek-nenek sering mengajarkan bekal keterampilan kepada si anak. Misalnya menanam pohon, bercerita tentang silsilah keluarga, pengalaman hidup mereka, dan lain sebagainya. Di pihak lain, si anak pun bisa belajar dari segala pengalaman yang sudah dialami oleh kakek-neneknya.
Namun jika sikap memanjakan cucu yang ditunjukkan kakek-nenek ini terus dilakukan akan menyebabkan penerapan disiplin yang sudah diterapkan menjadi tidak konsisten. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan si anak memiliki kecenderungan negatif. Bisa jadi si anak akan membantah perintah orangtua dengan berlindung pada kakek dan neneknya, sehingga memperburuk hubungan orangtua-anak. Selain itu kemampuan anak dalam mengekspresikan emosinya juga terkadang menjadi kurang tepat, misalnya mudah merengek, merajuk, serta kurang percaya diri. Nenek atau kakek biasanya kurang tegas dan kurang dapat menolak permintaan si anak atau cucunya. Kalau mereka terlalu memanjakan si anak maka pola asuh yang sudah ada akan membuat si anak bingung. Oleh karena itu orangtua seharusnya memiliki keberanian untuk berbicara dengan kakek-nenek (orangtua atau mertua) mengenai permasalahan pola asuh yang tepat.
Kompromi dan komunikasi
Tidak ada yang lebih baik antara tinggal berdekatan orangtua atau tinggal berjauhan, semuanya ada sisi negatif dan positifnya. Jika pasangan tinggal berjauhan campur tangan kakek-nenek terhadap pola asuh anak memang tidak sedemikian intens. Namun akan sulit melarangnya, jika mereka tinggal berdekatan atau bahkan serumah dengan orangtua atau mertua.
Kultur di Indonesia, kakek-nenek tidak tega kalau cucunya dilarang ini-itu. Sementara orangtua ingin menegakkan disiplin. Perbedaan semacam ini hendaknya dapat dikompromikan melalui diskusi antara anak dengan orangtua, yang kini sudah sama-sama menjadi orangtua. Dengan demikian, tidak akan ada lagi anggapan bahwa yangtua lebih berpengalaman dan pandai dalam hal mengasuh anak.
Jika kakek-nenek terlalu jauh mengintervensi si cucu karena mereka sering tidak diberi peran yang jelas dalam mengasuh anak-anak. Oleh karena itu pada saat membahas mengenai pola asuh anak, sebaiknya kakek-nenek juga diajak berembug dan berdiskusi serta dilakukan kesepakatan yang baik antara mereka. Misalnya kakek atau nenek bertugas untuk mengajarkan hal-hal yang religius, mengantar jemput sekolah, mengawasi makan, tetapi untuk urusan mengerjakan PR tidak boleh turut campur. Dengan begitu mereka merasa dilibatkan dalam mengasuh cucunya.
Pertama-tama perlu diberikan pengertian mengenai tahapan perkembangan anak kepada mereka. Sebagai pasangan yang sudah mempunyai pola asuh untuk anak-anaknya, mereka perlu diingatkan kembali akan tahap perkembangan anak sesuai usianya. Hal ini penting agar kakek-nenek juga mengerti apa yang harus mereka lakukan. Hal-hal yang dapat dikompromikan misalnya penerapan disiplin yang bertujuan untuk melatih kemandirian. Kakek-nenek dalam hal ini bertugas untuk mengawasi saja.
Namun dari beberapa hal yang dikomunikasikan dan dikompromikan, si anak juga perlu diajak berdialog dan berdiskusi. Biasanya mereka yang berusia SD sudah dapat diajak bicara. Misalnya gambarkan risiko yang akan ia dapatkan ketika ia tidak mengerjakan PR dan terus bermain. Bagi mereka yang masih kecil (balita), orangtua dapat memberikan contoh misalnya ajak anak untuk makan bersama di meja makan dalam suasana yang lebih menyenangkan. Beri penghargaan positif bila anak dapat melakukannya walaupun masih belum sempurna.
Anda sebagai orangtua juga harus mampu mengajarkan hubungan interaktif kepada kakek-nenek mereka. Berikan waktu kepada mereka untuk bersama-sama dengan kakek-nenek, juga Anda. Dengan begitu kakek-nenek selalu merasa dilibatkan dalam mengasuh cucunya.
Meskipun begitu, orangtua masa kini harus mempersiapkan mental untuk menghadapi hubungan kakek-nenek dengan cucu yang mungkin akan berbeda di masa depan. Seiring berubahnya waktu, kehangatan dan keintiman yang ditunjukkan anak-anaknya sekarang kepada kakek dan nenek barangkali tidak akan mereka alami dengan cucunya kelak.
Yang terakhir,ingatlah, bagaimanapun juga orangtua Anda yang telah berjasa membesarkan Anda, begitu pula mertua yang telah membesarkan pasangan Anda. Kalaupun dulu mereka melakukan kesalahan, biarkan mereka menebusnya sekarang dengan berbuat baik terhadap anak Anda. Perbedaan? Selama Anda dan mereka mempunyai tujuan untuk mencintai si kecil, mengapa tidak?
Tips berbagi pola asuh kepada kakek-nenek tanpa menimbulkan perselisihan:
1.Pertama-tama ajak kakek-nenek berdiskusi mengenai pola asuh yang akan diterapkan dan tujuan pendidikan anak,
misalnya kemandirian bagi si anak.
2.Setiap pasangan harus siap menjadikan sesuatu menjadi lebih baik, untuk itu harus ada pengorbanan dan keberanian
berbicara kepada orangtua atau mertua. Tentu saja cara penyampaian pola asuh ini harus dengan baik-baik dan rendah
hati. Gunakan kata ‘mohon pertolongan’, karena secara pikologis maknanya kuat sekali.
3.Berikan paparan aturan dasar yang akan diterapkan pada seluruh anggota keluarga. Misalnya larangan menonton televisi
selepas Magrib. Aturan tersebut harus dipatuhi oleh setiap anggota keluarga termasuk kakek-nenek.
4.Hindari membentak atau mendebat kakek-nenek. Kalaupun ada perselisihan, hendaknya dibicarakan tidak di dekat anak,
karena anak merupakan pengamat yang sangat baik.
5.Untuk menghindari biang-biang perselisihan, sebaiknya membiasakan pertemuan yang teratur, sekedar menjaga
keakraban. Misalnya makan malam bersama keluar.
6.Setiap pasangan hendaknya menyadari bahwa kakek-nenek adalah orang yang paling peduli pada cucunya, seperti
menceritakan kisah-kisah masa lalu, menanamkan kebanggaan keluarga, dan meningkatkan pengetahuan anak tentang
kebudayaan.
7.Dalam menghadapi kakek-nenek, hendaknya menyadari bahwa mereka adalah model bagi sang anak. Oleh karena itu bila
ingin perlakuan yang baik dari anak-anak di masa tua, hendaknya memberikan mereka contoh yang baik.
8.Walapun ada perbedaan cara pengasuhan, tetap berikan waktu kepada kakek-nenek untuk mengasuh cucu-cucunya. Hal
ini bukan saja hanya memberikan kebahagian bagi mereka yang sudah memasuki usia senja, namun juga bermanfaat bagi
anak-anak.
Dewi (27) langsung memasang wajah garang saat melihat putrinya Sakha (4) mengisap permen loli. Maklum saja Sakha baru saja sembuh dari sakit giginya, karena terlalu banyak makan permen. “Di kasih nenek,” begitu katanya enteng, saat Dewi menanyakan asal permen itu. Sakha sebenarnya tahu kalau Bundanya tidak akan senang bila mengetahui ia mengisap permen, karena gigi-giginya sudah banyak yang hitam dan keropos. Tapi ia pun paham, biasanya bunda tidak akan mengomel ketika tahu bahwa permen itu diperoleh dari nenek.
Kasus seperti ini, sebenarnya sangat menjengkelkan Dewi. Toh, ia tidak bisa melarang mertuanya memberikan apa yang Sakha minta. Dewi sengaja memilih tinggal dekat dengan mertua, selain karena ia baru saja menikah, karena mertuanya dapat membantu menjaga Sakha saat ia dan suaminya bekerja. Namun terkadang ia merasa campur tangan mertuanya dalam pengasuhan Sakha, sering melanggar peraturan yang ia dan suaminya terapkan untuk mendispilinkan Sakha.
Hal demikian memang sering terjadi pada pasangan yang masih tinggal bersama orangtua atau mertua, maupun tinggal berdekatan dengan mereka. Orangtua memang dituntut untuk menjadi pengasuh dan pendidik utama anak, namun ketika kakek-nenek harus ikut berperan juga dalam pengasuhan anak, pola asuh yang diterapkan biasanya cenderung permisif. Perbedaan dalam pola asuh orangtua dan kakek-nenek, misalnya dalam hal penerapan disiplin yang bertujuan untuk memandirikan si anak.
Pada dasarnya pola asuh itu sifatnya prinsipil, jadi sebenarnya tidak ada pola asuh yang salah, sebab tidak ada orangtua yang ingin menjerumuskan anaknya. Hanya saja cara mengasuhnya itu yang terkadang salah.
Dalam hal keinginan untuk mendisiplinkan anak, sebetulnya orangtua zaman dulu dan zaman sekarang relatif sama. Namun karena pengalaman hidup yang dialami, kakek-nenek menjadi tidak tega kepada cucunya. Misalnya ketika melihat cucunya seperti tidak mempunyai waktu bermain, karena sibuk les ini dan itu.
Ketika bayi baru lahir, kakek-nenek memang menjadi salah satu sumber bantuan, dukungan, dan dorongan. Mereka selalu tahu apa yang harus dilakukan jika cucunya tidak enak badan, tidak mau makan, tidak bersendawa, menangis, dan sebagainya. Banyak wanita yang bertanya pada ibu atau mertuanya, sebelum ia menanyakan kepada suami mengenai seputar masalah bayi. Namun begitu masuk ke masalah pengasuhan anak, tampaknya pengasuhan yang diterapkan orangtuanya atau mertuanya menjadi salah, sehingga timbul ketidaksetujuan dengan mereka.
Sebetulnya kakek-nenek yang terlalu banyak ikut campur dalam pengasuhan anak tidak akan menjadi masalah jika orangtua sepaham dengan kakek-nenek tentang bagaimana cara mengasuh anak. Namun justru karena berbeda, timbul berbagai masalah, bahkan beberapa pasangan sering bertengkar karena beda paham tentang seberapa jauh orangtua mereka (kakek-nenek) bisa mengasuh anak. Sebagian besar terjadi karena mereka kurang komunikasi mengenai cara mendidik yang ‘baru’ sesuai dengan zaman untuk anak. Biasanya kakek-nenek terlalu memanjakan si anak. Aturan yang sudah diterapkan oleh orangtua kepada anak-anaknya justru dilanggar kakek-neneknya. Hal ini dapat menimbulkan perselisihan pada beberapa pasangan.
Ketika kakek-nenek ikut campur
Pengasuhan yang dilakukan kakek-nenek (grandparenting), yang bisa juga disebut ‘kesempatan kedua untuk menjadi orangtua’. Sehingga tidak heran banyak kakek-nenek yang ingin terlibat dalam pengasuhan cucu mereka, atau tidak jarang pula mereka melakukan ini untuk ‘menebus dosa’ atas ketidakmampuan yang dulu dialami ketika membesarkan anak mereka sendiri.
Adanya perbedaan pola asuh ini baik langsung maupun tidak langsung akan berdampak pada kemandirian anak. Misalnya anak akan menjadi kurang mandiri dalam menyelesaikan tugas-tugas hariannya seperti makan, mandi, atau kurang mandiri dalam menyelesaikan masalah. Namun yang menjadi masalah adalah ketika nenek tidak mengizinkan si cucu makan sendiri, alasannya anak masih kecil, akan berlepotan, berantakan, dan sebagainya. Padahal orangtua tahu bahwa untuk memandirikan anak, anak harus diberi kesempatan untuk makan sendiri sejak kecil.
Tetapi campur tangan kakek-nenek dalam pengasuhan cucu, hendaknya tak hanya dilihat dari sisi jeleknya saja. Ada juga sisi positifnya. Misalnya kakek-nenek dapat berbagi ilmu dan pengalaman dalam mengasuh anak, sehingga anak mendapatkan pengasuhan yang lebih baik seperti pengaturan menu makanan, atau si anak tidak melulu bergaul dengan pengasuhnya. Sisi positif lainnya, biasanya kakek-nenek sering mengajarkan bekal keterampilan kepada si anak. Misalnya menanam pohon, bercerita tentang silsilah keluarga, pengalaman hidup mereka, dan lain sebagainya. Di pihak lain, si anak pun bisa belajar dari segala pengalaman yang sudah dialami oleh kakek-neneknya.
Namun jika sikap memanjakan cucu yang ditunjukkan kakek-nenek ini terus dilakukan akan menyebabkan penerapan disiplin yang sudah diterapkan menjadi tidak konsisten. Hal ini dikhawatirkan akan menyebabkan si anak memiliki kecenderungan negatif. Bisa jadi si anak akan membantah perintah orangtua dengan berlindung pada kakek dan neneknya, sehingga memperburuk hubungan orangtua-anak. Selain itu kemampuan anak dalam mengekspresikan emosinya juga terkadang menjadi kurang tepat, misalnya mudah merengek, merajuk, serta kurang percaya diri. Nenek atau kakek biasanya kurang tegas dan kurang dapat menolak permintaan si anak atau cucunya. Kalau mereka terlalu memanjakan si anak maka pola asuh yang sudah ada akan membuat si anak bingung. Oleh karena itu orangtua seharusnya memiliki keberanian untuk berbicara dengan kakek-nenek (orangtua atau mertua) mengenai permasalahan pola asuh yang tepat.
Kompromi dan komunikasi
Tidak ada yang lebih baik antara tinggal berdekatan orangtua atau tinggal berjauhan, semuanya ada sisi negatif dan positifnya. Jika pasangan tinggal berjauhan campur tangan kakek-nenek terhadap pola asuh anak memang tidak sedemikian intens. Namun akan sulit melarangnya, jika mereka tinggal berdekatan atau bahkan serumah dengan orangtua atau mertua.
Kultur di Indonesia, kakek-nenek tidak tega kalau cucunya dilarang ini-itu. Sementara orangtua ingin menegakkan disiplin. Perbedaan semacam ini hendaknya dapat dikompromikan melalui diskusi antara anak dengan orangtua, yang kini sudah sama-sama menjadi orangtua. Dengan demikian, tidak akan ada lagi anggapan bahwa yangtua lebih berpengalaman dan pandai dalam hal mengasuh anak.
Jika kakek-nenek terlalu jauh mengintervensi si cucu karena mereka sering tidak diberi peran yang jelas dalam mengasuh anak-anak. Oleh karena itu pada saat membahas mengenai pola asuh anak, sebaiknya kakek-nenek juga diajak berembug dan berdiskusi serta dilakukan kesepakatan yang baik antara mereka. Misalnya kakek atau nenek bertugas untuk mengajarkan hal-hal yang religius, mengantar jemput sekolah, mengawasi makan, tetapi untuk urusan mengerjakan PR tidak boleh turut campur. Dengan begitu mereka merasa dilibatkan dalam mengasuh cucunya.
Pertama-tama perlu diberikan pengertian mengenai tahapan perkembangan anak kepada mereka. Sebagai pasangan yang sudah mempunyai pola asuh untuk anak-anaknya, mereka perlu diingatkan kembali akan tahap perkembangan anak sesuai usianya. Hal ini penting agar kakek-nenek juga mengerti apa yang harus mereka lakukan. Hal-hal yang dapat dikompromikan misalnya penerapan disiplin yang bertujuan untuk melatih kemandirian. Kakek-nenek dalam hal ini bertugas untuk mengawasi saja.
Namun dari beberapa hal yang dikomunikasikan dan dikompromikan, si anak juga perlu diajak berdialog dan berdiskusi. Biasanya mereka yang berusia SD sudah dapat diajak bicara. Misalnya gambarkan risiko yang akan ia dapatkan ketika ia tidak mengerjakan PR dan terus bermain. Bagi mereka yang masih kecil (balita), orangtua dapat memberikan contoh misalnya ajak anak untuk makan bersama di meja makan dalam suasana yang lebih menyenangkan. Beri penghargaan positif bila anak dapat melakukannya walaupun masih belum sempurna.
Anda sebagai orangtua juga harus mampu mengajarkan hubungan interaktif kepada kakek-nenek mereka. Berikan waktu kepada mereka untuk bersama-sama dengan kakek-nenek, juga Anda. Dengan begitu kakek-nenek selalu merasa dilibatkan dalam mengasuh cucunya.
Meskipun begitu, orangtua masa kini harus mempersiapkan mental untuk menghadapi hubungan kakek-nenek dengan cucu yang mungkin akan berbeda di masa depan. Seiring berubahnya waktu, kehangatan dan keintiman yang ditunjukkan anak-anaknya sekarang kepada kakek dan nenek barangkali tidak akan mereka alami dengan cucunya kelak.
