Wednesday, July 25, 2007

Preman Masuk Kampus

Beberapa hari ini pers mahasiswa Teknokra Unila (organisasi yang pernah aku geluti 4 tahun) diserang oleh beberapa oknum dari mahasiswa yang berubah menjadi preman kampus. lagi! kekerasan terhadap pers terjadi.
langsung saja, seluruh alumni Teknokra (termasuk saya) jengkel, maral, kesal dll mendengarnya. cuma satu kata,LAWAN!
salah satu bentuk perlawanan alumni adalah dengan memberitakan peristiwa kekerasan tersebut.
berikut berita yang ditulis oleh salah seorang alumni kami,
Budisantoso Budiman/ANTARA Lampung

GARA-GARA BERITA, SKM "TEKNOKRA" DIANCAM OKNUM
MAHASISWA FKIP UNILA
Bandarlampung, 24/7 (ANTARA) - Gara-gara
pemberitaan tentang pengutipan "uang parkir" tidak
resmi oleh petugas Satuan Pengamanan (Satpam) di salah
satu fakultas di lingkungan Universitas Lampung
(Unila), pengelola Surat Kabar Mahasiswa (SKM)
Teknokra malah mendapatkan ancaman dan perlakuan buruk
dari sejumlah oknum mahasiswa fakultas itu.

Informasi yang diperoleh ANTARA Bandarlampung,
Selasa, menyebutkan, aksi menjurus pada premanisme di
Kampus Unila itu justru terjadi pada saat PTN umum
terbesar di Lampung itu menjadi tuan rumah Pekan
Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) ke-20 (17-22/7)
lalu.

Pimpinan Umum SKM Teknokra, Taufik Jamil
Alfarau membenarkan kejadian pada Kamis (19/7), saat
SKM Teknokra di kantornya di Pusat Kegiatan Mahasiswa
(PKM) Unila, kedatangan "tamu" dari Unit Kegiatan
Mahasiswa Fakultas (UKMF) Kelompok Studi Seni (KSS)
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unila.

Mereka datang atas keberatan terhadap
pemberitaan yang pernah dimuat "Teknokra News" Edisi
86 yang berjudul "Satpam FKIP "Panen" Uang Parkir".

Namun, kedatangan mereka tersebut dilakukan
tidak dengan santun. Salah satu diantara oknum
mahasiswa dari UKMF KSS itu mengancam dengan
mengacungkan senjata tajam (badik) kepada pengurus
Teknokra yang ada di sekretariatnya.

Taufik menuturkan, setelah kedua tamu
mahasiswa FKIP Unila itu dipersilakan masuk, tak lama
kemudian sekitar tujuh orang mahasiswa lainnya
tiba-tiba masuk ke ruangan tanpa permisi.

Mereka kemudian mengambil posisi duduk di
sofa, salah satu dari mereka langsung mengatakan
maksud dan tujuan kedatangan dengan nada tinggi, yang
menuding SKM Teknokra melalui pemberitaan itu mau
mengadu domba mereka dengan Satpam di fakultasnya.

Para oknum mahasiswa itu bahkan secara
emosional, menunjukkan pula berita yang dipersoalkan.

Suasana pun menjadi panas, walaupun Taufik
kemudian berusaha untuk menenangkan dan memberi
penjelasan kepada mereka. Namun, mereka tetap tidak
terima dengan penjelasan itu dan memaki-maki dia
dengan kata-kata kotor dan cabul.

Kendati terus mencoba menenangkan dan memberi
penjelasan bahwa Teknokra tidak bermaksud
menjelek-jelekkan KSS, maupun Satpam atau mengadu
domba diantara keduanya.

Kepada para mahasiswa itu, Taufik mengatakan,
berita itu merupakan hasil wawancara dan isinya tidak
terdapat kata-kata yang menjelek-jelekkan kedua belah
pihak.

Tapi penjelasan itu tidak membuat mereka
mengerti, bahkan emosi mereka semakin menjadi, dan
mereka serentak berdiri seraya menunjuk-nunjuk serta
mengeluarkan kata-kata kotor dan cabul.

Salah satu diantara mereka bahkan ada yang
mencabut senjata tajam berjenis badik dari pinggang
dan mengacung-acungkan di depan muka Taufik.

Walaupun mundur karena melihat situasi tidak
bisa terkendali, mereka kemudian naik ke atas sofa,
dan salah satu mahasiswa itu memukul dada serta pipi
sebelah kiri Taufik disaksikan yang lainnya.

"Kami tetap mencoba menghindari kontak fisik,
bukan karena takut tetapi tidak mau membuat nama Unila
tercemar karena adanya perkelahian, mengingat sekarang
sedang ada Pimnas ke-20. Walaupun kawan-kawan di
Teknokra itu sempat terpancing emosi dan akan melawan,
tapi saya menghalang-halangi, " urai Taufik pula.

Salah satu dari oknum mahasiswa itu, juga
mencoba untuk menenangkan teman-temannya yang sudah
emosi dan mengajak keluar Sekretariat Teknokra,
walaupun salah satu diantara mereka keluar sembari
melampiaskan kekesalannya dengan menendang daun pintu,
menggebrak meja serta membanting vas bunga milik
Teknokra.

Menurut Taufik, setelah kejadian itu, sejumlah
pihak atasnama mahasiswa itu berupaya untuk bertemu
dan mengajak "damai".

Sejumlah alumni Unila yang pernah aktif di SKM
Teknokra yang mengetahui peristiwa "penyerangan dan
pengancaman" itu, justru mendesak agar kasus tersebut
diproses hukum dengan diadukan kepada polisi, sehingga
oknum mahasiswa FKIP Unila yang mengancam dihukum
sesuai kesalahannya.

Salah satu dosen Fakultas Hukum Unila, Dr Eddy
Rifai bahkan mengaku siap mendampingi para aktivis
pers mahasiswa Teknokra itu, untuk menindaklanjuti
kasus pengancaman terhadap institusi pers kampus itu
kepada aparat penegak hukum.

"Jangan pernah membiarkan tindakan anarkis dan
sewenang-wenang terjadi dialami kawan-kawan pers
mahasiswa, apalagi pelakunya oknum mahasiswa di kampus
sendiri," ujar salah satu kandidat yang lolos nominasi
Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu
pula.

Sejumlah alumni Unila yang pernah aktif di SKM
Teknokra lainnya, juga mendesak agar pihak Rektorat
dan Dekan FKIP Unila segera memproses dan
menyelesaikan kasus tersebut.

"Tidak cukup dengan minta maaf dan berdamai,
kalau dibiarkan tanpa tindakan hukum yang tegas akan
menjadi preseden buruk bagi SKM Teknokra dan pers
mahasiswa lainnya,' kata salah satu alumni itu pula.

Juwendra Asdiansyah, alumni SKM Teknokra yang
juga Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Lampung
juga mengecam keras tindakan oknum mahasiswa FKIP
Unila kepada Pengurus SKM Teknokra itu.

Menurut dia, seharusnya mekanisme hak jawab
dan cara-cara menyelesaikan masalah berkaitan dengan
keberataan sebuah pemberitaan tidak dilakukan dengan
cara yang anarkis dan cenderung premanisme seperti
itu. Apalagi di lingkungan kampus yang semestinya
lebih mengedepankan sikap santun, rasional dan cerdas.

Diselesaikan Kekeluargaan
Namun Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan Unila
(PR III), Drs M Thoha BS Jaya MS menilai, persoalan
itu adalah internal Unila yang masih bisa diselesaikan
secara baik-baik dan dengan kekeluargaan oleh pihak
Unila sendiri serta tidak perlu sampai dibawa ke
polisi.

Thoha menegaskan, telah minta Pembantu Dekan
Bidang Kemahasiswaan FKIP Unila untuk segera
mempertemukan kedua pihak lebih dulu, untuk kemudian
diajak bertemu langsung dengan dirinya.

"Kebetulan dua hari ini saya masih tugas di
Jakarta, tapi setelah kembali akan segera
mempertemukan mereka untuk menyelesaikannya dengan
baik-baik," kata Thoha lagi.

Thoha berpendapat, insiden itu adalah
persoalan internal yang dapat diselesaikan secara
kekeluargaan di Unila sendiri. Apalagi tidak ada yang
korban sampai terluka atau akibat buruk lainnya.