Yang terakhir,ingatlah, bagaimanapun juga orangtua Anda yang telah berjasa membesarkan Anda, begitu pula mertua yang telah membesarkan pasangan Anda. Kalaupun dulu mereka melakukan kesalahan, biarkan mereka menebusnya sekarang dengan berbuat baik terhadap anak Anda. Perbedaan? Selama Anda dan mereka mempunyai tujuan untuk mencintai si kecil, mengapa tidak?
Tips berbagi pola asuh kepada kakek-nenek tanpa menimbulkan perselisihan:
1.Pertama-tama ajak kakek-nenek berdiskusi mengenai pola asuh yang akan diterapkan dan tujuan pendidikan anak,
misalnya kemandirian bagi si anak.
2.Setiap pasangan harus siap menjadikan sesuatu menjadi lebih baik, untuk itu harus ada pengorbanan dan keberanian
berbicara kepada orangtua atau mertua. Tentu saja cara penyampaian pola asuh ini harus dengan baik-baik dan rendah
hati. Gunakan kata ‘mohon pertolongan’, karena secara pikologis maknanya kuat sekali.
3.Berikan paparan aturan dasar yang akan diterapkan pada seluruh anggota keluarga. Misalnya larangan menonton televisi
selepas Magrib. Aturan tersebut harus dipatuhi oleh setiap anggota keluarga termasuk kakek-nenek.
4.Hindari membentak atau mendebat kakek-nenek. Kalaupun ada perselisihan, hendaknya dibicarakan tidak di dekat anak,
karena anak merupakan pengamat yang sangat baik.
5.Untuk menghindari biang-biang perselisihan, sebaiknya membiasakan pertemuan yang teratur, sekedar menjaga
keakraban. Misalnya makan malam bersama keluar.
6.Setiap pasangan hendaknya menyadari bahwa kakek-nenek adalah orang yang paling peduli pada cucunya, seperti
menceritakan kisah-kisah masa lalu, menanamkan kebanggaan keluarga, dan meningkatkan pengetahuan anak tentang
kebudayaan.
7.Dalam menghadapi kakek-nenek, hendaknya menyadari bahwa mereka adalah model bagi sang anak. Oleh karena itu bila
ingin perlakuan yang baik dari anak-anak di masa tua, hendaknya memberikan mereka contoh yang baik.
8.Walapun ada perbedaan cara pengasuhan, tetap berikan waktu kepada kakek-nenek untuk mengasuh cucu-cucunya. Hal
ini bukan saja hanya memberikan kebahagian bagi mereka yang sudah memasuki usia senja, namun juga bermanfaat bagi
anak-anak.
Saturday, November 24, 2007
Dua hari di pulau
Bingung mau mulai dari mana. Gambar ini diambil teman saya saat mau turun snorkeling (sedikit narcis sih :)).
Minggu pertama november lalu, saya dapat tugas meliput di Pulau Umang yang letaknya di Kecamatan Sumur-Pandeglang. Lebih tepatnya, saya ditugaskan me-review tempat itu untuk masuk rubrik weekend majalah tempat saya bekerja. Tapi ada untungnya juga, selain karena tugas, itung-itung saya juga sedikit refreshing dari hiruk pikuk ibu kota.
Kurang lebih lima jam perjalanan dengan menggunakan carry tua, saya bersama dua kru lainnya berangkat kesana. Saya bertugas sebagai petunjuk arah, mas Embang menjabat sebagai supir sekaligus fotografer, dan Mita beanr-benar sebagai penumpang :). Awalnya sempat BETE, karena petunjuk jalan yang ada terkesan bikin penasaran. Sebentar-bentar tertulis "Pulau Umang 60 menit lagi" lalu beberapa kilo meter kemudian "Pulau Umang 25 menit lagi", dan seterusnya. Kalau dilihat waktunya lebih dari 60 menit untuk mencapai olang selanjutnya. "Kok tidak sampai-sampai ya, jangan-jangan plang itu untuk itungan ornag yang pakai BMW," seru Mita, dari tadi dia memang terlihat bosan.
Kira-kira pukul setengah lima sore kita sampai di Kecamatan Sumur. Disambut oleh petugas dan langsung membawa kita ke seberang pulau. Busyeettt...benar-benar indah sekali! Laut biru yang membentang, serta tanjung yang menjorok ke laut. Pulau Umang berada tepat ditengah-tengah tanjung dan Ujung Kulon.
Salah satu pulau yang berdekatan dengan Pulau Umang adalah Pulau Oar. Pulaunya benar-benar masih 'Virgin'. Pasir berwarna putih lagi lembut, banyak pelancong yang datang kesana menggunakan pasir itu untuk crub. diantara itu yang paling indah adalah terumbu karangnya yang masih juga 'virgin', beragam ikan masih hidup disana. Itu saya ketahui ketika mencoba snorkeling setengah jam lebih. Pemandangan di dasar laut memang dasyat.
Gambar ini diambil ketika sunset. Benar-benar ciptaan Tuhan yang maha dasyat. Matahari seolah-olah merangkul gunung :)
Kalau yang ini, diambil saat kita berada di atas speed boat menuju Pulau Umang. Bisa dibayangkan kalau berada di tengah-tengah laut ini? Dari pulau ini juga dapat dilihat pemandangan yang tidak kalah hebatnya, yakni anak gunung Krakatau. Jaraknya kira-kira 43 kilo dari Pulau Umang, jadi tidak terlalu jauh. Sebetulnya ketika itu kami kesana sempat juga merasa deg-degan, karena kabar di televisi status Anak Gunung Krakatau sudah Siaga 3. Tapi alhamdulillah saya kembali dengan selamat, tidak ada yang sakit dan tugas meliput pun selesai dengan baik. Sepulang dari sana, terpikir untuk mengajak kawan berlibur kesana, cuma sayang biayanya mahal sekali untuk hitungan anak kost seperti saya :). Maybe next time kali ya..
piss... :)
Thursday, September 13, 2007
Ketika Anak Tak Kunjung Hadir
Sebagian besar pasangan menikah pasti mendambakan untuk memiliki anak. Banyak yang berhasil mewujudkan keinginan tersebut, namun ada juga sebagian pasangan yang tidak dapat mewujudkannya.
Anak merupakan pelengkap kebahagiaan bagi pasangan menikah. Saat berkumpul dalam acara keluarga, hal utama yang menjadi pertanyaan pastilah “kapan rencana punya momongan?” ”Sudah ‘isi’ belum?” dan lain-lain. Mungkin hal itu tidak menjadi persoalan bagi pasangan yang baru saja menikah, namun pertanyaan-pertanyaan sensitif tersebut bisa menjadi persoalan yang besar bagi mereka yang sudah lama menikah. Bahkan bagi yang mudah tersinggung, hal itu bisa menimbulkan amarah.
Pernikahan adalah pengukuhan hubungan dua individu, laki-laki dan perempuan dalam sebuah lembaga perkawinan yang sah. Salah satu tujuan umumnya adalah mendapatkan keturunan sebagai penerus generasi. Hampir sebagian besar pasangan menginginkan buah hati. Buah hati di sini bukan saja sebagai penerus generasi dan perekat perkawinan tetapi juga sebagai langkah selanjutnya bagi pria dan wanita dalam mengisi tugas perkembangannya sebagai ayah dan ibu. Dengan berubahnya peran, individu akan mulai belajar bagaimana harus berperilaku.
Meski sebagian tujuan pernikahan adalah segera memiliki momongan, namun tidak sedikit pasangan yang sengaja menundanya. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa pasangan menikah menunda untuk memiliki momongan. Pertama, ketidaksiapan secara materi. Dalam hal ini, pasangan memiliki ketakutan bahwa pendapatan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan si buah hati. Kedua, ketidaksiapan secara psikologis. Alasan ini muncul karena adanya ketakutan tidak bisa menjadi ayah atau ibu yang baik. Ketiga, pasangan mendahulukan kepentingan lain. Misalnya, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dan masih banyak alasan lainnya seperti salah satu pasangan sedang melakukan terapi pengobatan atau lainnya.
Sementara alasan sebuah pasangan menunda kehadiran buah hati seringkali didasarkan pada motivasi pada saat awal menikah. Misalnya, pasangan yang menikah karena ingin mempunyai keturunan, sehingga sang istri menjadi “mesin produksi anak”.
Namun ada juga pasangan yang menikah lebih karena ingin mempunyai teman. Selain itu, ada juga pasangan yang menunda kehadiran buah hati karena ingin mengenal lebih dalam pribadi pasangannya. Biasanya mereka menikah karena dijodohkan. Bahkan, untuk alasan yang terakhir, ada pasangan yang bersama lebih dari 10 tahun namun tidak pernah berhubungan. Pasangan tersebut tetap mempertahankan perkawinan, setia, dan akhirnya hubungan mereka menjadi seperti kakak beradik.
Penantian akan lahirnya buah hati bisa menjadi masalah di dalam rumah tangga. Terutama bila keduanya tidak bisa menerima keadaan dan salah satu pihak menimpakan kesalahan pada pasangannya. Biasanya dalam hal ini istri yang menjadi korban, padahal suatu pasangan tidak dikarunia anak bukan melulu dikarenakan masalah infertilitas tetapi juga masalah psikologi.
Ada yang depresi namun banyak juga dari mereka yang tidak juga dikarunia anak menerimanya dengan pasrah dan berpikir positif. Namun hal itu kembali lagi pada konsep pernikahan mereka, ada yang ingin cepat dapat momongan tetapi ada juga yang ingin menunda dengan berbagai alasan.
Timbul Masalah
Bila pasangan menikah setelah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak, meskipun orang sekitar tidak berucap tapi secara tidak langsung sering mempertanyakan apa yang terjadi hingga pasangan itu tidak dikaruniai anak. Bahkan tak jarang hal itu menjadi perguncingan, seperti bagaimana masa tuanya bila tidak ada anak sampai urusan adopsi.
Jika diawal menikah konsep yang dipegang adalah memiliki momongan maka ketidakhadiran si buah hati ditengah-tengah keluarga tentu menjadi permasalahan yang besar. Belum lagi lingkungan sekitar yang mencap Anda atau pasangan Anda dengan ungkapan ‘mandul‘, tentunya hal itu sangat tidak nyaman. Dalam banyak kasus memang istri merasa lebih tertekan ketika setelah beberapa tahun mereka belum diberi keturunan karena dalam lingkungan atau masyarakat terbiasa mempersepsikan bahwa kesalahan ada dipihak istri. Bahkan ketika diketahui istri mempunyai masalah fertilitas, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak suami yang menginginkan untuk berpoligami atau bahkan ada juga istri yang merelakan suaminya untuk berpoligami. Tapi hal itu sangat kecil kemungkinannnya, karena pada dasarnya tidak ada seorang istri pun yang rela suaminya menikah lagi atau pun diduakan.
Ketidakhadiran buah hati ini bisa menimbulkan masalah ketika keduanya atau masing-masing pasangan tidak membuka pikiran untuk menerima keadaan dan mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar. Ada yang tidak peduli namun ada juga sebagian pasangan lainnya yang terganggu dengan ketidadaan anak ini. Biasanya hal tersebut dikarenakan tidak adanya komunikasi dua arah di antara mereka.
Butuh Kedewasaan
Tidak semua pasangan mempermasalahkan belum adanya si buah hati ditengah-tengah mereka, meskipun bila dipersentasikan golongan seperti ini sangatlah kecil. Namun bagi pasangan yang belum memperoleh keturunan, dibutuhkan kedewasaan yang amat besar dari masing-masing pasangan, karena ketidakmampuan memliki keturunan bukan semata-mata kesalahan pasangannya (misalnya istri), apapun kondisinya sebaiknya setiap pasangan harus saling mendukung dan mencari sulusinya. Duduk bersama dan memikirkan bagaimana yang terbaik untuk keluarga harus dibicarakan diantara keduanya tanpa ada orang ketiga (orangtua, mertua, kakak, atau lainnya).
Oleh karena itu sebelum menikah setiap pasangan harus benar-benar mengenal pasangannya, mulai dari sifat baik dan jeleknya, kebiasaan-kebiasaan positif dan buruknya, cara dia mengambil keputusan sampai pola keluarga dari masing-masing pasangan. Hal tersebut perlu diketahui agar suatu saat kita tidak mempunyai pikiran menyesal dan saat timbul masalah maka hal-hal positif darinya lah yang perlu kita lihat. Karena setiap pasangan menikah harus berpikir untuk saling melengkapi bukan hanya memikirkan masalah anak yang tidak hadir.
Mereka yang mempunyai kedewasaan berpikir akan melihat bahwa anak hanyalah titipan Tuhan dan bukan milik kita sepenuhnya. Setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing dan tidak ada yang sempurna. Oleh karenanya ketika dalam berumah tangga anak tidak juga hadir jangan pernah berpikiran negatif terhadap pasangan kita, tetap yakinkan dalam hati kalau ia adalah jodoh kita.
Mencari Solusi
Mereka yang mengharapkan buah hati hadir ditengah-tengah keluarga sebaiknya tidak saling menyalahkan dan menuduh siapa yang kurang sehat, namun yang perlu dilakukan adalah duduk bersama dan membicarakan solusi yang tepat, apakah mereka sependapat untuk mengadopsi anak, bayi tabung, atau sepakat untuk tidak sama sekali melakukan keduanya.
Namun sebelum mereka mengambil keputusan maka hal utama yang harus dilakukan adalah berpikir secara matang, jangan terburu-buru, sehingga salah satu dari mereka tidak sreg. Misalnya mengadopsi anak. Jangan sampai hanya diinginkan oleh satu dari mereka saja, karena bila hal itu terjadi maka yang kasihan adalah si anak itu sendiri yang tidak mendapat limpahan kasih sayang dan perawatan secara optimal.
Tidak jarang mereka yang mengadopsi anak membuat kondisi pasangan menjadi rileks. Kondisi santai dan bergembira adanya anggota baru dalam keluarga biasanya memberikan kondisi psikologis mereka juga menjadi lebih sehat. Namun mengadopsi anak adalah bukan satu-satunya pilihan bagi pasangan yang tidak mendapat keturunan. Semua itu tergantung pada keputusan.
Jika ketidakhadiran anak ini disebabkan oleh gangguan medis maka hal itu bisa disembuhkan dengan bantuan medis pula. Namun jangan mengadopsi anak bila hanya untuk memancing agar punya anak. Karena hal itu akan membuat si anak menjadi terlantar. Sebaiknya sebelum pasangan memutuskan untuk mengadopsi anak, tanyakan kembali pada diri masing-masing apakah betul dibutuhkan seseorang untuk hadir ditengah-tengah mereka? Karena banyak juga pasangan yang tidak menginginkan anak ditengah-tengah hubungan mereka, apalagi melihat biaya pendidikan yang mahal.
Jadi setiap keputusan untuk mengatasi masalah ini (ketidakhadiran anak, red) sebaiknya dipikirkan sangat matang. Ada pasangan yang berpikir kalau untuk membagikan kasih sayang tidak perlu kepada anak kandung saja tetapi juga kepada keponakan atau anak-anak dilingkungan sekitarnya.
Satu hal yang terpenting adalah belum adanya kehadiran buah hati sebaiknya tidak mengurang kadar kemesraan suami istri. Mereka bisa menjalankan aktifitas sehari-hari seperti biasanya dengan saling memberi motiavsi. Ekspresi kesedihan karena lama tidak mendapatkan anak, biasanya lebih terlihat pada istri. Suami, seharusnya mau mendengarkan setiap keluhan istri dan menghibur sang istri dalam mengisi hari-harinya agar tetap menyenangkan. Jangan menjadikan ketidakhadiran anak sebagai masalah besar dalam keluarga. Hal terpenting adalah bagaimana agar pasangan menjadikan kehidupan ini tetap bermakna tanpa mengurangi kadar sayang mereka masing-masing dan kasih sayang bisa diberikan kepada siapapun.
Tips bagi pasangan menikah:
1.Jangan terlalu cepat mengambil judgement terhadap salah satu pasangan yang kurang
sehat
2.Secara sadar, mereka berdua memeriksakan diri ke dokter guna penanganan yang lebih
baik
3.Saling mendukung bila memang salah satu ternyata dinyatakan kurang sehat.
4.Mencoba santai dan tidak terus menerus fokus pada masalah yang dialami agar tidak
membuang-buang energi.
5.Belajar untuk menjalin komunikasi yang tepat dengan pasangan, belajar mendengarkan
dan tidak egois.
6.Mengambil hikmah dan berpikir positif atas situasi yang dialami, serta mengingat
hal-hal yang positif pasangan kita serta tidak menggali hal-hal negatif pasangan
kita.
7.Tidak membandingkan pasangan kita dengan orang lain, tapi bandingkanlah pasangan
kita dengan dirinya sendiri.
8.Sering memuji pasangan dan belajar saling percaya serta tidak lupa untuk
mengucapkan terimakasih kepada pasangan kita.
9.Memvariasi hubungan, misalnya pergi ketempat-tempat Anda berpacaran dulu, agar
tetap romantis.
10.Jangan ada orang ketiga di dalam rumah tangga. Misalnya orangtua, keponakan atau
yang lainnya. Agar ketika terjadi konflik dengan pasangan, Anda berdua dapat
dengan cepat menyesuaikan diri. Bahkan sebaiknya pembantu pun tidak perlu ada.
Dengan membersihkan dan memasak berdua, Anda bisa membuat suasana romantis.
Anak merupakan pelengkap kebahagiaan bagi pasangan menikah. Saat berkumpul dalam acara keluarga, hal utama yang menjadi pertanyaan pastilah “kapan rencana punya momongan?” ”Sudah ‘isi’ belum?” dan lain-lain. Mungkin hal itu tidak menjadi persoalan bagi pasangan yang baru saja menikah, namun pertanyaan-pertanyaan sensitif tersebut bisa menjadi persoalan yang besar bagi mereka yang sudah lama menikah. Bahkan bagi yang mudah tersinggung, hal itu bisa menimbulkan amarah.
Pernikahan adalah pengukuhan hubungan dua individu, laki-laki dan perempuan dalam sebuah lembaga perkawinan yang sah. Salah satu tujuan umumnya adalah mendapatkan keturunan sebagai penerus generasi. Hampir sebagian besar pasangan menginginkan buah hati. Buah hati di sini bukan saja sebagai penerus generasi dan perekat perkawinan tetapi juga sebagai langkah selanjutnya bagi pria dan wanita dalam mengisi tugas perkembangannya sebagai ayah dan ibu. Dengan berubahnya peran, individu akan mulai belajar bagaimana harus berperilaku.
Meski sebagian tujuan pernikahan adalah segera memiliki momongan, namun tidak sedikit pasangan yang sengaja menundanya. Ada beberapa hal yang menjadi alasan mengapa pasangan menikah menunda untuk memiliki momongan. Pertama, ketidaksiapan secara materi. Dalam hal ini, pasangan memiliki ketakutan bahwa pendapatan mereka tidak dapat memenuhi kebutuhan si buah hati. Kedua, ketidaksiapan secara psikologis. Alasan ini muncul karena adanya ketakutan tidak bisa menjadi ayah atau ibu yang baik. Ketiga, pasangan mendahulukan kepentingan lain. Misalnya, melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi, dan masih banyak alasan lainnya seperti salah satu pasangan sedang melakukan terapi pengobatan atau lainnya.
Sementara alasan sebuah pasangan menunda kehadiran buah hati seringkali didasarkan pada motivasi pada saat awal menikah. Misalnya, pasangan yang menikah karena ingin mempunyai keturunan, sehingga sang istri menjadi “mesin produksi anak”.
Namun ada juga pasangan yang menikah lebih karena ingin mempunyai teman. Selain itu, ada juga pasangan yang menunda kehadiran buah hati karena ingin mengenal lebih dalam pribadi pasangannya. Biasanya mereka menikah karena dijodohkan. Bahkan, untuk alasan yang terakhir, ada pasangan yang bersama lebih dari 10 tahun namun tidak pernah berhubungan. Pasangan tersebut tetap mempertahankan perkawinan, setia, dan akhirnya hubungan mereka menjadi seperti kakak beradik.
Penantian akan lahirnya buah hati bisa menjadi masalah di dalam rumah tangga. Terutama bila keduanya tidak bisa menerima keadaan dan salah satu pihak menimpakan kesalahan pada pasangannya. Biasanya dalam hal ini istri yang menjadi korban, padahal suatu pasangan tidak dikarunia anak bukan melulu dikarenakan masalah infertilitas tetapi juga masalah psikologi.
Ada yang depresi namun banyak juga dari mereka yang tidak juga dikarunia anak menerimanya dengan pasrah dan berpikir positif. Namun hal itu kembali lagi pada konsep pernikahan mereka, ada yang ingin cepat dapat momongan tetapi ada juga yang ingin menunda dengan berbagai alasan.
Timbul Masalah
Bila pasangan menikah setelah bertahun-tahun tidak dikaruniai anak, meskipun orang sekitar tidak berucap tapi secara tidak langsung sering mempertanyakan apa yang terjadi hingga pasangan itu tidak dikaruniai anak. Bahkan tak jarang hal itu menjadi perguncingan, seperti bagaimana masa tuanya bila tidak ada anak sampai urusan adopsi.
Jika diawal menikah konsep yang dipegang adalah memiliki momongan maka ketidakhadiran si buah hati ditengah-tengah keluarga tentu menjadi permasalahan yang besar. Belum lagi lingkungan sekitar yang mencap Anda atau pasangan Anda dengan ungkapan ‘mandul‘, tentunya hal itu sangat tidak nyaman. Dalam banyak kasus memang istri merasa lebih tertekan ketika setelah beberapa tahun mereka belum diberi keturunan karena dalam lingkungan atau masyarakat terbiasa mempersepsikan bahwa kesalahan ada dipihak istri. Bahkan ketika diketahui istri mempunyai masalah fertilitas, tidak dapat dipungkiri bahwa banyak suami yang menginginkan untuk berpoligami atau bahkan ada juga istri yang merelakan suaminya untuk berpoligami. Tapi hal itu sangat kecil kemungkinannnya, karena pada dasarnya tidak ada seorang istri pun yang rela suaminya menikah lagi atau pun diduakan.
Ketidakhadiran buah hati ini bisa menimbulkan masalah ketika keduanya atau masing-masing pasangan tidak membuka pikiran untuk menerima keadaan dan mudah terpengaruh pada lingkungan sekitar. Ada yang tidak peduli namun ada juga sebagian pasangan lainnya yang terganggu dengan ketidadaan anak ini. Biasanya hal tersebut dikarenakan tidak adanya komunikasi dua arah di antara mereka.
Butuh Kedewasaan
Tidak semua pasangan mempermasalahkan belum adanya si buah hati ditengah-tengah mereka, meskipun bila dipersentasikan golongan seperti ini sangatlah kecil. Namun bagi pasangan yang belum memperoleh keturunan, dibutuhkan kedewasaan yang amat besar dari masing-masing pasangan, karena ketidakmampuan memliki keturunan bukan semata-mata kesalahan pasangannya (misalnya istri), apapun kondisinya sebaiknya setiap pasangan harus saling mendukung dan mencari sulusinya. Duduk bersama dan memikirkan bagaimana yang terbaik untuk keluarga harus dibicarakan diantara keduanya tanpa ada orang ketiga (orangtua, mertua, kakak, atau lainnya).
Oleh karena itu sebelum menikah setiap pasangan harus benar-benar mengenal pasangannya, mulai dari sifat baik dan jeleknya, kebiasaan-kebiasaan positif dan buruknya, cara dia mengambil keputusan sampai pola keluarga dari masing-masing pasangan. Hal tersebut perlu diketahui agar suatu saat kita tidak mempunyai pikiran menyesal dan saat timbul masalah maka hal-hal positif darinya lah yang perlu kita lihat. Karena setiap pasangan menikah harus berpikir untuk saling melengkapi bukan hanya memikirkan masalah anak yang tidak hadir.
Mereka yang mempunyai kedewasaan berpikir akan melihat bahwa anak hanyalah titipan Tuhan dan bukan milik kita sepenuhnya. Setiap orang mempunyai kelebihan masing-masing dan tidak ada yang sempurna. Oleh karenanya ketika dalam berumah tangga anak tidak juga hadir jangan pernah berpikiran negatif terhadap pasangan kita, tetap yakinkan dalam hati kalau ia adalah jodoh kita.
Mencari Solusi
Mereka yang mengharapkan buah hati hadir ditengah-tengah keluarga sebaiknya tidak saling menyalahkan dan menuduh siapa yang kurang sehat, namun yang perlu dilakukan adalah duduk bersama dan membicarakan solusi yang tepat, apakah mereka sependapat untuk mengadopsi anak, bayi tabung, atau sepakat untuk tidak sama sekali melakukan keduanya.
Namun sebelum mereka mengambil keputusan maka hal utama yang harus dilakukan adalah berpikir secara matang, jangan terburu-buru, sehingga salah satu dari mereka tidak sreg. Misalnya mengadopsi anak. Jangan sampai hanya diinginkan oleh satu dari mereka saja, karena bila hal itu terjadi maka yang kasihan adalah si anak itu sendiri yang tidak mendapat limpahan kasih sayang dan perawatan secara optimal.
Tidak jarang mereka yang mengadopsi anak membuat kondisi pasangan menjadi rileks. Kondisi santai dan bergembira adanya anggota baru dalam keluarga biasanya memberikan kondisi psikologis mereka juga menjadi lebih sehat. Namun mengadopsi anak adalah bukan satu-satunya pilihan bagi pasangan yang tidak mendapat keturunan. Semua itu tergantung pada keputusan.
Jika ketidakhadiran anak ini disebabkan oleh gangguan medis maka hal itu bisa disembuhkan dengan bantuan medis pula. Namun jangan mengadopsi anak bila hanya untuk memancing agar punya anak. Karena hal itu akan membuat si anak menjadi terlantar. Sebaiknya sebelum pasangan memutuskan untuk mengadopsi anak, tanyakan kembali pada diri masing-masing apakah betul dibutuhkan seseorang untuk hadir ditengah-tengah mereka? Karena banyak juga pasangan yang tidak menginginkan anak ditengah-tengah hubungan mereka, apalagi melihat biaya pendidikan yang mahal.
Jadi setiap keputusan untuk mengatasi masalah ini (ketidakhadiran anak, red) sebaiknya dipikirkan sangat matang. Ada pasangan yang berpikir kalau untuk membagikan kasih sayang tidak perlu kepada anak kandung saja tetapi juga kepada keponakan atau anak-anak dilingkungan sekitarnya.
Satu hal yang terpenting adalah belum adanya kehadiran buah hati sebaiknya tidak mengurang kadar kemesraan suami istri. Mereka bisa menjalankan aktifitas sehari-hari seperti biasanya dengan saling memberi motiavsi. Ekspresi kesedihan karena lama tidak mendapatkan anak, biasanya lebih terlihat pada istri. Suami, seharusnya mau mendengarkan setiap keluhan istri dan menghibur sang istri dalam mengisi hari-harinya agar tetap menyenangkan. Jangan menjadikan ketidakhadiran anak sebagai masalah besar dalam keluarga. Hal terpenting adalah bagaimana agar pasangan menjadikan kehidupan ini tetap bermakna tanpa mengurangi kadar sayang mereka masing-masing dan kasih sayang bisa diberikan kepada siapapun.
Tips bagi pasangan menikah:
1.Jangan terlalu cepat mengambil judgement terhadap salah satu pasangan yang kurang
sehat
2.Secara sadar, mereka berdua memeriksakan diri ke dokter guna penanganan yang lebih
baik
3.Saling mendukung bila memang salah satu ternyata dinyatakan kurang sehat.
4.Mencoba santai dan tidak terus menerus fokus pada masalah yang dialami agar tidak
membuang-buang energi.
5.Belajar untuk menjalin komunikasi yang tepat dengan pasangan, belajar mendengarkan
dan tidak egois.
6.Mengambil hikmah dan berpikir positif atas situasi yang dialami, serta mengingat
hal-hal yang positif pasangan kita serta tidak menggali hal-hal negatif pasangan
kita.
7.Tidak membandingkan pasangan kita dengan orang lain, tapi bandingkanlah pasangan
kita dengan dirinya sendiri.
8.Sering memuji pasangan dan belajar saling percaya serta tidak lupa untuk
mengucapkan terimakasih kepada pasangan kita.
9.Memvariasi hubungan, misalnya pergi ketempat-tempat Anda berpacaran dulu, agar
tetap romantis.
10.Jangan ada orang ketiga di dalam rumah tangga. Misalnya orangtua, keponakan atau
yang lainnya. Agar ketika terjadi konflik dengan pasangan, Anda berdua dapat
dengan cepat menyesuaikan diri. Bahkan sebaiknya pembantu pun tidak perlu ada.
Dengan membersihkan dan memasak berdua, Anda bisa membuat suasana romantis.
Monday, September 10, 2007
Berbagi Peran, Berbagi Beban
Pada sebagian kalangan masyarakat, berlaku anggapan bahwa istri bertugas melahirkan anak dan suami bertugas mencari nafkah. Namun bagaimanakah dengan keluarga yang belum memiliki anak, atau istri yang tidak dapat mempunyai anak, apakah ia tidak patut untuk dinafkahi? Lalu dimanakah peran suami?
Sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan, banyak orang yang cenderung hanya memikirkan diri sendiri. Namun kondisi tersebut akan sulit dipertahankan ketika mereka mulai membangun rumah tangga. Ego masing-masing mau tidak mau harus berkurang, beberapa hal bahkan terpaksa dihilangkan. Setelah menikah, tenggang rasa dan sikap saling bantu amat dituntut pada setiap pasangan. Baik bagi mereka yang baru mendirikan rumah tangga, atau yang sudah lama menjalani kehidupan bersama.
Hubungan suami istri yang harmonis akan menjadi dasar pertumbuhan sebuah keluarga. Oleh karena itu sebaiknya sebelum menikah, konsep hubungan suami istri sudah dibicarakan dan disetujui bersama demi kepentingan bersama pula. Tak jarang kompromi untuk menyiasati perbedaan suami istri berupa pembagian peran dan tangggung jawab yang kaku. Namun peran yang kaku mengenai tugas dan peran istri dan suami, dapat membawa implikasi psikologi dan sosial yang sangat kompleks. Ketika role expectation dari masing-masing pihak tak terpenuhi, kondisi tersebut berpotensi menjadi pemicu masalah.
Pembagian peran antara suami istri semuanya berbalik pada perjanjian awal saat mereka menikah. Namun perlu ditekankan bahwa tugas utama untuk menghidupi keluarga ada pada suami. Istri bisa saja mengemban tugas itu, tetapi hal itu karena sesuatu hal yang di luar dugaan. Misalnya suami sudah tidak bisa bekerja atau karena masalah lainnya. Tapi meskipun istri bekerja, perlu disadari bahwa tugasnya hanyalah sebagai penopang atau penambah. Jadi kalau penghasilan istri lebih besar dari suami, si istri tidak boleh sombong karena manusia juga mempunyai mutual-respect. Bila suami sensitif tentu ia akan merasa minder.
Suami, mempunyai tugas untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab terhadap keluarga, karena ia berperan sebagai kepala keluarga. Namun selain bertugas mengayomi, melindungi, dan berlaku lebih bijak terhadap istri dan anak-anaknya, suami juga dapat menjalankan pekerjaan yang biasa istri lakukan, yaitu mengurus pekerjaan rumah tangga. Begitu pula istri, selain bertanggungjawab terhadap pekerjaan rumah tangga ia juga berperan untuk selalu mendukung dan menolong suami ketika ia mengalami kesulitan, misalnya dalam mengambil keputusan. Istri dapat menjadi orang yang paling berpengaruh dalam setiap keputusan yang diambil suami.
Mengenai pembagian peran suami istri ini hubungan suami istri yang ideal berupa hubungan “partnership”. Hubungan kemitraan ini menurutnya paling ideal dalam era perubahan yang terjadi dewasa ini, dan berbagai tuntutan yang muncul. Namun penerapan hubungan tersebut juga harus secara fleksibel. Meski suami sebagai kepala keluarga merupakan final decision maker, bukan berarti ia tidak bisa menerapkan hubungan yang bersifat partnership. Setiap keputusan yang diambil harus demi kepentingan keluarga. Hubungan partnership akan lebih banyak berperan pada pembagian tugas dalam keluarga, seperti mendidik dan membimbing anak, mendelegasikan pekerjaan rumah tangga ke pembantu, dan lain-lain.
Apalagi bagi pasangan yang sama-sama bekerja. Selain menerapkan konsep hubungan kemitraan, seorang istri yang bekerja juga harus memiliki konsep manajemen rumah tangga yang baik. Dengan demikian kepentingan-kepentingan rumah tangga tidak boleh terabaikan, karena perhatian dan energi sang istri lebih didominasi oleh pekerjaan.
Tanggung Jawab
“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Menghadapi tuntutan hidup yang semakin besar saat ini, suami istri dituntut untuk melakukan tugas bersama-sama, apalagi bila keduanya bekerja. Suami tidak bisa sepenuhnya mengharapkan istri adalah orang yang satu-satunya bertanggungjawab terhadap anak. Namun pekerjaan apa yang harus dikerjakan, semua itu tergantung dari kesukaan dan minat masing-masing?
Misalnya ada suami yang tidak suka beres-beres tapi dia suka masak, maka saat libur dia bisa memasak dan istri yang beres-beres rumah. Begitu juga pada saat pembantu tidak ada. Suami istri sebaiknya menyadari bahwa tugas rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa kesadaran tersebut, maka kedamaian di dalam rumah bisa sering terganggu. Bukan alasan lagi bagi suami istri untuk tidak saling membantu dalam urusan rumah tangga.