Tapi dia juga berjanji, tidak akan membiarkan
adanya oknum mahasiswa yang berbuat anarkis dan
cenderung berlaku preman di lingkungan kampusnya
sendiri.

Kendati begitu, Thoha belum dapat memastikan
kemungkinan memberikan sanksi kepada mahasiswa FKIP
yang terbukti melakukan tindakan pengancaman dengan
senjata tajam dan perbuatan tidak menyenangkan lainnya
kepada crew SMK Teknokra itu.

Pimpinan Umum SKM Teknokra dan Pengurus surat
kabar mahasiswa yang tetap eksis di Indonesia itu,
juga mengharapkan persoalan tersebut masih bisa
diselesaikan secara baik-baik dan damai mengingat
pelakunya adalah juga mahasiswa di kampus mereka.

Tapi mereka mengharapkan, tidak ada lagi
tindakan kekerasan, intimidasi apalagi pengancaman
terhadap pers mahasiswa terjadi di Unila hanya karena
keberatan dengan pemberitaan seperti itu.

Tuesday, July 17, 2007

Gede


Jadi kapan? Gimana kalau jumat besok?
Ok, jadiin ya!
Kurang lebih begitu bunyi sms ku dengan dede. Sebenernya perjalanan gue ama temen-temen (Yudi, Dede, and Brang) ke Gunung Gede yang tingginya 2900an itu sulit buat gue ceritain lewat tulisan, bener-bener seru. Cuma bedanya pendakian kita kali ini nggak pake acara nyasar kayak di PS (piss…)

Rencananya emang udah lama, namun sayangnya sering banget ketunda. Ada-ada aja halangannya. Emang kalo direncanain pasti kebanyakan gagalnya ketimbang dadakan. Awalnya ada dua cewe yang bakal nemenin gue, tapi satu hari menjelang hari H keduanya gagal karena yang satu nungguin pengumuman dan satu lagi sedang ada kerjaan. Alhasil, lagi-lagi gue kembali menjadi manusia paling cantiq, like usual.

Gak banyak yang gue persiapin, hanya beberapa helai pakaian dengan perangkatnya, handuk kecil, jaket, kaos kaki cadangan, alat cantique (baby cologe, baby powder, facial wash, toot brush, pasta), makanan (mie, mie and mie ), and of course wet tissue (buat pup).
***
Hari ke 22 dibulan Juni 2007 pukul 1 siang. Kalau di Jakarta pasti lagi panas-panasnya, tapi disini kayak udah sore. Bahkan udara disini udah buat tubuh gue menggigil. Puncak Gede dan Pangrango dikelilingi kabut tebal, seolah-olah meledek ledek minta didaki.
“Liat aja lo, besok pasti gue injek-injek”
Ya…itulah Cibodas. Kita tiba di Green Ranger dengan selamat. Disini kita disambut oleh mamah Tiara. Mungkin kalau di PS (baca: April-PS) mamah seperti emak, Cuma bedanya kalau si Mamah jualan peralatan gunung, tapi kalau si emak jualan pisang molen.

Pukul 10 malam kita mulai naek. Kalo di PS kita hanya bermodalkan lighting senter korek api gas, kali ini kita lebih prepare. Masing-masing dari kita memegang senter. Jadi lighting tidak ada masalah.

“Bro kita free talk dulu yuk..” ajak gue sambil ngos-ngosan. Free talk adalah istilah kita untuk istirahat dan berbicang-bincang sejenak.
Tempat kita free talk pertama adalah di Telaga Biru, disini kita bukan hanya free talk tapi ada acara rebus air dan makan mie segala (dasar…). Bahkan Dede sempat tertidur dulu. Padahal perjalanan baru aja dimulai.
“Nyantai aja kan, kita nggak buru-buru,” celetuk Dede sambil merebahkan badannya, dan nggak lama dengkurannya pun udah kedengeran.

Pukul 1 dini hari perjalanan kita lanjutkan, rencana kita akan ngecamp di Kandang Badak, atau minimal di Kandang Batu.
“Pokoknya nyantai aja, kalau capek ya kita gelar tenda, oke. Kita gak ada target kan?” seru iduy.
Siippp…seru kita.
Namun sayangnya perjalanan sampai air panas saja belum sampai tapi kaki ini sudah tidak bisa diajak kompromi lagi. Kita pun gelar tenda. Kira-kira pukul 8 pagi kita bangun, namun segera digegerkan dengan hilangnya sepatu Boogie milik Iduy.
“Yah trus gue naek pake apa dong? Masa nyeker? Mana masih jauh lagi!” serunya
“Kita hubungin Green Ranger aja. Sapa tau bisa kena periksa di bawah,” kata gue.
Sambil mengutuk-ngutuk si maling, kita beres-beres tenda sekaligus Iduy mencari-cari sinyal. Si sampah teknologi itu kini benar-benar menjadi “sampah” di gunung seperti ini.
Ternyata bukan hanya sepatu saja yang kena sabet, gak tanggung-tanggung, kaos kaki Iduy pun di babat si Maling. “Padahal yang penting tuh kaos kakinya. Baru aja gue beli,” gerutu Iduy. Kedengeran sekali kalau kata-kata itu menyenangkan hatinya sendiri. Padahal sudah jelas-jelas yang lebih penting ya sepatunya.
Iduy pun naek pakai sandal jepit “tulang ikannya” milik Dede. Gak bisa gue bayangin sakitnya kena batu-batu tuh kaki, karena sendal jepit milik Dede benar-benar mirip “tulang ikan” saking tipisnya terkikis.

Setelah melewati air panas dan kandang batu, akhirnya tiba juga di Kandang Badak. Kelihatannya lebih dari lima belas tenda ngecamp disana. Disana kita berkenalan dengan pendaki asal Jakarta, mereka adalah Ipul, Asep, and Doger (namanya lucu2 ya). Mereka mau naek ke puncak Gede, tapi langsung turun lagi. wuih..hebat juga nih bocah, pikir gue. Rencana kita yang awalnya juga akan ngecamp di puncak gede, lagi-lagi di cancel. Kaki udah nggak bisa diajak kompromi lagi. kembali, tenda pun digelar.
“Kita ngecamp disini aja yak. Besok kita ke Pangrango trus turun lalu kita ke Gede. Bagaimana?” ajak Dede.
“Okeh gak masalah. Iya kan khe?” jawab Iduy.
Ya..ya..ya…
Rencana yang perfect. Cuma apa iya bisa naek turun puncak segitu cepetnya? Tapi lihat besok ajalah, pikir gue.
Brang, seksi peralatan dan perlengkapan segera menggelar tenda. Tuh bocah emang doyan banget bongkar pasang tenda. Badannya bener-bener kuat, maklum gunung Gede mungkin bagi dia ngga seberapa. Karena beberapa bulan sebelumnya dia bersama 5 orang pendaki lainnya baru aja mendaki gunung Cartenz di Jayapura sana, ck..ck…ck…

Sore disana emang dingin banget. Untung si Brang ama Iduy buat minuman. Lumayan, bisa buat badan sedikit hangat. Dibawah tenda kita berdiri, ada 2 tenda yang lumayan gede. Satu tenda sama kayak kita punya, satu lagi mirip tenda pramuka. Panjang dan lebar...
Sebagian besar isinya awewe (alias cewe), mungkin cowoknya hanya dua atau tiga orang dan sebagian besar dari mereka turunan China. Kerja mereka masak…masak dan masak. Habis dari obrolannya yang kedengeran sampai ke kita Cuma makanan terus, hehehe….bikin ngiri karena kita Cuma bisa masak mie, kerupuk dan sarden oh iya gak lupa ikan asin bawaannya Iduy.

Disini nggak buat api unggun seperti di PS. Maklum, hutan di Gede termasuk yang dilindungi. Jadi kita maen api kecil-kecilan buatan Iduy, sedang si Brang selalu asik dengan nestingnya. Gak pa pa, dari pada gak ada kerjaan, jadi ngerebusin air terus. Si Dede mana yak? Oh iya, selesai makan dia langsung masuk ke sleepingbag ¬nya, tuh bocah emang kalo digunung ketauan sifat ASLI nya. MALES!!