Jika salah satu dari pasangan tidak dapat menjalankan tugasnya (misalnya, mengecek PR anak) karena tuntutan pekerjaan, maka pasangan lainnya dapat menggantikan. Saling menggantikan tugas mendidik anak ini, merupakan bentuk tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, komunikasi antara suami dan istri menjadi sangat penting. Hal ini sangat mudah dilakukan mengingat ketersediaan fasilitas dan teknologi komunikasi yang kian maju.
Salah satu syarat dalam rumah tangga adalah mengembangkan relasi terbuka. Artinya keduanya harus membiasakan diri mengungkapkan apapun yang dirasakan dan diinginkan tanpa khawatir salah satu pihak merasa sakit hati. Saling menghargai bisa terwujud kalau komunikasi antar pasangan berjalan baik dan efektif. Istri menceritakan apa pun yang dilakukannya, suami juga melakukan hal yang sama. Komunikasi yang lancar biasanya membuat suami istri merasa saling membutuhkan.
Saat ini sudah tidak lagi berlaku pembagian tugas rumah tangga secara gender. Sudah bukan hal aneh lagi, bila suami melakukan sejumlah tugas rumah tangga seperti membeli makanan dan belanja ke supermarket. Demikian pula dalam hal mendidik anak. Mendidik anak harus dilakukan berdua, karena anak harus mendapat figure ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai pendampingnya. Sehingga peran suami istri lebih pada ‘spirit’, bahwa seorang Ibu lebih sebagai ‘direktur operasional’ di dalam keluarga, sedangkan Ayah sebagai ‘presiden direktur’ yang membawa seluruh keluarga kepada tujuan yang hendak dicapai dan sebagai pemegang keputusan final.
Selain tanggung jawab, hal utama yang perlu diterapkan oleh pasangan adalah komunikasi dan toleransi. Karena terkadang suami kurang mempunyai sifat sensitif, maka jika istri merasa tidak nyaman dengan beban pekerjaan rumah tangga yang diembannya, maka ia harus membicarakannya kepada suami.
Sebaliknya seorang istri yang ingin ”menegur” suami haruslah memilih waktu dan masa yang tepat, seperti ketika hendak tidur atau waktu istirahat pada petang hari. Pada saat-saat itulah suami biasanya berpikiran tenang dan terbuka. Istri juga perlu bersikap toleran dan menghargai keadaan suami. Bila suami tiba-tiba tidak bisa melakukan tugasnya, maka istrilah yang harus menggantikannya.
Dengan adanya pengaturan tugas masing-masing pasangan, maka tak sepantasnya lagi suami mengharapkan istri menjadi satu-satunya pihak yang bertanggungjawab atas segala sesuatu yang berkaitan dengan anak. Mulai dari perhatian, pengajaran, makanan, hiburan, sampai dengan kebersihan rumah. Dengan menerapkan sikap toleransi di dalam rumah tangga maka permasalahan akibat saling menggantungkan terhadap pasangan tidak mungkin terjadi.
Misalnya, ketika sang istri harus menghadiri sebuah rapat penting sementara anak sendirian di rumah dan pembantu pulang kampung. Bila suami tidak memiliki pekerjaan yang mendesak, maka ia berkewajiban menggantikan tugas istri yakni menjaga si kecil bahkan mungkin termasuk memasak untuk anak. Bila suami sudah bersedia menolong istri, ucapan terima kasih perlu sentiasa diucapkan supaya si suami merasa dirinya dihargai.
Kerja Sama Antar Anggota
Pada dasarnya pembantu rumah tangga bukan pekerja yang bisa mengerjakan seluruh tugas rumah tangga. Sesuai sebutannya, ia hanya berfungsi sebagai “helper”, bukan pengganti fungsi orangtua bagi anak. Jangan sampai pembantu menjadi pemisah hubungan orang tua dan anak. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak-anak, agar hubungan emosional tetap terjalin kepada orangtua sejak anak-anak masih kecil. Begitu juga dengan pasangan yang sama-sama sibuk bekerja, sebaiknya tetap harus memprioritaskan komunikasi kepada anak. Berusaha semaksimal mungkin agar mereka dapat menjadi panutan anak-anak, sehingga anak-anak tidak mencari panutan di tempat lain.
Pembagian tugas di dalam rumah tangga tidak melulu dilakukan oleh suami istri. Mereka yang mempunyai anak cukup besar bisa melibatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah, namun cukup yang ringan-ringan saja. Anak-anak dapat diberi pengertian bahwa semua orang yang ada di dalam rumah dapat berperan, misalnya merapikan bekas mainannya atau tempat tidurnya.
Anak-anak perlu diberi batasan tugas dan tanggung jawab yang besar kecilnya disesuaikan dengan kematangan usianya. Dalam proses perkembangan anak, memberi contoh adalah cara yang paling efektif untuk mengharapkan anak melakukan sesuatu. Misalnya menerapkan konsep hidup sehat. Di sini orang tua dapat memberi contoh bagaimana mengatur keseimbangan hidup melalui makan yang sehat, cara hidup yang sehat, olah raga teratur, berpikir yang positif dan optimis, mengerjakan sesuatu dengan penuh ketekunan untuk menghasilkan sesuatu yang besar, dan lain-lain. Tugas dan tanggung jawab kepada anak harus selalu diingatkan agar nilai tersebut dapat diinternalisasi pada masing-masing individu anak.
Melepas Ketergantungan Pembantu
Ada sebagian pasangan menikah ‘kelimpungan’ saat pembantu dirumah pulang kampung atau mendadak ijin karena sakit. Tiba-tiba saja rumah Anda menjadi ”porak poranda” karena tidak terurus. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi jika anggota keluarga sudah terbiasa berbagai tugas melakukan pekerjaan rumah.
Rosdiana menambahkan bahwa pemilik rumah dengan pembantu memiliki hubungan mutualisme, dimana pembantu mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan si pemilik mendapatkan hasilnya. Namun keadaan ini tidak terlalu baik jika sepenuhnya pekerjaan diserahkan kepada pembantu. Jika memang pembantu perlu ada didalam rumah, maka ia hanya cukup melakukan pekerjaan rumah saja, sedangkan pekerjaan mengasuh anak tetap dilakukan oleh suami istri. Sebagai orangtua, kita tetap mempunyai tugas untuk mengurus anak. Belanja bulanan, mengatur menu, pekerjaan sekolah (PR) anak-anak, dan lain-lain juga dapat dilakukan oleh orangtua. Hal itulah yang bisa dibagi dengan anggota keluarga lainnya.
Begitu pula ketika menghadapi Hari Raya. Pembantu yang mudik atau pulang kampung tidak perlu meresahkan atau malah menjadi beban yang amat berat bagi pasangan menikah. Hal ini justru menjadi ajang bagi suami istri untuk menjalin hubungan menjadi lebih erat lagi. Misalnya mencuci mobil bersama-sama, memasak bersama, membereskan rumah dan lain sebagainya. Dengan membagi tugas antara pasangan, pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya justru akan menambah keharmonisan di dalam keluarga.
Tips bagi pasangan dalam berbagi tugas
1.Kompromi dengan melakukan komunikasi terbuka dengan pasangan, pekerjaan dan tugas
rumah tangga apa yang harus dilakukan masing-masing.
2.Dalam membagi tugas atau pekerjaan tersebut, sebaiknya disesuaikan dengan minat dan
kesukaan pasangan masing-masing.
3.Jangan memaksakan pasangan kita untuk melakukan pekerjaan yang tidak disukainya.
4.Jangan menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang amat berat.
5.Kurangi standar hasil pekerjaan. Misalnya ketika ada pembantu lantai bersih
kinclong, maka bila pembantu tidak ada bersih saja pun cukuplah. Menu masakan yang
biasanya lima macam dalam satu hari jika dimasak pembantu, ketika harus masak
sendiri bisa dikurangi menjadi tiga macam menu saja.
6.Selain suami, libatkan juga anak-anak agar keharmonisan dalam keluarga bisa lebih
terjalin.
7.Jangan terlalu mengharapkan hasil yang sempurna dengan hasil pekerjaan yang
dilakukan oleh suami. Bagaimanapun juga diperlukan proses dalam melakukan semuanya
itu.
8.Jika suami enggan membantu menguruskan rumah tangga, isteri haruslah bijak untuk
memainkan peranan dengan menegur sikap suami dengan cara baik dan lembut. Pilih
waktu dan saat yang tepat.
9.Ucapkan terima kasih kepada pasangan Anda seusai ia melakukan tugasnya. Agar ia
merasa dihargai.
10.Kesetaraan dalam melakukan tugas rumah tangga bisa berhasil apabila pasangan
saling menghargai. Misalnya, suami bangga dan mendukung karier istri di luar
rumah. Sebaliknya, istri pun menghargai keterlibatan suami dalam mengelola tugas
rumah tangga.
Sebelum memutuskan untuk melanjutkan hubungan ke jenjang perkawinan, banyak orang yang cenderung hanya memikirkan diri sendiri. Namun kondisi tersebut akan sulit dipertahankan ketika mereka mulai membangun rumah tangga. Ego masing-masing mau tidak mau harus berkurang, beberapa hal bahkan terpaksa dihilangkan. Setelah menikah, tenggang rasa dan sikap saling bantu amat dituntut pada setiap pasangan. Baik bagi mereka yang baru mendirikan rumah tangga, atau yang sudah lama menjalani kehidupan bersama.
Hubungan suami istri yang harmonis akan menjadi dasar pertumbuhan sebuah keluarga. Oleh karena itu sebaiknya sebelum menikah, konsep hubungan suami istri sudah dibicarakan dan disetujui bersama demi kepentingan bersama pula. Tak jarang kompromi untuk menyiasati perbedaan suami istri berupa pembagian peran dan tangggung jawab yang kaku. Namun peran yang kaku mengenai tugas dan peran istri dan suami, dapat membawa implikasi psikologi dan sosial yang sangat kompleks. Ketika role expectation dari masing-masing pihak tak terpenuhi, kondisi tersebut berpotensi menjadi pemicu masalah.
Pembagian peran antara suami istri semuanya berbalik pada perjanjian awal saat mereka menikah. Namun perlu ditekankan bahwa tugas utama untuk menghidupi keluarga ada pada suami. Istri bisa saja mengemban tugas itu, tetapi hal itu karena sesuatu hal yang di luar dugaan. Misalnya suami sudah tidak bisa bekerja atau karena masalah lainnya. Tapi meskipun istri bekerja, perlu disadari bahwa tugasnya hanyalah sebagai penopang atau penambah. Jadi kalau penghasilan istri lebih besar dari suami, si istri tidak boleh sombong karena manusia juga mempunyai mutual-respect. Bila suami sensitif tentu ia akan merasa minder.
Suami, mempunyai tugas untuk mencari nafkah dan bertanggung jawab terhadap keluarga, karena ia berperan sebagai kepala keluarga. Namun selain bertugas mengayomi, melindungi, dan berlaku lebih bijak terhadap istri dan anak-anaknya, suami juga dapat menjalankan pekerjaan yang biasa istri lakukan, yaitu mengurus pekerjaan rumah tangga. Begitu pula istri, selain bertanggungjawab terhadap pekerjaan rumah tangga ia juga berperan untuk selalu mendukung dan menolong suami ketika ia mengalami kesulitan, misalnya dalam mengambil keputusan. Istri dapat menjadi orang yang paling berpengaruh dalam setiap keputusan yang diambil suami.
Mengenai pembagian peran suami istri ini hubungan suami istri yang ideal berupa hubungan “partnership”. Hubungan kemitraan ini menurutnya paling ideal dalam era perubahan yang terjadi dewasa ini, dan berbagai tuntutan yang muncul. Namun penerapan hubungan tersebut juga harus secara fleksibel. Meski suami sebagai kepala keluarga merupakan final decision maker, bukan berarti ia tidak bisa menerapkan hubungan yang bersifat partnership. Setiap keputusan yang diambil harus demi kepentingan keluarga. Hubungan partnership akan lebih banyak berperan pada pembagian tugas dalam keluarga, seperti mendidik dan membimbing anak, mendelegasikan pekerjaan rumah tangga ke pembantu, dan lain-lain.
Apalagi bagi pasangan yang sama-sama bekerja. Selain menerapkan konsep hubungan kemitraan, seorang istri yang bekerja juga harus memiliki konsep manajemen rumah tangga yang baik. Dengan demikian kepentingan-kepentingan rumah tangga tidak boleh terabaikan, karena perhatian dan energi sang istri lebih didominasi oleh pekerjaan.
Tanggung Jawab
“Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing”. Menghadapi tuntutan hidup yang semakin besar saat ini, suami istri dituntut untuk melakukan tugas bersama-sama, apalagi bila keduanya bekerja. Suami tidak bisa sepenuhnya mengharapkan istri adalah orang yang satu-satunya bertanggungjawab terhadap anak. Namun pekerjaan apa yang harus dikerjakan, semua itu tergantung dari kesukaan dan minat masing-masing?
Misalnya ada suami yang tidak suka beres-beres tapi dia suka masak, maka saat libur dia bisa memasak dan istri yang beres-beres rumah. Begitu juga pada saat pembantu tidak ada. Suami istri sebaiknya menyadari bahwa tugas rumah tangga merupakan tanggung jawab bersama. Tanpa kesadaran tersebut, maka kedamaian di dalam rumah bisa sering terganggu. Bukan alasan lagi bagi suami istri untuk tidak saling membantu dalam urusan rumah tangga.
Jika salah satu dari pasangan tidak dapat menjalankan tugasnya (misalnya, mengecek PR anak) karena tuntutan pekerjaan, maka pasangan lainnya dapat menggantikan. Saling menggantikan tugas mendidik anak ini, merupakan bentuk tanggung jawab bersama. Oleh karena itu, komunikasi antara suami dan istri menjadi sangat penting. Hal ini sangat mudah dilakukan mengingat ketersediaan fasilitas dan teknologi komunikasi yang kian maju.
Salah satu syarat dalam rumah tangga adalah mengembangkan relasi terbuka. Artinya keduanya harus membiasakan diri mengungkapkan apapun yang dirasakan dan diinginkan tanpa khawatir salah satu pihak merasa sakit hati. Saling menghargai bisa terwujud kalau komunikasi antar pasangan berjalan baik dan efektif. Istri menceritakan apa pun yang dilakukannya, suami juga melakukan hal yang sama. Komunikasi yang lancar biasanya membuat suami istri merasa saling membutuhkan.
Saat ini sudah tidak lagi berlaku pembagian tugas rumah tangga secara gender. Sudah bukan hal aneh lagi, bila suami melakukan sejumlah tugas rumah tangga seperti membeli makanan dan belanja ke supermarket. Demikian pula dalam hal mendidik anak. Mendidik anak harus dilakukan berdua, karena anak harus mendapat figure ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu sebagai pendampingnya. Sehingga peran suami istri lebih pada ‘spirit’, bahwa seorang Ibu lebih sebagai ‘direktur operasional’ di dalam keluarga, sedangkan Ayah sebagai ‘presiden direktur’ yang membawa seluruh keluarga kepada tujuan yang hendak dicapai dan sebagai pemegang keputusan final.
Selain tanggung jawab, hal utama yang perlu diterapkan oleh pasangan adalah komunikasi dan toleransi. Karena terkadang suami kurang mempunyai sifat sensitif, maka jika istri merasa tidak nyaman dengan beban pekerjaan rumah tangga yang diembannya, maka ia harus membicarakannya kepada suami.
Sebaliknya seorang istri yang ingin ”menegur” suami haruslah memilih waktu dan masa yang tepat, seperti ketika hendak tidur atau waktu istirahat pada petang hari. Pada saat-saat itulah suami biasanya berpikiran tenang dan terbuka. Istri juga perlu bersikap toleran dan menghargai keadaan suami. Bila suami tiba-tiba tidak bisa melakukan tugasnya, maka istrilah yang harus menggantikannya.
Dengan adanya pengaturan tugas masing-masing pasangan, maka tak sepantasnya lagi suami mengharapkan istri menjadi satu-satunya pihak yang bertanggungjawab atas segala sesuatu yang berkaitan dengan anak. Mulai dari perhatian, pengajaran, makanan, hiburan, sampai dengan kebersihan rumah. Dengan menerapkan sikap toleransi di dalam rumah tangga maka permasalahan akibat saling menggantungkan terhadap pasangan tidak mungkin terjadi.
Misalnya, ketika sang istri harus menghadiri sebuah rapat penting sementara anak sendirian di rumah dan pembantu pulang kampung. Bila suami tidak memiliki pekerjaan yang mendesak, maka ia berkewajiban menggantikan tugas istri yakni menjaga si kecil bahkan mungkin termasuk memasak untuk anak. Bila suami sudah bersedia menolong istri, ucapan terima kasih perlu sentiasa diucapkan supaya si suami merasa dirinya dihargai.