Sekitar pukul 8-an, tiga orang pendaki Jakarta yang gue certain diatas tadi turun dari puncak Gede.
“Assalamualaikum…” entah seru siapa, karena gelap gue gak bisa lihat muka mereka satu-satu.
“Walaikumsalam..” jawab kita sama-sama.
“Wah udah turun. Yuk kita ngopi2 dulu, nih ada kopi lampung. Ngicipin…hehhee,” seru Iduy.
Kita pun bercakap-cakap. Sampai akhirnya gue dah gak tahan lagi ama angin yang “nampar2” muka. Gue masuk tenda, kemudian masuk ke sleepingbag. Kalau dipikir2 badan gue udah kayak ulet aja masuk ke sleepingbag, yang keliatan Cuma muka doank :D
Emang temen2 gue ini baek, mereka tau kalau gue gak bakalan bawa peralatan gunung sebagai mana mestinya. Jadi gue dipinjemin jaket anti angin, sarung tangan, sleepingbag ampe kaos kaki. Tapi tunggu dulu, kaos kaki gue bawa sendiri. Gue gak mau bau favorit gue bercampur dengan bau mereka heheheh…(piss guy).

Ada tiga sleepingbag. Satu dipakai Dede, satu dipakai gue dan satu lagi dipakai Brang, sedang Iduy dia pakai jaket super tebel yang ketebalannya sama aja kayak sleepingbag.

Sepertinya ketiga anak Jakarta itu ngecamp di Kandang Badak. Cuma mereka pakai apa? Gue gak abis pikir. Setelah gue lihat pagi-pagi, ternyata mereka tidur Cuma ditutupin terpal warna hitam, dengan alas karpet.
“Hah! Jadi tadi malam kalian minep disini? Dengan beginian nih? Gila…bener2 gila,” seru gue pada mereka.
Hehehhe….jawab mereka
Yah..dia malah ketawa. Bukannya mikir, pikir gue dalam ati.

Setelah makan pagi, kita semua beres2. rencana kita selanjutnya naek ke puncak gede lalu ke surya kencana (lihat edelwis) kemudian turun ke Cibodas. Sedang, rencana tiga orang Jakarta itu ya langsung turun. Karena sebenernya mereka tidak ijin untuk menginap melainkan hanya ke air terjun Cibeureum. Dasar…
Tapi tunggu dulu, sebelum menjalankan rencana kita masing-masing kita mengabadikan moment terlebih dahulu, tidak lupa kita pun bertukaran email dan nomor telepon (sebenernya yang ngasih nomor telepon Cuma gue doang sih, hehehe...)
“Pakai cariel nya dong, biar gaya,” seru iduy.
Halah…
123…Cheerrr….

Selanjutnya kita berpisah dan melanjutkan perjalanan masing2. Dua jam lebih lebih perjalanan menuju puncak. Ditengah jalan kita ketemu bule, gila langkahnya panjang2 banget. Wajar aja kalau dia nyampe duluan. “Kalian baru sampai? Wah kalian naik escalator lambat ya,” begitu katanya saat berpapasan kita di puncak.
“Ya iyalah situ enak kakinya panjang, nah kite?,” tapi gue jawabnya dalam ati hehehe…
Waktu perjalanan naek ke puncak, kita ngelewatin tebing yang lumayan curam dan lumayan tinggi. Walaupun disediain tali buat manjat, tetep aja bikin jantung gue ketar ketir.
“Khe bisa ngga? pegangan gue aja!” seru Brang. Walaupun dia bawa cariel paling gede, tapi kayak nggak ada beban sama sekali. Beda ama gue. Padahal tas gue udah dibawain ama Iduy, tapi tetep aja ngerasa berat. Duh kalau begini, gue ngerasa badan gue ‘ndut banget, kalau kurusan enak banget kali yak 
Setelah melewati tebing curam itu tak lupa foto-foto, teteeppp….habisnya pemandangannya indah banget. Maklum jarang-jarang ngeliat gunung dari deket, jadi keliatan norak yak :D
Belum lagi pas nyampe puncak. Gak ada abisnya moto-motoin pemandangan. Kalau selama ini kita ngeliat awan keatas, kali ini kita ngeliat awan kebawah. Kita bener-bener ada dipaling atas puncak gunung. Busyeettt...cantik banget

Kita sampai di puncak pukul 12-an siang. Setelah foto-foto, kita istirahat sebentar sambil masak mie (lagi-lagi..) karena emang Cuma mie yang tersisa.
“Gila bagus bangett..khe mau ikut gue gak foto-foto?” ajak Dede.
“Gak ah, udah cukup. Kaki gue pegel banget. Pengen ngaso dulu bentar,” jawab gue. Rasa-rasanya udah gak sanggup lagi gue jalan. Capek banget. Bahkan Iduy dan Brang sempet tidur dulu.

Jam 3 kita kembali turun. Rencana ke Surya Kencana gagal. Selain karena waktu, gw juga ogah. Sebenernya kepengen banget Cuma kaki gw juga ogah buat diajak jalan lagi. Giliran melewati tebing curam yang tadi kita naikin. Lagi-lagi dengan bantuan si Brang gue bisa ngelewatin semua itu dengan deg-degan. Dede udah sampai di bawah duluan. Dia moto-motin kita yang lagi susah payah turun pas ditebing tadi, jadi kita nurunin tebing itu pake gaya, dasar…
“Kayaknya kita mesti minep semalam lagi deh. Gimana kalau pulangnya besok? Kita pasti kemaleman di jalan. Sekarang aja udah sore, gimana De?” ujar Iduy tiba-tiba.
“Iya juga. Gw sih hayo aja. Lu gimana khe?” jawab Dede. (Kalau Brang nggak sudah ditanya. Kalau dia sih berharap lama-lama di gunung, emang udah jadi orang gunung. Mukanya aja mirip yang hidup di gunung) hihihi…piss.

Hah? Minep lagi? Besok kan senen. Trus gawe gue gimana? Emang sih deadline dah selesai. Cuma kan gue baru dua bulan gawe, masa dah semau-mau masuk? Tapi gue juga pasti gak mungkin bisa masuk besok kalau begini. Setelah dipikir-pikir bener juga kata mereka. Sampai di kandang badak aja mungkin jam 5-an, belum turunnya pasti mesti butuh waktu 5 jam-an. Gue juga ogah ngelewatin air panas malem-malem, kalau kepeleset gimana? Wahh…ntar dulu deh.
“Gimana yak? Bener sih. Ya udah deh…tapi gue musti butuh sinyal buat hubungin temen. Orang2 pasti nyariin gue! Tapi logistic kita gimana? Dah nggak ada lagi?”
“Masih kok kalo buat sekali lagi. Ya udah lu ketik sms aja dulu. Ntar pas dapet sinyal langsung lu kirim,” kata Iduy.

Sesampainya di Kandang Badak. yang lain sibuk diriin tenda, gue sibuk nyari sinyal. Tapi tetep aja si 'sampah' ini nggak ngebantu gue. Eitt..tunggu dulu, yang sibuk buat tenda Cuma Iduy and Brang, karena Dede seperti biasa…memperlihatkan sifat aslinya. TIDURAN! Dasar…
Waktu itu Cuma sedikit yang ngecamp di Kadang Badak. Kalau nggak salah Cuma ada 5 tenda, salah satunya ada yang dari Tangerang (3 cowo 1 cewe). Terakhir gue tahu cewe itu Vera, asalnya dari Lampung, lainnya gue lupa.

Besok paginya, pukul 8 kita mulai turun. Pendaki asal Tangerang itu berencana naek ke puncak. Sedangkan kita langsung turun, dan tak lupa foto dulu. Pas turun kaki gue sempet kesandung batu, dan hasilnya lumayan buat lutut gue ungu (sakit juga sih).

Sesampainya di Cibodas kita mampir ke Green Ranger kembali. Baru setelah kita makan dan bersih-bersih badan kita berpamitan dengan Mamah dan suaminya Bang Idhat (maaf kalau tulisannya salah ya bang).

Pukul 2 siang kita mulai turun. Puncak masih macet, maklum hari itu pertama liburan anak sekolah jadi termasuk lama juga didalam bus menuju kampung rambutan. Untung sampai di Taman Safari gue bisa dapet tempat duduk, tapi sayangnya Dede terpaksa berdiri. Dia nggak kebagian tempat.
Sampai di Kampung Rambutan kita naek bus way. Selain murah, bisa langsung depan kosan. Karena kosan gue deket dengan shelter Benhil. Tapi Iduy kepengen ketemu temannya dulu (EB namanya). Jadi sebelum sempet nyampe shelter Benhil kita turun di Manggarai. Belum lama nunggu di depan Pasar Raya, EB datang dengan temannya. Kita pun mampir ke kontrakannya sebentar lalu makan di TIM. Baru setelahnya sekitar pukul 11 malam gue balik kekosan, diantar oleh mereka.