Kerja Sama Antar Anggota
Pada dasarnya pembantu rumah tangga bukan pekerja yang bisa mengerjakan seluruh tugas rumah tangga. Sesuai sebutannya, ia hanya berfungsi sebagai “helper”, bukan pengganti fungsi orangtua bagi anak. Jangan sampai pembantu menjadi pemisah hubungan orang tua dan anak. Hal ini perlu ditanamkan kepada anak-anak, agar hubungan emosional tetap terjalin kepada orangtua sejak anak-anak masih kecil. Begitu juga dengan pasangan yang sama-sama sibuk bekerja, sebaiknya tetap harus memprioritaskan komunikasi kepada anak. Berusaha semaksimal mungkin agar mereka dapat menjadi panutan anak-anak, sehingga anak-anak tidak mencari panutan di tempat lain.
Pembagian tugas di dalam rumah tangga tidak melulu dilakukan oleh suami istri. Mereka yang mempunyai anak cukup besar bisa melibatkan anak-anak dalam pekerjaan rumah, namun cukup yang ringan-ringan saja. Anak-anak dapat diberi pengertian bahwa semua orang yang ada di dalam rumah dapat berperan, misalnya merapikan bekas mainannya atau tempat tidurnya.
Anak-anak perlu diberi batasan tugas dan tanggung jawab yang besar kecilnya disesuaikan dengan kematangan usianya. Dalam proses perkembangan anak, memberi contoh adalah cara yang paling efektif untuk mengharapkan anak melakukan sesuatu. Misalnya menerapkan konsep hidup sehat. Di sini orang tua dapat memberi contoh bagaimana mengatur keseimbangan hidup melalui makan yang sehat, cara hidup yang sehat, olah raga teratur, berpikir yang positif dan optimis, mengerjakan sesuatu dengan penuh ketekunan untuk menghasilkan sesuatu yang besar, dan lain-lain. Tugas dan tanggung jawab kepada anak harus selalu diingatkan agar nilai tersebut dapat diinternalisasi pada masing-masing individu anak.
Melepas Ketergantungan Pembantu
Ada sebagian pasangan menikah ‘kelimpungan’ saat pembantu dirumah pulang kampung atau mendadak ijin karena sakit. Tiba-tiba saja rumah Anda menjadi ”porak poranda” karena tidak terurus. Sebenarnya hal itu tidak perlu terjadi jika anggota keluarga sudah terbiasa berbagai tugas melakukan pekerjaan rumah.
Rosdiana menambahkan bahwa pemilik rumah dengan pembantu memiliki hubungan mutualisme, dimana pembantu mengerjakan pekerjaan rumah, sedangkan si pemilik mendapatkan hasilnya. Namun keadaan ini tidak terlalu baik jika sepenuhnya pekerjaan diserahkan kepada pembantu. Jika memang pembantu perlu ada didalam rumah, maka ia hanya cukup melakukan pekerjaan rumah saja, sedangkan pekerjaan mengasuh anak tetap dilakukan oleh suami istri. Sebagai orangtua, kita tetap mempunyai tugas untuk mengurus anak. Belanja bulanan, mengatur menu, pekerjaan sekolah (PR) anak-anak, dan lain-lain juga dapat dilakukan oleh orangtua. Hal itulah yang bisa dibagi dengan anggota keluarga lainnya.
Begitu pula ketika menghadapi Hari Raya. Pembantu yang mudik atau pulang kampung tidak perlu meresahkan atau malah menjadi beban yang amat berat bagi pasangan menikah. Hal ini justru menjadi ajang bagi suami istri untuk menjalin hubungan menjadi lebih erat lagi. Misalnya mencuci mobil bersama-sama, memasak bersama, membereskan rumah dan lain sebagainya. Dengan membagi tugas antara pasangan, pekerjaan apa saja yang harus dilakukannya justru akan menambah keharmonisan di dalam keluarga.
Tips bagi pasangan dalam berbagi tugas
1.Kompromi dengan melakukan komunikasi terbuka dengan pasangan, pekerjaan dan tugas
rumah tangga apa yang harus dilakukan masing-masing.
2.Dalam membagi tugas atau pekerjaan tersebut, sebaiknya disesuaikan dengan minat dan
kesukaan pasangan masing-masing.
3.Jangan memaksakan pasangan kita untuk melakukan pekerjaan yang tidak disukainya.
4.Jangan menganggap pekerjaan rumah adalah pekerjaan yang amat berat.
5.Kurangi standar hasil pekerjaan. Misalnya ketika ada pembantu lantai bersih
kinclong, maka bila pembantu tidak ada bersih saja pun cukuplah. Menu masakan yang
biasanya lima macam dalam satu hari jika dimasak pembantu, ketika harus masak
sendiri bisa dikurangi menjadi tiga macam menu saja.
6.Selain suami, libatkan juga anak-anak agar keharmonisan dalam keluarga bisa lebih
terjalin.
7.Jangan terlalu mengharapkan hasil yang sempurna dengan hasil pekerjaan yang
dilakukan oleh suami. Bagaimanapun juga diperlukan proses dalam melakukan semuanya
itu.
8.Jika suami enggan membantu menguruskan rumah tangga, isteri haruslah bijak untuk
memainkan peranan dengan menegur sikap suami dengan cara baik dan lembut. Pilih
waktu dan saat yang tepat.
9.Ucapkan terima kasih kepada pasangan Anda seusai ia melakukan tugasnya. Agar ia
merasa dihargai.
10.Kesetaraan dalam melakukan tugas rumah tangga bisa berhasil apabila pasangan
saling menghargai. Misalnya, suami bangga dan mendukung karier istri di luar
rumah. Sebaliknya, istri pun menghargai keterlibatan suami dalam mengelola tugas
rumah tangga.
Monday, August 20, 2007
Jika Pasangan Tetap Memilih Bertahan........
Sikap bertahan dalam konflik bagi sebagian suami istri justru dapat membawa kebaikan bagi hubungan. Adakalanya konflik jadi bumbu dan perekat perkawinan serta menambah wawasan saling memahami perasaan, pikiran dan keinginan pasangan.
Saat berikrar menjadi suami istri dan sanggup mengarungi setiap badai yang menerpa hingga akhir hayat, tak satu pasangan yang berniat untuk kemudian berpisah atau bercerai. Namun, dalam menjalani perkawinan konflik yang muncul seringkali tak tertahankan. Banyak kisah perceraian yang terjadi. Tapi, banyak pula yang tetap bertahan dengan segala alasan. Padahal tak jarang di antara mereka sudah tak memiliki ikatan emosional lagi walau tetap hidup serumah. Mungkinkan pasangan sanggup terus bertahan dan hidup rukun seperti sebelumnya? Bagaimana pengaruhnya bagi tumbuh kembang anak yang ada?
Biasanya, pasangan suami istri yang memilih untuk tetap bertahan dikarenakan beberapa faktor. Pertama faktor financial, yang jika mereka berpisah maka kondisi ekonomi yang akan dimiliki nanti tidak sebaik saat bersama. Kedua, mempertahankan nama baik. Bila bercerai, maka kredibilitas mereka menjadi jelek di mata keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Karena, misalnya, tak ada di riwayat keluarga yang melakukan penceraian.
Ketiga, status. Sebagian besar pihak yang bertahan adalah wanita karena tak mau menyandang status janda. Keempat, keberadaan anak. Sebagian besar pasangan memutuskan tetap bertahan karena faktor anak. Mereka ingin membesarkan anak-anak bersama dan biasanya ketika anak-anak sudah besar mereka akan bercerai. Kelima keyakinan. Ada beberapa agama yang melarang penceraian, perpisahan yang karena maut. Meskipun dalam kondisi masih berkonflik seharusnya pasangan yang bertahan itu terus mencari solusi mengatasi konflik itu sendiri.
Memang tidak enak rasanya tinggal satu atap tapi hati sebenarnya sudah tidak menyatu, terlebih lagi bagi pihak yang memutuskan untuk tetap bertahan tadi. Konsekuensi yang dihadapi pihak yang bertahan tidaklah gampang. Sakit hati, tentu terus menyertai. Kemungkinan konsekuensi yang harus diterima bagi yang bertahan adalah perang dingin, pisah ranjang, dan kondisi yang tidak enak ketika sedang bersama-sama dengan anak-anak.
Yang membuat kesal tentu jika salah satu tidak menjalankan perannya dan hanya menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya pada satu pihak saja. Kendala yang dihadapi pihak yang bertahan dengan perasaannya yang tidak enak itu ia harus tetap dapat menghadapi anak-anaknya dengan baik.
Acting di depan anak-anak
Bertahan dalam konflik bukan sesuatu yang mudah bagi seseorang. Situasi ini bisa menguras energi dan pikiran bagi pihak yang bertahan. Apalagi bila konflik tidak kunjung selesai dan tidak ada solusi, maka akan membuat konsentrasi mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari mudah teralih. Yang ada mereka kurang dapat optimal dalam melakukan aktivitas dan pekerjaannya. Bahkan dampak konflik orangtua lambat laun juga dapat dirasakan dan berimbas pada kesehatan mental anak-anak. Untuk itu, sebaiknya suami istri perlu mawas diri dengan tidak mengedepankan ego masing-masing. Mereka harus mampu berpikir jernih dan mampu melakukan introspeksi diri. Ber-acting dan pura-pura seperti menjadi suami istri yang normal mungkin mudah dijalankan di awal, namun lama kelamaan akan membuat lelah fisik dan mental.
Jika pasangan tetap bertahan demi anak-anak yang masih kecil-kecil tentu akan memberikan stres tersendiri bagi yang bertahan itu. Mereka beraksi tetap menjalankan peran sebagai sosok suami istri dan orangtua. Acting yang mereka lakukan sebenarnya membuat tertekan, tidak dapat ekspresi apa adanya karena penuh dengan ke pura-puraan dan kebohongan. Namun karena hal ini menjadi tuntutan tersendiri dan dilakukan terus menerus, kemungkinan bisa membuat mereka akhirnya terbiasa. Bahkan bisa saja lambat laun hubungan justru menjadi seperti pertemanan saja. Mereka bisa saling bekerja sama, diskusi dan membicarakan kondisi anak-anak karena sadar masih memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan dan pendidikan anak.
Sikap bertahan dalam konflik bagi sebagian suami istri justru kemudian dapat membawa kebaikan bagi hubungan yang ada. Adakalanya konflik menjadi bumbu dan perekat perkawinan. Melalui konflik dan friksi dapat menambah wawasan untuk saling memahami perasaan, pikiran dan keinginan pasangan. Yang penting bukan pengalaman konfliknya, tapi bagaimana cara mereka mencari solusi dari konflik yang terjadi. Pasangan harus sadar dan memahami adanya perbedaan di antara mereka.
Namun demikian, konflik dapat menjadi tidak sehat jika terjadi terus menerus tanpa ada penyelesaian. Apalagi bila hal ini dilakukan di depan anak-anak. Anak-anak akan merasa tidak nyaman berada di rumah, kesehatan mental mereka dapat terganggu dan prestasi belajar mereka pun dapat menurun. Yang lebih parah, persepsi mereka terhadap relasi suami istri dan konsep perkawinan akan cenderung negatif.
Efek terhadap anak dan keluarga
Sebenarnya kepura-puraan itu tidak baik, akan tetapi menunjukkan pertikaian pun juga tidak baik. Jadi jalan terbaik adalah menyelesaikan dahulu permasalahan, agar mereka dapat memperlihatkan ke anak-anak yang benar dan tidak pura-pura karena kalaupun pura-pura pasti akan kelihatan. Bagi anak yang sudah mengerti akan permasalahan orangtuanya besar kemungkinan akan mengalami perubahan, misalnya menjadi pribadi yang tidak mau peduli, tidak percaya diri, egois, dan lainnya yang tergantung kondisi temperamen anak.
Walaupun dalam dunia psikolog hal ini tidak disarankan, namun dengan melihat upaya dari salah satu orangtua dalam mempertahankan perkawinan tentu memiliki dampak positif pada anak. Karena anak akan mengambil pula pembelajaran yang dilakukan oleh orangtuanya dan diharapkan akan menjadi salah satu bekal kehidupan ketika mereka suatu saat mengalami kondisi serupa.
Tips bertahan dalam konflik
1.Segera menemukan sumber masalah dan mencari penyelesaiannya.
Anda beserta pasangan harus membicarakan permasalahan yang sedang dihadapi. Anda boleh mendapatkan penyelesaian masalah dengan bantuan pihak yang terpercaya dan kompeten, seperti pemuka agama dan psikolog untuk mencari benang merahnya. Misalnya, jika pasangan berselingkuh, maka cari tahu apa yang membuatnya menjadi demikian, sehingga yang harus dilakukan adalah membenahi diri.
2.Introspeksi. Bila Anda sudah mengetahui penyebab konflik, cobalah untuk berintrospeksi. Ini yang seringkali sulit dilakukan. Pasalnya, masing-masing pasangan pasti merasa dirinyalah yang benar. Mereka tak bakal bisa menerima kenyataan bahwa dirinyalah pangkal sebab munculnya konflik tersebut. Mungkin, Anda malu mengakui secara jujur kekurangan, tapi cobalah menjawab dengan jujur pada diri sendiri bahwa yang dikatakan pasangan Anda ada benarnya. Namun, tentunya pasangan juga harus melakukan hal serupa.
3.Jangan memperbesar masalah. Jika Anda dan suami sudah tahu sumber keributan dan konflik dalam rumahtangga, sebaiknya jangan memperbesar masalah. Juga, jangan mencari masalah baru. Misalnya, melakukan tindakan kompensasi untuk memenuhi rasa kecewa, marah atau sakit hati. Pasalnya, ini justru akan memperkeruh suasana dan menjauhkan dari penyelesaian masalah. Yang diperlukan adalah kebesaran hati menerima keadaan yang ada sambil mencoba cara membenahi diri dan situasi.
4.Komunikasi. Apapun, komunikasi merupakan pondasi sebuah hubungan, termasuk hubungan dalam perkawinan. Tanpa komunikasi, hubungan tak bakal bisa bertahan. Jadi, seberat apapun situasi yang tengah Anda hadapi, sebaiknya tetap lakukan komunikasi dengan pasangan.
5.Cari teman curhat. Kondisi seperti ini memang tidak mengenakkan. Hati merasa tertekan, namun dipihak lain Anda harus menjadi pemain sandiwara ulung. Bagaimana pun stres akan menjalari Anda. Kondisi tak nyaman ini bisa diatasi melalui berbagi dengan orang terdekat, sahabat misalnya. Dengan berbagi beban pikiran akan terasa lebih ringan. Yang harus dicermati, jangan mencari teman curhat yang lawan jenis, karena belum tentu sepenuhnya ia akan mendukung Anda. Selain itu, carilah orang yang terpercaya dan bukan pengedar gosip, karena kisah Anda mungkin tersebar dan bisa mempersulit keadaan.
6.Ingat anak. Anak biasanya menjadi senjata terampuh untuk meredam konflik antara suami istri. Ingatlah bahwa mereka masih sangat membutuhkan Anda dan pasangan, karenanya ketidakjujuran dan kepura-puraan juga tidak baik ditunjukkan pada mereka.
7.Buka lembaran baru. Jika Anda dan pasangan akhirnya bisa kembali rukun, maka Anda
harus siap membuka lembaran baru bersamanya. Jangan pernah mengungkit persoalan dan
penyebab konflik. Yang paling penting saling mengingatkan dan memperbaiki
kekurangan-kekurangan yang ada. Berpikirlah bahwa orang yang baik bukan berarti tak
pernah berbuat kesalahan. Tapi, orang yang baik adalah yang menyadari kesalahannya
dan berketetapan tak mengulang kesalahan itu.
Saat berikrar menjadi suami istri dan sanggup mengarungi setiap badai yang menerpa hingga akhir hayat, tak satu pasangan yang berniat untuk kemudian berpisah atau bercerai. Namun, dalam menjalani perkawinan konflik yang muncul seringkali tak tertahankan. Banyak kisah perceraian yang terjadi. Tapi, banyak pula yang tetap bertahan dengan segala alasan. Padahal tak jarang di antara mereka sudah tak memiliki ikatan emosional lagi walau tetap hidup serumah. Mungkinkan pasangan sanggup terus bertahan dan hidup rukun seperti sebelumnya? Bagaimana pengaruhnya bagi tumbuh kembang anak yang ada?
Biasanya, pasangan suami istri yang memilih untuk tetap bertahan dikarenakan beberapa faktor. Pertama faktor financial, yang jika mereka berpisah maka kondisi ekonomi yang akan dimiliki nanti tidak sebaik saat bersama. Kedua, mempertahankan nama baik. Bila bercerai, maka kredibilitas mereka menjadi jelek di mata keluarga dan lingkungan di sekitarnya. Karena, misalnya, tak ada di riwayat keluarga yang melakukan penceraian.