Huh…perjalanan yang sangat panjang dan kaki gue seperti mati rasa. Capek banget!!
Tapi its ok, tiga hari full adventure. Capek gue ngga seberapa dibandingin ama pengalamannya. Karena belum tentu dalam waktu deket bisa seperti itu lagi. Kalau Dede bilang, dia bakalan ke Gede lagi bukan ngajak gue (karna bosen) tapi dengan sang istri (buat honey moon), hahaha….begitu katanya.
“Emang lo bisa diriin tenda De?” seru gue sambil ketawa waktu dia bicara gitu.
“Sialan lo. Ya bisa lah..” jawab dia.
“Becanda De…gue tunggu kabarnya aja, ok Bro” .
Kali ini foto hasil jepretan kita lumayan banyak yang bagus2, nggak kayak waktu di PS dulu. Bener-bener...

Thursday, July 12, 2007

Belajar berkeluarga...

Memang benar yak kalau menikah, trus punya anak lalu hubungan suami istri bisa jadi tidak mesra?
Kaget! Itu yang aku lakukan ketika si bos menyuruhku memberikan tema untuk bulan ini.
“Jadi suami istri itu kalau sudah punya anak…Bla…bla….bla…. kamu paham kan Khe?” katanya.
Ups. Apapula ini. Paham sih, tapi emang iya ya? Duh gak habis pikir.
Ini adalah tugas ketiga ku menulis tentang keluarga. Macam-macam saja tema yang diambil. Maklum, secara aku belum mengerti dengan segala hal yang berhubungan tentang keluarga, wong kepikiran untuk menikah saja belum, malah disuruh menulis hal-hal kayak begonoan.
“Kamu kan bisa konsultasi gratis khe dengan para psikolog itu. lumayan buat kamu belajar nanti,” begitu kata si bos. Kalimat pemotivasi diriku. Awalnya aku ogah-ogahan menulis tulisan keluarga ini, tapi setelah dipikir-pikir….
ehmm boleh juga untuk pembelajaran, hehehe…

Bulan lalu aku disuruh membuat tulisan tentang suami istri yang berkonflik tapi mereka tetep tinggal satu atap. Awalnya aku nggak percaya ada pasangan yang seperti itu, karena dipikiran ku, kalau dah nggak cocok ngapain dipaksain. Hehehe…pikiran bocah
Ternyata kalau sudah berumah tangga itu banyak hal yang bisa buat jadi konflik. Jangan berbicara tentang perselingkuhan deh, karena kalau itu sudah biasa. Lihat saja berita infotaiment, banyak artis yang kawin cerai gara-gara salah satu pasangannya selingkuh. Tapi ternyata hal kecil seperti anak pun bisa menjadi hal pemicu untuk cerai. Sepele memang kelihatannya tapi begitulah kenyataan. Bahkan dengan tetangga pun kita perlu berhati-hati. Neighbour, friends or foe? Begitu aku kasih judul pada tulisanku yang pertama. Ternyata tetangga bisa membuat pola asuh sebuah rumahtangga menjadi berubah, bahkan pengaruhnya sangat besar. Wah..wah…begitu yak.

Tuesday, July 10, 2007

Sang Juara Itu.....

Lama aku tunggu, akhirnya datang juga. Untuk ukuran pria remaja dia termasuk tinggi, tapi tubuhnya tidak terlalu besar. Mungkin sekitar 40 kg. Dari pakaiannya ia kelihatan biasa saja, hanya kaos oblong berkerah dengan celana jeans dan sandal jepit. Jerawat mini di mukanya menandakan kalau ia sudah menanjak remaja, namun tetap terlihat menarik. Ia berjalan bersama seorang pria, dari perawakannya mungkin ia berumur 40 tahunan. Rambut gondrong, dengan celana panjang belel serta kaos oblong yang sama-sama belel. Memperlihatkan kalau ia berasal dari golongan yang sangat biasa. Bukan orang kantoran, juga bukan orang berada, karena tubuhnya pun tidak kelihatan terurus.
“Maaf mba lama menunggu. Saya Farid,” seru pria remaja itu.
Segera aku berdiri dari tempat duduk dan menjabat tangannya dengan erat. Kata nenek, kalau bersalaman dengan orang harus erat dan tegas, itu menandakan juga karakter orang dan keseriusan kita.
“Aku Rieke. Tidak apa-apa, Aku yang salah karena datang terlalu cepat,” ucapku.
“Aku tinggal ya mba, mau jaga warung lagi,” seru pria yang bersama Farid.
"Ok terimakasih banyak pak," jawabku

Ternyata pria yang bersamanya itu adalah Abrori, ayah Farid. Sehari-hari ia menjaga kios rokoknya didepan sekolah Farid. Tidak, terlalu bagus untuk disebut kios, mungkin lebih tepat kalau dibilang warung kecil.
Aku dan Farid segera mencari tempat. Ya, kedatanganku ke Bekasi hari itu adalah untuk mewawancari Farid, sang juara catur dunia untuk kelompok umur 15 tahun di Yunani Mei lalu.
Farid pun bercerita akan kemenangannya di Yunani sana. Dengan nilai nyaris sempurna 8,5 dari 9 permainan membuat Indonesia bangga mempunyai putra yang amat pintar di olah raga berfikir itu. Mengalahkan pecatur Rusia dan Turki. Sungguh mengagumkan. Remaja bernama lengkap Farid Firman Syah ini belum genap umurnya 14 tahun, namun rekornya menjuarai berbagai perlombaan catur sudah seabreg-abreg. Dia bukan orang kaya, dia hanya orang biasa. Dia juga tahu catur bukan dari sekolah catur, walaupun akhirnya ia pun disekolahkan di sekolah catur ternama SCUA. Dia tahu catur dari ayahnya yang setiap malam sering bermain catur dengan teman-temannya. Hingga akhirnya ia tahu langkah-langkah si biji catur itu, sang ayah memasukkannya di SCUA tempat biasa ia berjualan rokok. Walaupun demikian Amaroh (sang ibu) harus menyisihkan 75 ribu setiap bulannya dari penghasilan yang tidak seberapa itu untuk biaya sekolah Farid. Nilai yang lumayan besar bagi mereka, namun tekad Farid ingin belajar catur membuat Abrori dan Amaroh berjuang keras untuknya.

Ajaib! Hanya 3 bulan Farid bersekolah, ia sudah bisa mengikuti perlombaan catur antar pelajar di Bandung, dan tidak tanggung-tanggung, juara I pun di sabetnya. Saat itu Farid belum genap berumur 9 tahun.
“Aku ingin bantu Ibu dan Ayah. Aku ingin seperti pecatur Susanto yang dapat membeli mobil dari hasil catur,” seru Farid.
Sungguh keinginan yang luar biasa. Sadar dengan keadaannya, Farid merasa harus membantu kedua orangtuanya. Dengan motivasi inilah, akhirnya ia berhasil mensabet seluruh perlombaan catur lainnya. Hingga kini ia mendapat gelar master nasional. Walaupun saat ini dia mendapat gelar grand master untuk tingkat junior, namun ia merasa tidak harus belajar sampai disitu. Kini, obsesinya ingin menjadi Grand Master, sebuah gelar paling puncak di dunia pecaturan. Walaupun
“Bermain catur itu ibarat perang antar dua kerajaan. Butuh strategi untuk mengalahkannya. Aku ingin seperti Anatoly Karpov (pecatur Rusia) dan Utut Adianto,” ujar Farid. Walaupun suaranya kecil, tapi terdengar kalau ia sungguh-sungguh.

Ok Farid, kita doakan obsesimu tercapai. Agar Dunia tidak memandang sebelah mata akan Indonesia dan mudah-mudahan saat kau pensiun dari caturmu nanti, engkau tidak dilupakan begitu saja oleh Indonesia, seperti nasib atlet Indonesia lainnya. Amin.