Ketiga, status. Sebagian besar pihak yang bertahan adalah wanita karena tak mau menyandang status janda. Keempat, keberadaan anak. Sebagian besar pasangan memutuskan tetap bertahan karena faktor anak. Mereka ingin membesarkan anak-anak bersama dan biasanya ketika anak-anak sudah besar mereka akan bercerai. Kelima keyakinan. Ada beberapa agama yang melarang penceraian, perpisahan yang karena maut. Meskipun dalam kondisi masih berkonflik seharusnya pasangan yang bertahan itu terus mencari solusi mengatasi konflik itu sendiri.
Memang tidak enak rasanya tinggal satu atap tapi hati sebenarnya sudah tidak menyatu, terlebih lagi bagi pihak yang memutuskan untuk tetap bertahan tadi. Konsekuensi yang dihadapi pihak yang bertahan tidaklah gampang. Sakit hati, tentu terus menyertai. Kemungkinan konsekuensi yang harus diterima bagi yang bertahan adalah perang dingin, pisah ranjang, dan kondisi yang tidak enak ketika sedang bersama-sama dengan anak-anak.
Yang membuat kesal tentu jika salah satu tidak menjalankan perannya dan hanya menumpahkan tanggung jawab sepenuhnya pada satu pihak saja. Kendala yang dihadapi pihak yang bertahan dengan perasaannya yang tidak enak itu ia harus tetap dapat menghadapi anak-anaknya dengan baik.
Acting di depan anak-anak
Bertahan dalam konflik bukan sesuatu yang mudah bagi seseorang. Situasi ini bisa menguras energi dan pikiran bagi pihak yang bertahan. Apalagi bila konflik tidak kunjung selesai dan tidak ada solusi, maka akan membuat konsentrasi mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari mudah teralih. Yang ada mereka kurang dapat optimal dalam melakukan aktivitas dan pekerjaannya. Bahkan dampak konflik orangtua lambat laun juga dapat dirasakan dan berimbas pada kesehatan mental anak-anak. Untuk itu, sebaiknya suami istri perlu mawas diri dengan tidak mengedepankan ego masing-masing. Mereka harus mampu berpikir jernih dan mampu melakukan introspeksi diri. Ber-acting dan pura-pura seperti menjadi suami istri yang normal mungkin mudah dijalankan di awal, namun lama kelamaan akan membuat lelah fisik dan mental.
Jika pasangan tetap bertahan demi anak-anak yang masih kecil-kecil tentu akan memberikan stres tersendiri bagi yang bertahan itu. Mereka beraksi tetap menjalankan peran sebagai sosok suami istri dan orangtua. Acting yang mereka lakukan sebenarnya membuat tertekan, tidak dapat ekspresi apa adanya karena penuh dengan ke pura-puraan dan kebohongan. Namun karena hal ini menjadi tuntutan tersendiri dan dilakukan terus menerus, kemungkinan bisa membuat mereka akhirnya terbiasa. Bahkan bisa saja lambat laun hubungan justru menjadi seperti pertemanan saja. Mereka bisa saling bekerja sama, diskusi dan membicarakan kondisi anak-anak karena sadar masih memiliki tanggung jawab terhadap perkembangan dan pendidikan anak.
Sikap bertahan dalam konflik bagi sebagian suami istri justru kemudian dapat membawa kebaikan bagi hubungan yang ada. Adakalanya konflik menjadi bumbu dan perekat perkawinan. Melalui konflik dan friksi dapat menambah wawasan untuk saling memahami perasaan, pikiran dan keinginan pasangan. Yang penting bukan pengalaman konfliknya, tapi bagaimana cara mereka mencari solusi dari konflik yang terjadi. Pasangan harus sadar dan memahami adanya perbedaan di antara mereka.
Namun demikian, konflik dapat menjadi tidak sehat jika terjadi terus menerus tanpa ada penyelesaian. Apalagi bila hal ini dilakukan di depan anak-anak. Anak-anak akan merasa tidak nyaman berada di rumah, kesehatan mental mereka dapat terganggu dan prestasi belajar mereka pun dapat menurun. Yang lebih parah, persepsi mereka terhadap relasi suami istri dan konsep perkawinan akan cenderung negatif.
Efek terhadap anak dan keluarga
Sebenarnya kepura-puraan itu tidak baik, akan tetapi menunjukkan pertikaian pun juga tidak baik. Jadi jalan terbaik adalah menyelesaikan dahulu permasalahan, agar mereka dapat memperlihatkan ke anak-anak yang benar dan tidak pura-pura karena kalaupun pura-pura pasti akan kelihatan. Bagi anak yang sudah mengerti akan permasalahan orangtuanya besar kemungkinan akan mengalami perubahan, misalnya menjadi pribadi yang tidak mau peduli, tidak percaya diri, egois, dan lainnya yang tergantung kondisi temperamen anak.
Walaupun dalam dunia psikolog hal ini tidak disarankan, namun dengan melihat upaya dari salah satu orangtua dalam mempertahankan perkawinan tentu memiliki dampak positif pada anak. Karena anak akan mengambil pula pembelajaran yang dilakukan oleh orangtuanya dan diharapkan akan menjadi salah satu bekal kehidupan ketika mereka suatu saat mengalami kondisi serupa.
Tips bertahan dalam konflik
1.Segera menemukan sumber masalah dan mencari penyelesaiannya.
Anda beserta pasangan harus membicarakan permasalahan yang sedang dihadapi. Anda boleh mendapatkan penyelesaian masalah dengan bantuan pihak yang terpercaya dan kompeten, seperti pemuka agama dan psikolog untuk mencari benang merahnya. Misalnya, jika pasangan berselingkuh, maka cari tahu apa yang membuatnya menjadi demikian, sehingga yang harus dilakukan adalah membenahi diri.
2.Introspeksi. Bila Anda sudah mengetahui penyebab konflik, cobalah untuk berintrospeksi. Ini yang seringkali sulit dilakukan. Pasalnya, masing-masing pasangan pasti merasa dirinyalah yang benar. Mereka tak bakal bisa menerima kenyataan bahwa dirinyalah pangkal sebab munculnya konflik tersebut. Mungkin, Anda malu mengakui secara jujur kekurangan, tapi cobalah menjawab dengan jujur pada diri sendiri bahwa yang dikatakan pasangan Anda ada benarnya. Namun, tentunya pasangan juga harus melakukan hal serupa.
3.Jangan memperbesar masalah. Jika Anda dan suami sudah tahu sumber keributan dan konflik dalam rumahtangga, sebaiknya jangan memperbesar masalah. Juga, jangan mencari masalah baru. Misalnya, melakukan tindakan kompensasi untuk memenuhi rasa kecewa, marah atau sakit hati. Pasalnya, ini justru akan memperkeruh suasana dan menjauhkan dari penyelesaian masalah. Yang diperlukan adalah kebesaran hati menerima keadaan yang ada sambil mencoba cara membenahi diri dan situasi.
4.Komunikasi. Apapun, komunikasi merupakan pondasi sebuah hubungan, termasuk hubungan dalam perkawinan. Tanpa komunikasi, hubungan tak bakal bisa bertahan. Jadi, seberat apapun situasi yang tengah Anda hadapi, sebaiknya tetap lakukan komunikasi dengan pasangan.
5.Cari teman curhat. Kondisi seperti ini memang tidak mengenakkan. Hati merasa tertekan, namun dipihak lain Anda harus menjadi pemain sandiwara ulung. Bagaimana pun stres akan menjalari Anda. Kondisi tak nyaman ini bisa diatasi melalui berbagi dengan orang terdekat, sahabat misalnya. Dengan berbagi beban pikiran akan terasa lebih ringan. Yang harus dicermati, jangan mencari teman curhat yang lawan jenis, karena belum tentu sepenuhnya ia akan mendukung Anda. Selain itu, carilah orang yang terpercaya dan bukan pengedar gosip, karena kisah Anda mungkin tersebar dan bisa mempersulit keadaan.
6.Ingat anak. Anak biasanya menjadi senjata terampuh untuk meredam konflik antara suami istri. Ingatlah bahwa mereka masih sangat membutuhkan Anda dan pasangan, karenanya ketidakjujuran dan kepura-puraan juga tidak baik ditunjukkan pada mereka.
7.Buka lembaran baru. Jika Anda dan pasangan akhirnya bisa kembali rukun, maka Anda
harus siap membuka lembaran baru bersamanya. Jangan pernah mengungkit persoalan dan
penyebab konflik. Yang paling penting saling mengingatkan dan memperbaiki
kekurangan-kekurangan yang ada. Berpikirlah bahwa orang yang baik bukan berarti tak
pernah berbuat kesalahan. Tapi, orang yang baik adalah yang menyadari kesalahannya
dan berketetapan tak mengulang kesalahan itu.
Ketika Affair Terjadi
Setiap orang yang akan atau telah menikah tentu mendambakan kehidupan perkawinan yang harmonis, dan setia seumur hidup dengan pasangan. Namun mengapa affair bisa terjadi walau pernikahan terasa baik-baik saja?
Terjadinya affair seringkali tak terkirakan sebelumnya. Terasa seperti mengalir, dan tanpa disadari sudah menjerat demikian dalam. Kehidupan perkawinan pun berubah menjadi tak seindah dan seromantis harapan semula. Affair bisa terjadi pada siapa saja. Tidak hanya pada orang-orang yang kita anggap menjalani kehidupan dengan seenaknya, namn juga pada mereka yang kita pandang telah menjalani hidupnya dengan baik. Affair tidak hanya dilakoni oleh pria saja, melainkan juga oleh wanita di segala lapisan dan golongan, bahkan tanpa memandang usia. Affair bisa saja terjadi pada pasangan berusia muda, atau pun yang sudah berusia lanjut. Pada dasarnya tidak ada orang yang kebal terhadap perselingkuhan dimana saja dan kapan saja. Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih jauh dari sekedar memendam perasaan tertarik, pada saat itulah bibit-bibit affair mulai bersemai.
Ada banyak alasan mengapa sesorang memutuskan untuk menikah. Misalnya karena kebutuhan finansial, seksual, status, emosional, dan sebagainya. Maka ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, ada kemungkinan akan tumbuh keinginan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Mengapa mereka yang sudah memiliki pasangan melakukan hubungan dengan orang lain? Karena ada kebutuhan lain yang tidak ia peroleh dari pasangannya. Sehingga ketika ada ‘celah’, mereka akan berkata “ini hak gue”. Apalagi dengan kemajuan teknologi pada zaman sekarang ini, seperti handphone, email, dan lain-lain yang memungkinkan seseorang untuk melakukan komunikasi langsung tanpa diketahui oleh orang lain.
Walaupun tidak bisa dipersentasikan, Kasandra mengatakan bahwa affair biasanya terjadi pada pegawai kantoran. Hal itu dimungkinkan karena frekuensi bertemu di kantor cukup sering, apalagi penampilan di kantor yang cenderung rapi dan wangi, sehingga gampang membuat orang lain tertarik.
Mengapa Affair Bisa Terjadi?
Kadangkala orang yang pasangannya melakukan affair dihinggapi perasaan bahwa ada yang kurang atau salah dalam dirinya. Padahal, apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pihak yang setia bukanlah penyebab timbulnya affair. Tentu saja tetap ada kemungkinan bahwa pihak yang setia telah melakukan kesalahan, karena pada dasarnya tidak ada orang yang sempurna. Mungkin ada masalah, namun pasangan mereka memilih jalan yang kurang konstruktif (selingkuh) untuk memecahkan masalah. Jadi penyebabnya adalah ketidakpuasan akan pasangannya, tuntutan dari ia maupun pasangannya yang berlebihan. Tapi ada juga yang pada dasarnya selalu merasa cukup dengan satu pasangan. Semua itu bisa terjadi pada siapa saja. Tidak ada yang salah pada diri mereka yang setia.
Mencari sebuah hubungan emosi merupakan faktor yang sering memicu affair. Seseorang mungkin merasa puas dengan pernikahan, namun karena banyak menghabiskan waktu di kantor dengan rekan kerjanya yang berlawan jenis, ia terdorong untuk melakukan affair. Awalnya mungkin hanya perhatian, saling menggoda, sampai saling tertarik. Tapi apabila ada komitmen dari kedua pihak untuk saling mengintrospeksi tentang peran masing-masing dalam keluarga, akan mencegah terjadinya perselingkuhan.
Namun disisi lain ada dua faktor yang menyebabkan seseorang melakukan affair. Pertama adalah faktor internal seperti: ingin tahu, bosan, kebutuhan untuk membuktikan diri, ingin mendapatkan sesuatu yang lain, atau jatuh cinta pada orang lain. Faktor internal juga bisa disebabkan karena kekaguman terhadap orang yang memiliki 'power', kebutuhan akan tantangan, mendapatkan kelegaan karena disakiti atau dendam kepada pasangannya, dan sebagainya.
Faktor kedua adalah pengaruh eksternal. Peluang affair akan semakin terbuka, bila ada kesempatan untuk saling tertarik. Biasanya orang itu sering mendatangi tempat-tempat hiburan yang memungkinkan pertemuan dengan orang-orang baru secara bebas, memiliki kelompok teman yang berpengalaman berselingkuh, dan nilai-nilai moral seksual yang cenderung bebas, serta sering bepergian meninggalkan pasangannya dalam waktu yang relatif lama.
Banyaknya tayangan media – film, soap opera, novel dan sebagainya – mengenai perselingkungan juga dapat membuat orang menjadi 'terbiasa' atau membangkitkan rasa ingin tahu untuk mengalaminya. Alasan orang untuk melakukan affair, biasanya bukan karena satu alasan, melainkan lebih dari satu alasan.
Keluar dari affair
Hanya satu kata bagi mereka yang ingin keluar dari affair. “Say stop or quit!”. Berusahalah memperbaiki hubungan dengan pasangan, dan bila perlu carilah pihak ketiga yang matang dan dewasa untuk menjadi penengah bila diperlukan. Fokuslah untuk mencari solusi dalam menghadapi tantangan, atau masalah-masalah yang ada. Akan menjadi rumit bila pelaku affair tetap menginginkan agar perselingkuhan berlanjut.
Kasandra mengatakan, yang perlu dilakukan oleh pelaku affair adalah resistensi diri dan strategi untuk menghindar. Pertama adalah niat. Jika ada gejala-gejala yang kurang baik kita harus menghindar dengan cepat dan berfikir akan keluarga. Tetapi pada saat menolak pun harus hati-hati karena bisa jadi pasangan selingkuh kita justru menjerumuskan diri kita. Selain itu, pasangan pun harus mendukung dan membantu untuk stay away from affair
Dari segi internal, perkuat iman dengan kegiatan yang dapat memperdalam ibadah. Pelajari dan kenali kebutuhan-kebutuhan psikologis diri sendiri, dan mengarahkannya dengan cara yang konstruktif. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri diperlukan untuk bisa mengenali dan menghindari situasi-situasi yang menggoda. Bila membutuhkan teman bicara, sebaiknya tidak dengan lawan jenis. Bila senang tipe perempuan yang ceria dan mungil, misalnya, sebaiknya hindari situasi yang mungkin dapat mendekatkan dirinya dengan teman atau kenalan dengan profil seperti itu.
Membangun Kembali Keluarga
Affair dapat terjadi pada hubungan yang telah terjalin kuat sekalipun, sehingga meninggalkan perasaan terkhianati, marah, dan bersalah yang mendalam. Menurut Association for Marriage and Family Theraphy, 25 persen pasangan menikah, sulit mengatasi masalah ini. Tetapi adanya dukungan keluarga, teman, psikolog, dan pengertian pasangan, akan memperbesar peluang untuk mengakhiri perselingkuhan, dan kembali membangun hubungan yang lebih kuat.
Meskipun sulit, pasang surut dalam memulai kembali hubungan setelah terjadinya affair adalah sangat wajar. Namun perlu disadari, bahwa dasar yang perlu dibangun pada setiap pasangan adalah kepercayaan. Kepercayaan dibentuk oleh kedua pihak dengan cara menjaga dan bertanggung-jawab dalam melaksanakan komitmen yang dibuat bersama. Pasangan suami istri perlu memperkuat aspek mental, rohani dan psikologis mereka. Godaan-godaan akan selalu ada karena kehidupan berkeluarga itu seperti perjalanan hidup yang senantiasa ada masa ups, dan downs.
Komitmen terhadap kejujuran sangatlah penting. Pasangan yang lebih terbuka dan dapat berkomunikasi dengan baik biasanya lebih kuat menghadapi masalah. Terbuka dan jujur pada pasangan, akan memperkuat hubungan emosi suami-istri dan menghindari kemungkinan sang pasangan berbuat “diam-diam”. Proses diskusi, akan menghilangkan keinginan sesorang untuk mengambil tindakan di luar sepengetahuan pasangannya.
Ia menambahkan, sepanjang tidak menginginkan perselingkuhan, maka lebih mudah bagi pasangan suami istri untuk menepis godaan yang datang. Mereka akan tetap fokus untuk menghadapi setiap tantangan dan kesulitan yang muncul dalam kehidupan. Orang yang memilih untuk selingkuh sebenarnya tidak menyelesaikan masalah lama mereka, tapi malah menambah 'masalah baru'.