Wednesday, June 06, 2007

Oleh2 Vs Cewe

Yang namanya cewe emang doyan banget ama yang namanya shopping. Bukan Cuma itu, cewe juga doyan ama yang namanya beli oleh-oleh. Kebetulan kegemaran itu jadi salah satu khas gue ama temen satu gank (biar kedengeran lebih keren, pake ”k”). Setiap jalan-jalan, wajib bawa oleh-oleh. Meskipun duit dikantong Cuma tinggal seribu pokoknya wajib beli oleh-oleh, permen juga ga apa apa, yang penting oleh-oleh. Kalo jalan-jalan tanpa beli oleh-oleh ibarat sayur asem gak pake garem, begitu katanya. Sebenernya gue paling benci yang namanya bawa-bawa bungkusan. Kalo bisa tas yang dipegang itu Cuma satu, cukup ransel TITIK. Tapi entah kenapa kalau jalan ama temen gank ini, penyakit beli oleh-oleh kadang datang menjalar di tubuh gue(halah, apa sih).
Mengenai oleh-oleh, gue saaluutt ama teman gue Ina namanya. Dia emang ratu oleh-oleh. Ehmm…kalo dia ini walaupun duit lagi cekak, oleh-oleh tetep wajib dibeli (sebenerna semuanya jg sama, Cuma dia yang paling ketara banget). “Nggak enak ntar kalau orang rumah nanya oleh-oleh gimana? Lagian kan mumpung lagi disini, jarang2 lho” begitu katanya.

Bukan Cuma oleh-oleh berjenis makanan, boneka yang nggak penting dibeli aja bakalan di beli ama si Ina ini. Apalagi kalau ngeliat boneka tweety, ampe bela-belain pinjem duit buat ngebeli binatang berkepala aneh itu. Pernah suatu kali kita jalan ke ciater, ampe sana oleh-oleh yang kita bawa (tepatnya Ina) ngelebihin tas yang kita pake. Padahal tuh tas udah ukuran ransel 60 liter (gila kan). Mulai dari alpukat, opak, salak, wayang golek, ampe boneka winny the pooh, dan tweety semuanya dibeli. Padahal waktu itu gue sempet mikir emangnya ini boneka nggak ada yang jual apa ya di serang? Tapi bodo ah, yang penting bawa oleh-oleh.
Kembali ke jalan-jalan. Kurang lebih satu bulan yang lalu kita maen ke Subang. Kali ini yang gandrung ama oleh-oleh bukan lagi Ina tapi temen gue yang satunya Oke (walaupun jabatan Ina sebagai ratu oleh2 tidak dapat disingkirkan). Ketika kendaraan akan keluar Subang kita berhenti buat beli Nanas, konon daerah ini memang terkenal dengan nanas madunya. Jadi kalau gak beli khas daerah sini gak afdol. “Sabaraha iyeu bu?” tanya kita rame2. “Lima belas tilu neng” jawab si Ibu. ”Set awis amat bu, sapuluh tilu nyak. Abdi ngala genep yeuh” kata Oke. Gue pikir enem itu tiga gue trus tiga lagi dia, eh gak tau nya si Oke bener-bener beli enem. Gila banyak banget...
”Lo buat sapa ke? Banyak banget. Teteh lo ngidam? Apa emak lo?” tanya gue.
”Ah mumpung murah, bayangin tadinya lima belas tiga sekarang jadi sepuluh tiga, hebat kan!”
Hah...apa nya yang hebat, pikir gue.
”Lo gak beli Na? Tumben” tanya gue pada Ina.
”Gak ah, gue gak boleh beli nanas. Kata nyokap gue gak baek buat cewe”
Hah..apa lagi ini, tumben-tumben si Ina beli oleh2 pake mikir dulu.
”Ah lo mah gak pernah nonton asal usul sih, percaya gituan”
Akhirnya sembilan nanas berukuran besar-besar masuk bagasi mobil. Tiga punya gue, enam punya Oke.
“Eh, kalo ada ubi cilembu kita berhenti yak. Jangan lupa lho!” seru Oke
”Iya gue juga pengen beli” saut Ina.
“He eh gue juga nih pengen beli,” kata gue. Padahal dalam hati buat apa yak beli ubi cilembu, tapi gak pa pa deh yang penting dibeli dulu.
Gak lama....
Tu tu tuh...ubi nya. Berenti ko! Seru kita bertiga bersamaan
Setelah tawar menawar, didapatlah harga tengah2 kebetulan gue lupa berapa harga jadinya waktu itu. Tapi yang pasti gue beli satu setengah kilo, Oke empat kilo dan Ina tiga kilo plus alpukat dua setengah kilo. Busyettt...
Brukk..oleh-oleh kembali masuk ke bagasi.
Kendaraan pun kembali melaju menuju kota kembang. Ehmm...disana kan gudangnya oleh2. berhenti sejenak di SPBU, bukan buat beli bensin tapi buat ngeluarin bensin (pipis maksudnya heee..), Oke and Ina dah kebelet. Sampai disana pedagang yang jual strawbery bikin gue ngiler. ”Ihh...bagus2 banget sih strawberry nya” seru gue.
Tapi gak ada yang nyautin gue, untung banget si Eko keburu ngusir tu pedagang kalo gak bisa-bisa gue beli buah asem itu juga.
Hal itu sempet gue ceritain ke Oke n Ina. Mereka ketawa2, “untung lo gak beli khe, dah gitu kita lagi pada pipis lagi. Kalo kita ada pasti dibeli tuh, lumayan buat nambahin bawaan” seru Oke.
”Gila udah banyak banget tuh bagasi, lagian kan si Meli dah ngebawain oleh2 juga masa masih kurang juga” kata Eko
”Eh itu mah pemberian, beda donk,” seru Ina.
Huh..dasar…keluh Eko.
Sampai di Bandung, gue ribut ama yang namanya Cimol, Ina ribut ama Ciloknya dan Oke rebut ama bakso cekernya.
“Duh pusing nih, banyak banget sih maunya. Abis ini katanya mau beli peyeum?” kata Hardi.
”Eh salah setelah ini kita beli sepatu dulu, tapi dimana yak?” seru Oke.
”Oh iya gue juga kepengen banget beli sepatu. Yang murah tuh dideket mesjid agung, Cuma gue gak tau deh namanya. Lo tau kan Di?” jawab gue.
“Iya gue pengen beli tas juga buat ngajar, gue dah bosen ama tas yang sering dipake. itu2 mulu” seru Ina.
Arrrgghhhhh….kata Hardi sambil garuk2 kepala.
Sesampainya dipasar kita keliling2, Oke dapet sepatu 2 pasang dan 1 tas. Gue dapet 1 tas (padahal awalnya pengen beli sepatu tapi malah nyasar), trus gak nanggung2 Ina dapet 2 tas.
Brukk…kembali barang bawaan masuk bagasi.

Sekarang tinggal beli peyeum Bandung. Kalo ke Bandung gak beli peyeum berarti gak ke Bandung namanya. Namun kota Bandung udah kita puter2in tetep aja tu peyeum gak nemu juga. Akhirnya pilihan terakhir jatuh di leuwih panjang, kalo diterminal gak mungkin donk gak ada peyeum.
Walapun hujan deres banget tapi tetep kita bela belain, demi beli oleh2 si peyeum. Nyampe diterminal, ujung2 nya bukan Cuma peyeum, tapi keripik tempe yang gak masuk dalam list oleh2 pun ikut dibeli.
“dua kilo yak pa” seru Oke. ”sami pak abdi oge dua kilo” saut Ina. Cuma gue yang gak beli, habis gue lirik dompet kayaknya ngepas banget deh. Ehmm…gak usah aja deh, mendingan gue beli peyeum aja, kata gue dalam ati.
Karna biar keliatan oleh2, peyeum yang seharusnya bisa dimasukkan ke plastik, gue minta ama abang penjualnya buat dibungkus pake keranjang.
“Lo bener2 kayak dari kampung banget sih khe, untung tu keranjang gak diisi ayam jago,” seru Eko.
Hahahaha….spontan semuanya ketawa.
Sialan, piker gue. “eh, biar sekalian kayak dari jalan2 donk, kan nanggung” jawab gue.
Diperjalanan pulang menuju Serang, gue tengaok isi bagasi.
“Busyettt….banyak banget, gimana bawanya yak?”
“Hahaha…baru nyadar lo yak kalo bawaan lo banyak.” jawab Eko sambil cengengesan.
“Yah elu, gue sih sebenernya gak mau bawa2 kayak ginian. Nih gara2 kena sindrom si Ina, maka nya gue jadi beli2 yang gak genah ini”
“eit kok gue yang disalahin sih, udah ga pa pa yang penting orang rumah seneng” saut Ina. Gue liat2 lagi barang bawaan yang gue beli. Gue Cuma bisa geleng2 pala doank. Kok bisa sebanyak ini yak, gak habis pikir deh. Apalagi dua penggila oleh2 itu, Ina n Oke bisa repot banget tuh anak pas pulangnya.
Pokoknya sepanjang perjalanan kita sakit perut Cuma gara2 ngetawain oleh2 yang numpuk dari bagasi ampe kursi belakang.
Dasar cewe, gak bisa liat barang murah. Apalagi kalo nawar trus dia jadi pemenangnya, yang kayak begituan tuh yang jadi kepuasan bagi cewe kalo belanja, betul gak?