Perlu dipahami bahwa pelaku perselingkuhan telah menyakiti pasangan mereka, sehingga perlu sabar dan lapang dada terhadap reaksi pasangan. Pahami juga bahwa pasangan mereka juga membutuhkan waktu untuk menerima dan memaafkan. Katakan secara baik-baik kepada teman selingkuhnya, bahwa ingin menghentikan hubungan mereka.
Kalau pasangan selingkuhnya – saya sering memanggilnya ‘predator’ – cukup pengertian seharusnya tidak menjadi masalah. Tapi apabila terjadi kerumitan lebih lanjut, misalnya si ‘predator’ tidak mau melepaskan hubungannya, maka berbicaralah dengan asertif dan konsisten. Bila Anda merasa lemah sebaiknya hindari si ‘predator’ itu dan berbicaralah pada pasangan Anda untuk mendapat dukungan dan bantuan
Tips mencegah affair :
1.Terbuka. Kejujuran adalah kunci untuk menghindari affair. Saling terbukalah dengan
pasangan dan selalu mendukung satu sama lain.
2.Kedekatan. Buat dan pelihara keintiman baik secara emosi dan seksual.
3.Smart. Jangan terjebak pada pernyataan bahwa manusia tidak luput dari godaan.
4.Waspada. Ketika mulai tertarik pada seseorang, segera ambil jarak sebelum muncul
perasaan lebih dalam.
5.Jaga sikap. Kalau Anda merasa mudah membuat orang tergoda,ingatlah bila tidak ingin
terbakar, jangan main api.
6.Percaya. Kepercayaan dibentuk dengan bersikap setia kepada pihak lain. Hindari
hal-hal yang membuat kita terpaksa membohongi pasangan.
7.Setia. Kesetiaan adalah cara terbaik untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan
dalam suatu perkawinan. Jika merasa tidak puas atau menginginkan pasangan seksual
lain, telitilah dari mana datangnya keinginan ini.
8.Hindari kemungkinan dan kesempatan untuk bertemu pasangan selingkuh, atau pergi
berduaan dengan lawan jenis yang bukan pasangan Anda.
9.Ganti nomer HP atau saluran kontak lainnya, bila perlu.
Terjadinya affair seringkali tak terkirakan sebelumnya. Terasa seperti mengalir, dan tanpa disadari sudah menjerat demikian dalam. Kehidupan perkawinan pun berubah menjadi tak seindah dan seromantis harapan semula. Affair bisa terjadi pada siapa saja. Tidak hanya pada orang-orang yang kita anggap menjalani kehidupan dengan seenaknya, namn juga pada mereka yang kita pandang telah menjalani hidupnya dengan baik. Affair tidak hanya dilakoni oleh pria saja, melainkan juga oleh wanita di segala lapisan dan golongan, bahkan tanpa memandang usia. Affair bisa saja terjadi pada pasangan berusia muda, atau pun yang sudah berusia lanjut. Pada dasarnya tidak ada orang yang kebal terhadap perselingkuhan dimana saja dan kapan saja. Ketika seseorang memutuskan untuk mengambil tindakan yang lebih jauh dari sekedar memendam perasaan tertarik, pada saat itulah bibit-bibit affair mulai bersemai.
Ada banyak alasan mengapa sesorang memutuskan untuk menikah. Misalnya karena kebutuhan finansial, seksual, status, emosional, dan sebagainya. Maka ketika kebutuhan-kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, ada kemungkinan akan tumbuh keinginan untuk memenuhi kebutuhan lainnya.
Mengapa mereka yang sudah memiliki pasangan melakukan hubungan dengan orang lain? Karena ada kebutuhan lain yang tidak ia peroleh dari pasangannya. Sehingga ketika ada ‘celah’, mereka akan berkata “ini hak gue”. Apalagi dengan kemajuan teknologi pada zaman sekarang ini, seperti handphone, email, dan lain-lain yang memungkinkan seseorang untuk melakukan komunikasi langsung tanpa diketahui oleh orang lain.
Walaupun tidak bisa dipersentasikan, Kasandra mengatakan bahwa affair biasanya terjadi pada pegawai kantoran. Hal itu dimungkinkan karena frekuensi bertemu di kantor cukup sering, apalagi penampilan di kantor yang cenderung rapi dan wangi, sehingga gampang membuat orang lain tertarik.
Mengapa Affair Bisa Terjadi?
Kadangkala orang yang pasangannya melakukan affair dihinggapi perasaan bahwa ada yang kurang atau salah dalam dirinya. Padahal, apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh pihak yang setia bukanlah penyebab timbulnya affair. Tentu saja tetap ada kemungkinan bahwa pihak yang setia telah melakukan kesalahan, karena pada dasarnya tidak ada orang yang sempurna. Mungkin ada masalah, namun pasangan mereka memilih jalan yang kurang konstruktif (selingkuh) untuk memecahkan masalah. Jadi penyebabnya adalah ketidakpuasan akan pasangannya, tuntutan dari ia maupun pasangannya yang berlebihan. Tapi ada juga yang pada dasarnya selalu merasa cukup dengan satu pasangan. Semua itu bisa terjadi pada siapa saja. Tidak ada yang salah pada diri mereka yang setia.
Mencari sebuah hubungan emosi merupakan faktor yang sering memicu affair. Seseorang mungkin merasa puas dengan pernikahan, namun karena banyak menghabiskan waktu di kantor dengan rekan kerjanya yang berlawan jenis, ia terdorong untuk melakukan affair. Awalnya mungkin hanya perhatian, saling menggoda, sampai saling tertarik. Tapi apabila ada komitmen dari kedua pihak untuk saling mengintrospeksi tentang peran masing-masing dalam keluarga, akan mencegah terjadinya perselingkuhan.
Namun disisi lain ada dua faktor yang menyebabkan seseorang melakukan affair. Pertama adalah faktor internal seperti: ingin tahu, bosan, kebutuhan untuk membuktikan diri, ingin mendapatkan sesuatu yang lain, atau jatuh cinta pada orang lain. Faktor internal juga bisa disebabkan karena kekaguman terhadap orang yang memiliki 'power', kebutuhan akan tantangan, mendapatkan kelegaan karena disakiti atau dendam kepada pasangannya, dan sebagainya.
Faktor kedua adalah pengaruh eksternal. Peluang affair akan semakin terbuka, bila ada kesempatan untuk saling tertarik. Biasanya orang itu sering mendatangi tempat-tempat hiburan yang memungkinkan pertemuan dengan orang-orang baru secara bebas, memiliki kelompok teman yang berpengalaman berselingkuh, dan nilai-nilai moral seksual yang cenderung bebas, serta sering bepergian meninggalkan pasangannya dalam waktu yang relatif lama.
Banyaknya tayangan media – film, soap opera, novel dan sebagainya – mengenai perselingkungan juga dapat membuat orang menjadi 'terbiasa' atau membangkitkan rasa ingin tahu untuk mengalaminya. Alasan orang untuk melakukan affair, biasanya bukan karena satu alasan, melainkan lebih dari satu alasan.
Keluar dari affair
Hanya satu kata bagi mereka yang ingin keluar dari affair. “Say stop or quit!”. Berusahalah memperbaiki hubungan dengan pasangan, dan bila perlu carilah pihak ketiga yang matang dan dewasa untuk menjadi penengah bila diperlukan. Fokuslah untuk mencari solusi dalam menghadapi tantangan, atau masalah-masalah yang ada. Akan menjadi rumit bila pelaku affair tetap menginginkan agar perselingkuhan berlanjut.
Kasandra mengatakan, yang perlu dilakukan oleh pelaku affair adalah resistensi diri dan strategi untuk menghindar. Pertama adalah niat. Jika ada gejala-gejala yang kurang baik kita harus menghindar dengan cepat dan berfikir akan keluarga. Tetapi pada saat menolak pun harus hati-hati karena bisa jadi pasangan selingkuh kita justru menjerumuskan diri kita. Selain itu, pasangan pun harus mendukung dan membantu untuk stay away from affair
Dari segi internal, perkuat iman dengan kegiatan yang dapat memperdalam ibadah. Pelajari dan kenali kebutuhan-kebutuhan psikologis diri sendiri, dan mengarahkannya dengan cara yang konstruktif. Mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri diperlukan untuk bisa mengenali dan menghindari situasi-situasi yang menggoda. Bila membutuhkan teman bicara, sebaiknya tidak dengan lawan jenis. Bila senang tipe perempuan yang ceria dan mungil, misalnya, sebaiknya hindari situasi yang mungkin dapat mendekatkan dirinya dengan teman atau kenalan dengan profil seperti itu.
Membangun Kembali Keluarga
Affair dapat terjadi pada hubungan yang telah terjalin kuat sekalipun, sehingga meninggalkan perasaan terkhianati, marah, dan bersalah yang mendalam. Menurut Association for Marriage and Family Theraphy, 25 persen pasangan menikah, sulit mengatasi masalah ini. Tetapi adanya dukungan keluarga, teman, psikolog, dan pengertian pasangan, akan memperbesar peluang untuk mengakhiri perselingkuhan, dan kembali membangun hubungan yang lebih kuat.
Meskipun sulit, pasang surut dalam memulai kembali hubungan setelah terjadinya affair adalah sangat wajar. Namun perlu disadari, bahwa dasar yang perlu dibangun pada setiap pasangan adalah kepercayaan. Kepercayaan dibentuk oleh kedua pihak dengan cara menjaga dan bertanggung-jawab dalam melaksanakan komitmen yang dibuat bersama. Pasangan suami istri perlu memperkuat aspek mental, rohani dan psikologis mereka. Godaan-godaan akan selalu ada karena kehidupan berkeluarga itu seperti perjalanan hidup yang senantiasa ada masa ups, dan downs.
Komitmen terhadap kejujuran sangatlah penting. Pasangan yang lebih terbuka dan dapat berkomunikasi dengan baik biasanya lebih kuat menghadapi masalah. Terbuka dan jujur pada pasangan, akan memperkuat hubungan emosi suami-istri dan menghindari kemungkinan sang pasangan berbuat “diam-diam”. Proses diskusi, akan menghilangkan keinginan sesorang untuk mengambil tindakan di luar sepengetahuan pasangannya.
Ia menambahkan, sepanjang tidak menginginkan perselingkuhan, maka lebih mudah bagi pasangan suami istri untuk menepis godaan yang datang. Mereka akan tetap fokus untuk menghadapi setiap tantangan dan kesulitan yang muncul dalam kehidupan. Orang yang memilih untuk selingkuh sebenarnya tidak menyelesaikan masalah lama mereka, tapi malah menambah 'masalah baru'.
Perlu dipahami bahwa pelaku perselingkuhan telah menyakiti pasangan mereka, sehingga perlu sabar dan lapang dada terhadap reaksi pasangan. Pahami juga bahwa pasangan mereka juga membutuhkan waktu untuk menerima dan memaafkan. Katakan secara baik-baik kepada teman selingkuhnya, bahwa ingin menghentikan hubungan mereka.
Kalau pasangan selingkuhnya – saya sering memanggilnya ‘predator’ – cukup pengertian seharusnya tidak menjadi masalah. Tapi apabila terjadi kerumitan lebih lanjut, misalnya si ‘predator’ tidak mau melepaskan hubungannya, maka berbicaralah dengan asertif dan konsisten. Bila Anda merasa lemah sebaiknya hindari si ‘predator’ itu dan berbicaralah pada pasangan Anda untuk mendapat dukungan dan bantuan
Tips mencegah affair :
1.Terbuka. Kejujuran adalah kunci untuk menghindari affair. Saling terbukalah dengan
pasangan dan selalu mendukung satu sama lain.
2.Kedekatan. Buat dan pelihara keintiman baik secara emosi dan seksual.
3.Smart. Jangan terjebak pada pernyataan bahwa manusia tidak luput dari godaan.
4.Waspada. Ketika mulai tertarik pada seseorang, segera ambil jarak sebelum muncul
perasaan lebih dalam.
5.Jaga sikap. Kalau Anda merasa mudah membuat orang tergoda,ingatlah bila tidak ingin
terbakar, jangan main api.
6.Percaya. Kepercayaan dibentuk dengan bersikap setia kepada pihak lain. Hindari
hal-hal yang membuat kita terpaksa membohongi pasangan.
7.Setia. Kesetiaan adalah cara terbaik untuk memelihara dan meningkatkan kepercayaan
dalam suatu perkawinan. Jika merasa tidak puas atau menginginkan pasangan seksual
lain, telitilah dari mana datangnya keinginan ini.
8.Hindari kemungkinan dan kesempatan untuk bertemu pasangan selingkuh, atau pergi
berduaan dengan lawan jenis yang bukan pasangan Anda.
9.Ganti nomer HP atau saluran kontak lainnya, bila perlu.
Friday, August 03, 2007
Tetap Mesra Meski Sudah Ada Anak
Kualitas relasi dan kemesraan suami istri itu dapat turun naik. Apalagi jika harus pula membagi perhatian pada anak. Bagaimana tetap menjaga kemesraan tanpa mengurangi perhatian pada anak?
Bukan saja sebagai anugerah, anak juga diharapkan dapat menjadi penerus keluarga dan mempererat ikatan suami istri. Namun, bila salah satu pasangan kurang peka, kehadiran anak bisa menganggu bahkan mengancam hubungan suami istri. Karena beranggapan anaklah saat ini yang berada di atas kepentingan suami istri. Lama-kelamaan bisa membuat longgar hubungan karena salah satu pasangan (terutama istri) terlalu asyik dan fokus pada momongan baru sehingga dia tidak memiliki waktu lagi buat suami. Perhatian yang tidak seimbang ini tak dipungkiri dapat menimbulkan rasa tak diperhatikan lagi. Ini dapat menjadi potensi konflik dalam rumah tangga.
Ketika sebuah pasangan memiliki momongan untuk pertama kalinya, maka keduanya memiliki peran yang baru yakni sebagai seorang ayah dan ibu. Perubahan peran masing-masing ini untuk sebagian besar pasangan disikapi sebagai suatu pembelajaran sebagai orangtua, namun tidak demikian bagi sebagian pasangan yang beranggapan bahwa anak dapat mengancam keharmonisan. Jika memang hal ini demikian terjadi, kemungkinan istri terlalu letih mengurus bayi.
Kemungkinan terjadi situasi demikian dapat dipengaruhi oleh kepribadian dari pasangan. Misalnya suami yang terbiasa diladeni atau ditunggui ketika sedang sarapan. Dengan bertambahnya kesibukan istri mengurus anak, kemungkinan bisa saja hal itu tak bisa dilakukan lagi atau dilakukan istri jika ia tak sibuk. Dari hal kecil seperti ini dapat menjadi pencetus pertengkaran. ’Ketidak siapan istri berganti peran bisa membuat istri tertekan karena bertambahnya beban. Akibatnya istri menjadi sering marah-marah, merasa lelah fisik dan mental yang pada akhirnya akan mengganggu relasi suami istri.
Memiliki anak memang membutuhkan kesiapan mental yang tinggi dari suami istri. Mereka seharusnya menyadari bahwa dengan datangnya anggota baru tentu perhatian tidak lagi fokus pada pasangan tetapi sebagian perhatian dialihkan ke anak. Di sini perlu adanya pengertian dan keterbukaan dalam komunikasi. Hal-hal yang membuat salah satu pasangan tertekan sebaiknya dikomunikasikan (sharing). Agar hubungan suami istri tetap terjaga, misalnya ketika istri mengeluh capek mengurus bayi, sebaiknya suami tak meremehkan dan melakukan judgement bahwa memang demikian adanya. Suami sebaiknya berusaha empati dan memahami perasaan istri. Dengan demikian, istri merasa memiliki teman berbagi rasa. Istri juga tidak merasa “kamu enak di kantor sedangkan saya capek di rumah” Di sisi lain ketika suami pulang kantor, istri berusaha sejenak menemani ngobrol sambil bercerita mengenai kegiatannya dari pagi hingga sore. Bisa juga memberi kesempatan pada suami untuk mengeluarkan uneg-uneg selama di kantor.
Membagi Pola Asuh
Pasangan yang sama-sama bekerja tentu memiliki masalah tersendiri. Sebagian energi mereka sudah terkuras dari pagi hingga sore di pekerjaannya masing-masing. Sebagian pasangan merasa sudah tidak memiliki waktu lagi untuk bercanda dengan anak karena tiba di rumah sudah menjelang malam. Bagi seorang istri kedekatannya pada anak mungkin diberikan pada saat ia pulang kantor, dengan begitu perhatiannya pada suami menjadi terbengkalai. Begitu juga dengan suami, terkadang sebagian dari suami berpikiran bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri sehingga ia tidak berpikir bagaimana mengurus anak.
Namun, dari sebagian pasangan yang sama-sama bekerja ada pula yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk ngobrol dengan pasangan. Yang ada di benak mereka adalah keinginan untuk cepat dapat istirahat. Bila situasi ini tidak dicermati tentu akan menurunkan kualitas hubungan, bukan hanya kualitas hubungan suami istri tetapi akan berdampak kepada anak.