Wednesday, May 23, 2007

Dag Dig Dug

Jam ditangan menunjukkan 10.45 pm. Tas aku pegang erat-erat, tak lupa bibir ku juga komat-kamit, sekedar menenangkan hati memohon kepada-Nya agar diberikan selamat sampai tujuan. Aku tidak tahu berapa jarak aku berdiri saat ini hingga di tempat, tapi yang pasti perjalananku masih jauh, masih tiga kali naek mobil lagi. Sesekali aku tengok ke belakang. Masih belum ada juga, pikirku. Sedikit menggerutu, karena sudah lima belas menit aku tunggu bus tapi tidak ada yang muncul.
Saat ini sampah teknologi ku tidak bisa ku pakai. Lowbat! Huh kebiasaan, pikirku. Giliran sedang dibutuhkan malah jadi merepotkan.

“Ayo grogol…grogol…grogol..slipi yuk!”
Alhamdulillah akhirnya datang juga. Segera aku naik, dan duduk tepat dibelakang supir. tumben bisa dapet tempat duduk, pikirku, biasanya paling bantar aku cuma bisa sandaran di tiang dekat kursi supir. Aku tengok ke belakang cuma ada 2 wanita, dan yang lainnya pria. Beberapa orang dari mereka memang keliatan pekerja.
Jalanan sepi, jadi bus bisa seenaknya memakai jalan, tidak seperti biasanya. Hanya membutuhkan waktu sekitar duabelas menit aku sudah sampai di Slipi.
Jalanan agak sepi. Ku cari angkot bernomor 11, agak susah juga. Mungkin karena sudah malam, pikirku. Ah itu dia diujung sana. Segera kulangkahkan kaki menujunya, aku naik dan lagi-lagi aku duduk tepat dibelakang supir. Penumpang didalam semuanya pria. Sedikit risih juga melihatnya, perasaan takut merasukiku, sagala pikiran yang macam-macm datang di kepalaku. Kembali bibirku komat kamit, menyebut nama-Nya, minta diberikan keselamatan kembali. Setelah aku perhatikan, ternyata seseorang yng duduk tepat disamping supir itu adalah wanita, hanya saja keliatan agak kelaki-lakian. Uh..untung ada temennya, bisikku sambil mengusap dada.
Namun tak lama, wanita tomboy itu turun. Kembali jantung ini berdegub agak kencang. Perjalananku masih jauh, ditambah mobil yang kutumpangi ini pakai acara ngetem. Jam ditangan menunjukkan 11.10 pm. Ya ampun sudah malam sekali, pikirku. Baru kali ini aku pulang kerja hingga larut begini. Orang di rumah pasti mengkhawatirkanku. Hp ku benar-benar menjadi sampah sekarang. Tidak bisa dipakai! Tapi ada untungnya juga, mungkin kalau hidup, si sampah ini pasti berdering terus, dan itu kemungkinannya mengundang orang berbuat jahat, apalagi sekarang sudah larut begini, pikirku.
Tiba dipertigaan menuju Meruya aku turun. Lagi-lagi angkot yang kucari agak lama juga datangnya. Karena sudah tidak sabar lagi ingin cepat menuju rumah, angkot nomor berapapun aku naiki. Kali ini aku benar-benar seorang wanita didalamnya. Semuanya pria, kalau tidak salah ada 5 orang. Dipojokkan ada yang sedang tertidur, keliatannya seperti habis minum-minum. Kepalanya keliatan goyang-goyang, seperti orang berzikir. Tapi sepertinya ngga mungkin dia berzikir, masa dengan celana sobek-sobek begitu, pikirku. Ah biarin aja, emang aku pikirin tapi lama-kelamaan jadi kepikiran juga. Hihh…
Tidak lama plang Lurah Meruya terlihat. Segera aku turun! Karena angkot yang aku naiki bukan 03, maka nya aku turun di pertigaan menuju kelurahan meruya. Biasanya mobil yang aku naiki belok kearah sana, tapi mobil yang ini lurus menuju joglo.
Pukul 11.37 pm aku tiba dirumah. Alhamdulillah…ucapku sambil mengusap dada kembali. Pelan-pelan aku membuka pintu agar orang rumah tidak terbangun, tapi tetap saja mereka tau. Om membukakan aku pintu, dia bertanya mengapa aku tidak bisa dihubungin. Maap om, Lowbat, jawabku. Segera aku ganti baju, dan mencuci muka sekalian mengambil wudu untuk solat Isya. Dalam sholat aku bersyukur pada-Nya, akhirnya aku tiba dengan selamat. Karena sudah capek sekali, aku langsung merebahkan tubuh ini. Tidak sempat lagi makan. Ah besok saja sekalian saarapan, pikirku. Sambil memejamkan mata aku memikirkan hari esok, pasti akan seperti ini lagi, pikirku. Berangkat pagi pulang larut malam. Huh…capek, padahal di Lampung juga sering pulang larut malam, bahkan subuh tapi aku tidak pernah takut seperti ini mungkin karena disana “ojek”ku banyak hehehe...:p.

Monday, May 21, 2007

MIss U All

Malam-malam gini gue masih stand by di ruangan yang bikin gue pusing ini. Seharian gue duduk didepan komputer, entah berapa kali gue udah browsing-browsing situs lowongan pekerjaan dan beasiswa. Tapi ngga ada yang nyantol. Trus udah banyak banget blog-blog temen-temen yang gue buka-bukain trus gue baca-bacain. Setiap gue baca blog kalian, setiap itu juga gue cekikikan sendiri. Ternyata kalau dipikir-pikir kita itu kayak anak kecil ya, ngga inget ama umur. Jadi malu...

SUMPEH, gue kangen banget ama kalian. Kapan ya bisa ketemu trus kumpul-kumpul lagi. Rencana kita ketemu lagi tahun 2010 itu kesampean ngga ya? Mudah-mudahan sih begitu.
Gue kangen pengen ngobrol ampe pagi, tengah malem nyari makanan. Kalian nyari nasi uduk, gue nyari ketoprak, secara gue ngga begitu doyan yang namanya uduk. Gue juga kangen pengen gonjrang-ganjreng, jadi biduan tengah malam. Walaupun rada-rada fals, tapi lumayan buat nyamuk-nyamuk pada nyingkir.
Walaupun sekarang gue sering pulang malem, tapi gue ngga pernah ampe subuh kayak dulu. Trus sendiri! Kasian ya gue...
Gimana kabarnya kalian ya? Udah pada mikir lulus kuliah ngga ya? Ato masih kayak dulu? ya..pokoknya mudah-mudahan kita bisa berjumpa lagi. Miss U All friends

Saturday, May 19, 2007

GAPTEKMA

Masih cerita kerumah nenek. Teman ku Oke emang doyan makan, padahal kita semua baru saja makan berat kira-kira dua jam yang lalu. Tapi katanya perut dia sudah keroncongan lagi.
Huh…dasarnya perut karet
Untung sebelum kerumah nenek, aku tadi mampir dulu ke Alfa Mart untuk beli oleh-oleh, didalamnya ada mie instant.
“Eh, masak mie yuk? Kayaknya enak deh makan mie dingin-dingin begini” ajak Oke pada kita.
“Ah lu mah ngga dingin aja enak makan apalagi dingin-dingin begini. Dasar..” seru Hardi.
“Nggak tahu nih, perut gue laper lagi”
“Maka nya jangan pelihara cacing!”
Walaupun ngomel, tapi tetap saja kita semua pergi ke dapur juga.

Di rumah nenek tidak ada kompor gas, jangankan kompor gas, kompor minyak saja tidak ada. Mereka lebih senang dengan tungku, orang disini menganggap tungku lebih murah, praktis, hemat BBM dan tentunya lebih mengenal dengan istilah “Asalkan dapur tetap mengepul” ya iyalah karena masak apa saja pasti keluar asap. bukan hanya asap, efeknya juga memberikan kesan pada langit-langit dapur, hitam kelam.
Dari kami berlima, sudah kewajiban para laki-laki untuk membuat api.
Tapi emang dasar gagap teknologi lama (GAPTEKMA), hamper satu setengah jam api nggak nyala-nyala juga. padahal udah segala cara, sampai-sampai muka si Bawuk jadi tambah bawuk kena asap tungku.
Nenek ku sudah menawarkan jasanya untuk membuatkan api, tapi dasar lagi-lagi sok tau dan sok pinter, bantuan nenek kita tolak.
“Wios mak, ulah-ulah. Emak istirahat wae, abdi ge tiasa”
Setelah hampir dua jam akhirnya api itu nyala juga. Padahal Cuma satu orang yang mau masak mie, tapi yang repot sampai lima orang.
Sebenarnya bukan repot, bahasa halusnya mungkin lebih pada gagap teknologi lama. Tungku kan termasuk teknologi juga, Cuma karena teknologi itu sudah ada penggantinya jadi kita semua melupakannya.
Maka nya kalau sudah ada yang baru, jangan lupakan yang lama.
Karena kita hidup juga kan tidak terlepas oleh jaman sebelumnya. betul?

Bad Guide...


“Khe pokoknya lu siap-siap. Kita dari sini berangkat pagi banget, lu tunggu dimana?”
“Di Kebon Jeruk aja. Okeh, gue tunggu tapi jangan kelamaan ya ntar gue bisa bego”.
Kira-kira begitu percakapan ku dengan Oke via SMS. Memang sampah teknologi ini, begitu kawanku Iduy menyebutnya, memberikan manfaat juga walaupun kadang-kadang sering menjengkelkan kalo sedang dibutuhkan tiba-tiba tidak ada sinyal atau lowbat atau loadingnya lemot.
Esoknya, pagi buta aku bangun. Orang dirumah masih tertidur, aku sudah buru-buru mandi. Orang rumah bangun tidur, aku sudah sarapan. Hari ini aku sudah prepare semua perlengkapan yang dibutuhkan. Mulai dari baju dalam dan baju luar, sikat gigi, handuk kecil, perlengkapan cantik hingga charger si sampah.
Hari ini aku ke Subang, atau tepatnya kami berlima, Aku, Oke, Ina, Eko dan Hardi pergi ke Subang, mendatangi Meli, teman kami yang kamis lalu menikah, sekalian maen kerumah nenek. Sudah dua tahun aku tidak pulang, gimana kabarnya embah disana ya?


Satu jam berlalu…
Dua jam berlalu…
Tiga jam berlalu…
Hingga akhirnya jam setengah sebelas sampah teknologiku berbunyi.
“Khe kita dah nyampe tol Cikupa, lu siap-siap ya. Berangkat dari sekarang!”
“Hah baru nyampe CIKUPA? Gue pikir kalian udah nyampe bali. Gue udah siap dari tadi subuh tauk!”
“Sorry khe, si Bawuk nya baru bangun”
“Ya udah lah ntar aja ngomonginnya, gue berangkat sekarang”
Sampai di Kebon Jeruk mereka sudah menunggu, sengaja kubiarkan begitu biar tau gimana rasanya menunggu. Didalam mobil, kepala si Bawuk (panggilan sayang kita ke Eko) aku jitak-jitak.
“Gila ya kalian!jam segini baru berangkat. Bokap gue dah neleponin terus nih dari pagi. Bilangin jangan sore2 berangkat ke kerumah nenek gue nya, ya lu tahu sendiri kan nenek gue rumahnya di atas gunung”
“Tau tuh, marahin aja si Bawuk!gue juga udah ready dari jam 5” seru Oke
“Kalo gak bisa bilangdong, biar kita ngga nunggu jadi bego begini”
“Tau tuh, emang neyebelin,” tambah Ina.
“Iya-iya gue yang salah. Ntar gue yang bayar tol nya deh” jawab Eko
“Hah. Emang itu mah kewajiban lu kale!” seru kita bertiga bersamaan.
Kita berlima memang sering begini, jalan-jalan hanya bermodalkan NEKAD. “Yang penting seneng”, begitu slogan kami. Dulu mana pernah kita jalan naek mobil pribadi, yang ada pasti nge-BM (berentiin mobil). Berdebu tapi seneng…
Selanjutnya perjalanan menuju Bandung, jemput Hardi. Untungnya Hardi, sedikit beda dengan si Bawuk. Ngga peka nunggu lama walaupun kita semua gak tahu Hardi udah mandi apa belum. Kalo dilihat dari rambut panjangnya yang kucel itu, sepertinya dia belum mandi.
Kira-kira pukul setengah empat kita sampai di Subang, pertama kita ke rumah Meli. Dia keliatan beda. Mungkin karena sudah menikah ya. Wajahnya cerah sekali!
“Mel kok beda siy? Gimana rasanya married? Enak ngga?” Tanya kita-kita, padahal pertanyaan itu sudah diajukan Eko pertama kali bersalaman dengan Meli, tapi semuanya ikut bertanya lagi. Habis Meli ngga menjawab dengan kata-kata, dia Cuma senyum-senyum (maksudnya apa?)
“Mel kumaha? Ngenah teu?” Tanya Hardi, setelah sekian kalinya.
“Wuih dari tadi nanya terus. Ngenah-ngenah….geus geraan mangkana pada kawin!” jawab Meli, lagi-lagi sambil senyum-senyum. Suaminya, Jarum, sedang mandi jadi Meli habis kita intrograsi.
“trus Mel,…”
Tuutttt…..obrolan selanjutnya di sensor…
Selanjutnya makan-makan. Ini adalah bagian kebersamaan kita yang ngga pernah terlewatkan. MAKAN-MAKAN
Kita berenam memang doyan makan, tapi ada satu yang dikasih makan tapi tetap kurus, ya dia Ina. Dia susah banget kalo disuruh makan, tapi jatah dia pasti kita ambil jadi tetap ngga ada yang namanya SISA.
Makan ditengah-tengah kolam ikan memang asik. Sehabis makan ngga perlu buang sampah, sisa makanan baik tulang maupun daun-daunan cukup tinggal buang saja kekolam nanti juga dimakan ikan.
Lepas magrib kita berangkat menuju rumah nenek di Desa Arjasari. Sebelumnya kita mampir terlebih dahulu ke Alfa Mart, membeli makanan ringan sekedar oleh-oleh untuk nenek.
***