Pasangan perlu pandai mencermati situasi dan waktu yang ada terutama ketika anak sedang tidur atau sedang tidak rewel. Pada saat demikian pasangan dapat melakukan komunikasi dan menjaga kemesraan bersama. Jangan pernah merasa bahwa anak adalah beban. Kalau mengurus anak dapat dinikmati maka masalah-masalah yang mungkin terjadi sehubungan dengan mengurus anak tidak akan sampai menjadi sumber pertikaian antara suami istri. Hal yang perlu disadari dan disepakati bersama adalah bagaimana pola asuh dan pengaturan waktu untuk semua kegiatan keluarga setelah kehadiran si kecil. Dengan demikian kedua orang tua akan sadar konsekuensi dari perubahan kondisi keluarga mereka dengan kehadirannya. Apalagi bila keduanya sama-sama bekerja.
Pasangan harus mampu mengatur waktu dan juga pembagian kerja dengan pasangan tentang kapan dan tugas apa saja dalam pengasuhan anak. Selain itu diperlukan pula kemampuan mendelegasikan tugas pengasuhan itu sendiri pada pihak yang dapat diandalkan dan dipercaya, misalnya orangtua, mertua, atau pengasuh. Bila cermat dan bertanggung jawab, maka orangtua tidak perlu timbul rasa bersalah. Keterampilan pembagian tugas dan pendelegasian itu sebenarnya juga penting agar pasangan tidak menjadi stres. Kalau mereka stres tentu pengasuhannya juga tidak optimal. Aktivitas yang dikerjakan dan dijalani bersama justru harus menjadi aktivitas yang menyenangkan, tanggung jawab bersama dan bukan sebuah beban.
Buat Strategi
Meninggalkan anak sebentar bukanlah suatu dosa. Oleh karena itu di sela-sela kesibukan ada baiknya meluangkan waktu sejenak untuk pergi bersama. Diskusikan dengan pasangan apa yang akan dilakukan berdua. Makan di luar, belanja bulanan atau nonton bisa menjadi pilihan dan bertujuan untuk refreshing. Dalam kehidupan rumah tangga pasangan suami istri terkadang memerlukan penyegaran hubungan. Ada beberapa cara yang ditempuh pasangan, antara lain dengan meluangkan waktu khusus untuk berduaan pergi keluar rumah agar merasa berpacaran lagi. Namun ketika keluar rumah, kita juga perlu memastikan anak diasuh oleh orang yang dipercaya. Sehingga ketika kita berada di luar pun juga merasa nyaman.
Istri jangan terlalu asik “bermain” dengan anak tetapi juga berusaha untuk melibatkan suami dalam aktivitasnya terutama ketika hari libur. Selain itu, istri juga dapat meminta suami untuk membantu menangani anak seperti menyuapi, mengganti baju, memandikan dan lain sebagainya. Dari keterlibatan ini akan tercipta kerja sama yang baik dan di sisi lain pasangan tidak merasa tersisih.
Namun komunikasi suami-isteri memang harus jujur dan terbuka, sehingga apa yang diinginkan oleh masing-masing pasangan dapat disampaikan dan tidak dipendam saja. Kemudian kegiatan mengasuh bayi dinikmati dan menjadi kegiatan berdua, serta perlu juga diatur waktu-waktu khusus untuk diri sendiri dan bersama pasangan. Si kecil juga dapat diajak komunikasi kok. Bisikkan atau katakan padanya bahwa orangtuanya juga perlu waktu untuk dapat men-charge energi dengan kegiatan-kegiatan refreshing supaya dapat memberikan yang terbaik dari diri mereka untuk dia juga.
Tips pasangan awet mesra
1.Buat pola mengasuh anak dengan baik. Jika memang harus mengasuh tanpa ada
babysiter, maka kalian perlu membuat pola mengasuh seperti apa yang akan digunakan,
agar waktu untuk bersama pun tidak terbengkalai.
2.Kalau hanya menjadi penonton, tentu perasaan bosan dan jenuh akan cepat muncul.
Untuk menghindarinya maka suami perlu diajak untuk terlibat dalam bermain dan
mengasuh si kecil.
3.Isteri jangan terlalu berharap banyak bahwa suami akan dapat membantu banyak Yang
penting adalah keterlibatannya secara emosional dulu . Dengan begitu si ayah juga
akan menikmati dan tidak merasa terbebani dan menikmati kegiatannya bersama si
kecil.
4.Cobalah untuk pergi ke tempat-tempat Anda pacaran dulu, misalnya bioskop, kafe dan
lain-lain. Gairah harus terus dijaga karenanya sesekali ciptakan suasana seperti
ketika pacaran dulu.
5.Jika sama-sama bekerja, cobalah untuk pulang bersama dari kantor. Jadi komunikasi
tetap berjalan di sepanjang perjalanan pulang.
6.Bersikap terbuka. Jika Anda memiliki uneg-uneg, jangan dipendam sendiri, karena
akibatnya malah tak mengenakkan bagi Anda maupun pasangan. Utarakan saja apa yang
membuat Anda tidak tenang.
7.Tetap tampil menarik. Memang, penampilan sebelum dan sesudah menikah pasti berbeda.
Apalagi bila sudah punya anak. Biasanya, bentuk badan berubah, menjadi gemuk
misalnya. Namun, bukan berarti Anda tak bisa tampil menarik di depan suami. Meski
bentuk tubuh berubah, Anda tetap bisa, kok berdandan cantik. Berpakaian rapi
misalnya. Hal-hal seperti inilah yang kadangkala membuat suami tak betah tinggal di
rumah dan mencari wanita idaman lain.
8.Beri kejutan. Tidak ada salahnya, sekali-kali Anda memberikan kejutan pada
pasangan. Kejutan ini dapat menjadi tanda besar bahwa Anda masih memperhatikan
pasangan. Tak perlu yang berharga mahal, agenda kerja bertuliskan kata-kata cinta
atau cokelat berbentuk hati pun cukup unik dan membuat kenangan tersendiri bagi
pasangan.
9.Buatlah beberapa hal yang akan dilakukan pasangan bersama. Hal ini untuk membantu
membangun relasi dan kemesraan kembali.
10.Bulan madu kedua. Ambillah cuti dua-tiga hari dan pergilah ke tempat-tempat
romantis, berdua saja, tanpa kehadiran anak-anak. Dalam suasana ini, Anda akan
merasakan kembali cinta pertama seperti saat belum ada anak-anak.
Bukan saja sebagai anugerah, anak juga diharapkan dapat menjadi penerus keluarga dan mempererat ikatan suami istri. Namun, bila salah satu pasangan kurang peka, kehadiran anak bisa menganggu bahkan mengancam hubungan suami istri. Karena beranggapan anaklah saat ini yang berada di atas kepentingan suami istri. Lama-kelamaan bisa membuat longgar hubungan karena salah satu pasangan (terutama istri) terlalu asyik dan fokus pada momongan baru sehingga dia tidak memiliki waktu lagi buat suami. Perhatian yang tidak seimbang ini tak dipungkiri dapat menimbulkan rasa tak diperhatikan lagi. Ini dapat menjadi potensi konflik dalam rumah tangga.
Ketika sebuah pasangan memiliki momongan untuk pertama kalinya, maka keduanya memiliki peran yang baru yakni sebagai seorang ayah dan ibu. Perubahan peran masing-masing ini untuk sebagian besar pasangan disikapi sebagai suatu pembelajaran sebagai orangtua, namun tidak demikian bagi sebagian pasangan yang beranggapan bahwa anak dapat mengancam keharmonisan. Jika memang hal ini demikian terjadi, kemungkinan istri terlalu letih mengurus bayi.
Kemungkinan terjadi situasi demikian dapat dipengaruhi oleh kepribadian dari pasangan. Misalnya suami yang terbiasa diladeni atau ditunggui ketika sedang sarapan. Dengan bertambahnya kesibukan istri mengurus anak, kemungkinan bisa saja hal itu tak bisa dilakukan lagi atau dilakukan istri jika ia tak sibuk. Dari hal kecil seperti ini dapat menjadi pencetus pertengkaran. ’Ketidak siapan istri berganti peran bisa membuat istri tertekan karena bertambahnya beban. Akibatnya istri menjadi sering marah-marah, merasa lelah fisik dan mental yang pada akhirnya akan mengganggu relasi suami istri.
Memiliki anak memang membutuhkan kesiapan mental yang tinggi dari suami istri. Mereka seharusnya menyadari bahwa dengan datangnya anggota baru tentu perhatian tidak lagi fokus pada pasangan tetapi sebagian perhatian dialihkan ke anak. Di sini perlu adanya pengertian dan keterbukaan dalam komunikasi. Hal-hal yang membuat salah satu pasangan tertekan sebaiknya dikomunikasikan (sharing). Agar hubungan suami istri tetap terjaga, misalnya ketika istri mengeluh capek mengurus bayi, sebaiknya suami tak meremehkan dan melakukan judgement bahwa memang demikian adanya. Suami sebaiknya berusaha empati dan memahami perasaan istri. Dengan demikian, istri merasa memiliki teman berbagi rasa. Istri juga tidak merasa “kamu enak di kantor sedangkan saya capek di rumah” Di sisi lain ketika suami pulang kantor, istri berusaha sejenak menemani ngobrol sambil bercerita mengenai kegiatannya dari pagi hingga sore. Bisa juga memberi kesempatan pada suami untuk mengeluarkan uneg-uneg selama di kantor.
Membagi Pola Asuh
Pasangan yang sama-sama bekerja tentu memiliki masalah tersendiri. Sebagian energi mereka sudah terkuras dari pagi hingga sore di pekerjaannya masing-masing. Sebagian pasangan merasa sudah tidak memiliki waktu lagi untuk bercanda dengan anak karena tiba di rumah sudah menjelang malam. Bagi seorang istri kedekatannya pada anak mungkin diberikan pada saat ia pulang kantor, dengan begitu perhatiannya pada suami menjadi terbengkalai. Begitu juga dengan suami, terkadang sebagian dari suami berpikiran bahwa mengurus anak adalah pekerjaan istri sehingga ia tidak berpikir bagaimana mengurus anak.
Namun, dari sebagian pasangan yang sama-sama bekerja ada pula yang sudah tidak memiliki kesempatan untuk ngobrol dengan pasangan. Yang ada di benak mereka adalah keinginan untuk cepat dapat istirahat. Bila situasi ini tidak dicermati tentu akan menurunkan kualitas hubungan, bukan hanya kualitas hubungan suami istri tetapi akan berdampak kepada anak.
Pasangan perlu pandai mencermati situasi dan waktu yang ada terutama ketika anak sedang tidur atau sedang tidak rewel. Pada saat demikian pasangan dapat melakukan komunikasi dan menjaga kemesraan bersama. Jangan pernah merasa bahwa anak adalah beban. Kalau mengurus anak dapat dinikmati maka masalah-masalah yang mungkin terjadi sehubungan dengan mengurus anak tidak akan sampai menjadi sumber pertikaian antara suami istri. Hal yang perlu disadari dan disepakati bersama adalah bagaimana pola asuh dan pengaturan waktu untuk semua kegiatan keluarga setelah kehadiran si kecil. Dengan demikian kedua orang tua akan sadar konsekuensi dari perubahan kondisi keluarga mereka dengan kehadirannya. Apalagi bila keduanya sama-sama bekerja.
Pasangan harus mampu mengatur waktu dan juga pembagian kerja dengan pasangan tentang kapan dan tugas apa saja dalam pengasuhan anak. Selain itu diperlukan pula kemampuan mendelegasikan tugas pengasuhan itu sendiri pada pihak yang dapat diandalkan dan dipercaya, misalnya orangtua, mertua, atau pengasuh. Bila cermat dan bertanggung jawab, maka orangtua tidak perlu timbul rasa bersalah. Keterampilan pembagian tugas dan pendelegasian itu sebenarnya juga penting agar pasangan tidak menjadi stres. Kalau mereka stres tentu pengasuhannya juga tidak optimal. Aktivitas yang dikerjakan dan dijalani bersama justru harus menjadi aktivitas yang menyenangkan, tanggung jawab bersama dan bukan sebuah beban.
Buat Strategi
Meninggalkan anak sebentar bukanlah suatu dosa. Oleh karena itu di sela-sela kesibukan ada baiknya meluangkan waktu sejenak untuk pergi bersama. Diskusikan dengan pasangan apa yang akan dilakukan berdua. Makan di luar, belanja bulanan atau nonton bisa menjadi pilihan dan bertujuan untuk refreshing. Dalam kehidupan rumah tangga pasangan suami istri terkadang memerlukan penyegaran hubungan. Ada beberapa cara yang ditempuh pasangan, antara lain dengan meluangkan waktu khusus untuk berduaan pergi keluar rumah agar merasa berpacaran lagi. Namun ketika keluar rumah, kita juga perlu memastikan anak diasuh oleh orang yang dipercaya. Sehingga ketika kita berada di luar pun juga merasa nyaman.
Istri jangan terlalu asik “bermain” dengan anak tetapi juga berusaha untuk melibatkan suami dalam aktivitasnya terutama ketika hari libur. Selain itu, istri juga dapat meminta suami untuk membantu menangani anak seperti menyuapi, mengganti baju, memandikan dan lain sebagainya. Dari keterlibatan ini akan tercipta kerja sama yang baik dan di sisi lain pasangan tidak merasa tersisih.
Namun komunikasi suami-isteri memang harus jujur dan terbuka, sehingga apa yang diinginkan oleh masing-masing pasangan dapat disampaikan dan tidak dipendam saja. Kemudian kegiatan mengasuh bayi dinikmati dan menjadi kegiatan berdua, serta perlu juga diatur waktu-waktu khusus untuk diri sendiri dan bersama pasangan. Si kecil juga dapat diajak komunikasi kok. Bisikkan atau katakan padanya bahwa orangtuanya juga perlu waktu untuk dapat men-charge energi dengan kegiatan-kegiatan refreshing supaya dapat memberikan yang terbaik dari diri mereka untuk dia juga.
Tips pasangan awet mesra
1.Buat pola mengasuh anak dengan baik. Jika memang harus mengasuh tanpa ada
babysiter, maka kalian perlu membuat pola mengasuh seperti apa yang akan digunakan,
agar waktu untuk bersama pun tidak terbengkalai.
2.Kalau hanya menjadi penonton, tentu perasaan bosan dan jenuh akan cepat muncul.
Untuk menghindarinya maka suami perlu diajak untuk terlibat dalam bermain dan
mengasuh si kecil.
3.Isteri jangan terlalu berharap banyak bahwa suami akan dapat membantu banyak Yang
penting adalah keterlibatannya secara emosional dulu . Dengan begitu si ayah juga
akan menikmati dan tidak merasa terbebani dan menikmati kegiatannya bersama si
kecil.
4.Cobalah untuk pergi ke tempat-tempat Anda pacaran dulu, misalnya bioskop, kafe dan
lain-lain. Gairah harus terus dijaga karenanya sesekali ciptakan suasana seperti
ketika pacaran dulu.
5.Jika sama-sama bekerja, cobalah untuk pulang bersama dari kantor. Jadi komunikasi
tetap berjalan di sepanjang perjalanan pulang.
6.Bersikap terbuka. Jika Anda memiliki uneg-uneg, jangan dipendam sendiri, karena
akibatnya malah tak mengenakkan bagi Anda maupun pasangan. Utarakan saja apa yang
membuat Anda tidak tenang.
7.Tetap tampil menarik. Memang, penampilan sebelum dan sesudah menikah pasti berbeda.
Apalagi bila sudah punya anak. Biasanya, bentuk badan berubah, menjadi gemuk
misalnya. Namun, bukan berarti Anda tak bisa tampil menarik di depan suami. Meski
bentuk tubuh berubah, Anda tetap bisa, kok berdandan cantik. Berpakaian rapi
misalnya. Hal-hal seperti inilah yang kadangkala membuat suami tak betah tinggal di
rumah dan mencari wanita idaman lain.
8.Beri kejutan. Tidak ada salahnya, sekali-kali Anda memberikan kejutan pada
pasangan. Kejutan ini dapat menjadi tanda besar bahwa Anda masih memperhatikan
pasangan. Tak perlu yang berharga mahal, agenda kerja bertuliskan kata-kata cinta
atau cokelat berbentuk hati pun cukup unik dan membuat kenangan tersendiri bagi
pasangan.
9.Buatlah beberapa hal yang akan dilakukan pasangan bersama. Hal ini untuk membantu
membangun relasi dan kemesraan kembali.
10.Bulan madu kedua. Ambillah cuti dua-tiga hari dan pergilah ke tempat-tempat
romantis, berdua saja, tanpa kehadiran anak-anak. Dalam suasana ini, Anda akan
merasakan kembali cinta pertama seperti saat belum ada anak-anak.
Subscribe to:
Posts (Atom)