“Khe yakin nih jalannya?”
“Bener kok, bentar lagi kita pasti ketemu portal. Nah, udah gitu kita belok kiri. Tuh kan itu jembatannya, dulu gue pernah berenti disini nih”.
“Ah lu mah dari tadi ngomongin portal terus. Tapi kok sepi sih khe? Tempat nenek lu dah ada listriknya belum sih?”
“Heh, MAKSUD LU? Ya ada lah, internet aja connecting kok. Kalo disini emang sepi, namanya aja orang gunung. Abis magrib aja mereka pada selimutan. Udah ikutin aja jalan ini!”
Perjalanan semakin jauh, awalnya jalan didepan memang lebar terbuka namun lama-kelamaan jalan semakin menyempit. Perasaan kita berlima jadi nggak enak. Ketika menemukan rumah, kita semua seperti ketemu emas.
Hore….ada cahaya. Dasar gila, pikirku.
“Duh khe mending lu nanya deh, jalannya buntu nih, dan nggak mungkin bakalan nemu portal.
“Ho oh, kayaknya gue ngga pernah lewat sini deh. Buktinya portalnya nggak ketemu-ketemu. Duh jadi serem deh”.
“Udah buruan turun! Dari tadi ni anak ngomonginnya portal terus. Tuh ada warung Tanya gih ma si Eko!”
“Iya…iya..”
Aku dan Eko pun turun dan menghampiri warung yang nggak jauh dari mobil tempat kita berhenti.
“Pak punten. Upami bade ka desa Arjasari jalannya palih mana nya?” tanyaku.
“Arjasari? Anu caket Sangkali? Atuh eta mah kudu ka luar jalan heula neng. Engke jalan luruss..wae munggi ka Ciasem, eneng ka kulon. Teras wae neng ka luhur,” jawab bapak itu, sayang aku tidak sempat berkenalan.
“Oh muhun pak, Sangkali. Engke mun ti Ciasem bade ka Arjasari sampe mendakan portal nya pa?”
“Oh enya-enya neng, muhun. Langsung wae ka wetan aya portal engke teras ka luhur”>
“Eh, lu tuh dari tadi portal terus,” bisik Eko padaku.
“Kan gue bilang, patokannya tuh portal tauk!” jawabku sambil berbisik.
“Sawios pa ari kitu mah. Haturnuhun pisan,” kata ku dan Eko sambil pamit.
Mobil pun kita putar balik. Jam ditangan masih menunjukkan pukul delapan, tapi keadaan disekeliling seperti sudah jam dua belas malam. Gelap banget, Cuma suara angin saja yang terdengar. Yang tadinya aku, Ina dan Oke tidur-tiduran kini jadi duduk tegak. Kita berdempet-dempetan.
Sudah empat orang kita tanya, namun jawabannya sama dan kita tetap belum menemukan jalan benarnya. Mungkin mereka tidak berbohonga, hanya saja kita sendiri yang sok pinter, ngga tahu arti kulon, wetan, kidul tapi nggak pernah nanya.
“Gue nggak ngerti kidul itu sebelah mana sih. Boro-bor kidul, wetan aja gue nggak tau. Mereka pikir kita ini bawa kompas kali ya,” kata Eko.
“Eh lagian kalo lu bawa kompas, lu tahu artinya wetan itu apa?”
“Nggak!”
“Ya kita juga salah nggak nanya wetan, kidul ama kulon itu apa artinya,” kata Ina.
“Udah-udah nggak sah ribut, mendingan kita ikutin aja jalan ini, sapa tahu ini jalan ke Ciasem. Seinget gue, dari Ciasem kita belok kiri terus jalan terus ampe nemu portal,” jawabku.
“Ya ampun ni anak doyan banget ngomong portal ya”.
Mobil terus berjalan, dan akhirnya jalan menuju Ciasem ketemu juga. Kita pun belok kiri langsung dan perjalanan kembali masih jauh.
“Jangan kebut-kebut Ko, nggak lama lagi ada portal kita belok kiri”
Belum sempet mereka jawab, portal yang ku maksud ketemu juga.
“Tuh kana pa gue bilang, disini tuh ada portal. Percaya kan sekarang? Nah sekarang kita jalan terus ampe ketemu desa. Rumah nenek gue nggak jauh dari rumah pertama”
“Ya..ya…ya…” seru mereka berbarengan.
Lagi-lagi desanya nggak ketemu juga.
“Khe mana nih? Gila ya kampong lu, gue heran bokap lu bisa kenal ama nyokap lu gimana caranya ya? Kok bisa gitu loh”
“Yah…sama aja ama kayak kita gini. Awalnya nyasar juga kale”
Hahahaha….
Nggak berapa lama, kampong nenek akhirnya ketemu juga. Sepi banget…ya maklum lah jam sudah menunjukkan pukul 9 malam.
Sesampainya tiba di depan rumah aku langsung turun, parahnya lagi nenek nggak mengenali ku.
“Saha iyeu na?”
“Emak iyeu Rieke. Sareng rerencangan ti serang”
Oooo…..
Habis badanku dipeluk-peluknya. Rerencangan ku pun begitu, eh maksudnya teman-temanku pun begitu. Habis dipeluk-peluknya.
Huh…akhirnya sampai juga kerumah nenek.
Maklum sudah dua tahun aku tidak pulang kampung, dan sebelum-sebelumnya aku tidak pernah pulang malam-malam begini. Kita ini emang selalu modal nekad.
Kejadian ini sudah dua kali aku alamai, jadi guide yang tidak baik. Setelah sebelumnya aku juga pernah mengajak ketiga temanku, dan lagi-lagi nyasar hehehe…
Peace guy..

Friday, May 18, 2007

Untung ada si Untung

Belum sampai 200 meter perjalanan lewat dari tol pondok gede, kira-kira 100 meter didepan mobil kami, kijang coklat mengeluarkan debu dan asap dari ban belakangnya.
“Eh ko apa tuh?”
“Wah kayaknya bakal jatoh deh jatoh…yah tu tu tu…kan dia guling-guling. Ya..ya…ya dia jatoh deh”
“Set serem banget, duh meledak gak tuh? Minggir-minggir ko, kita liat dulu sebentar. Tu orang didalem pada selamet gak ya?”
Sebenarnya kejadian itu mengerikan, hanya saja kita melihatnya seperti melihat adegan kecelakaan di televisi.
Benar-benar seperti melihat adegan di tivi-tivi, mobil sedang berlari kencang lalu tiba-tiba ban mobil belakang meletus. Putar-putar….kemudian terjungkil terbalik.

Dari mobil keluar asap hitam, untungnya tidak sampai meledak. Kalo meledak mungkin kita yang dibelakangnya bakal kena imbas. Kaca depan mobil pecah total, orang-orang didalamnya keluar lewat kaca itu.
Untungnya lagi, empat orang yang berada didalam mobil itu selamat semua. Ternyata dua diantaranya adalah warga Negara asing. Jalannya terpapah-papah dan untungnya lagi juga mereka tidak ada yang terkena luka berat.
Untung mobil kita tidak sedang ngebut, kalo ngebut pasti udah buntung.
Trus saat itu dijalanan mobil lumayan sepi ngga seperti biasanya yang rame banget. Kalo rame mungkin kecelakaan itu juga berimbas ke kendaraan lainnya. Ya…lagi-lagi untung.

Tuesday, May 15, 2007

Cuma iseng

Malem-malem begini aku masih didepan komputer. Hanya ada empat pria yang juga asik didepan komputer. Ssemenjak siang lagu dalam winamp selalu itu-itu saja. Maklum pemilik dari komputer itu sedang jatuh cinta, jadi Dewi nya Dewa terus mengalun. Entah apa enaknya lagu itu, kata si pemilik komputer pacar barunya bernama Dewi jadi bila ia mendengar lagu itu mengingatkannya pada si doi.

Dari siang aku duduk depan komputer. Tulisanku tidak selesai-selesai, jadi bingung mau nulis apa. Bahan belanjaanku sudah banyak, tapi aku tidak tahu mau masak apa. Jadi sejak siang kerjaanku hanya memilih-milih bahan belanjaan.
Besok aku deadline,jadi aku harus kejar malam ini. Kalau tidak aku bisa kena marah ama si bos. Belum lagi tulisanku yang lainnya, duh...serasa mau pecah saja kepala ini. Maklum bekerja sebagai kuli memang begini resikonya. Demi sesuap nasi, sepotong baju, sepasang sepatu, dan se-voucher pulsa aku rela pulang hingga berlarut-larut malam begini.

Suasana seperit ini memang sudah terbiasa bagiku. Bahkan belakang memang aku rindukan. Seperti di Teknokra!Malam-malam ngedit tulisan karena minggu ini deadline. Sambil ditemani dengan pria-pria yang bertelanjang dada karena kegerahan dan mendengarkan teriakan lagu khas para layouter.
Ya, sudah lama Aku rindu suasana seperti itu. Menginap di Teknokra dengan ditemani nyamuk-nyamuk yang kebal lotion anti nyamuk.
Disini beda. Tidak ada nyamuk! mungkin ia kedinginan masuk ruangan ini. Jangankan nyamuk aku saja kedinginan dengan ruangan ini.

Tuh kan bener, jadi ngawur. Sebenernya sekarang ini bingung mau nulis apa. Iseng, karena ni malem dah buat aku stres berat. Pagi-pagi udah ngejar orang penting setara presiden, trus buat translate, lalu ke bank trus buat tulisan yang ngga selesai-selesai belum lagi kena omel si bos. huh capek deh...

Thursday, April 05, 2007

Reuni

“Ini Mba Elva, sekarang di Bisnis Indonesia”.
“Oooooo itu…..”
“Yang itu bang Hersebenu Arif, sekarang di ANTV jadi orang penting”.
“Ooooo itu…”
“Lalu yang itu bang Harto, beliau ketua cabang Bank Syariah Mandiri Lampung”.
“Ooooo itu…”
Bla…bla…
Cek..cek..cekk…aku berdecak kagum pada senior-seniorku yang berdiri diatas panggung.
Kebanyakan dari kami yang masih junior alumni, hanya bisa ber “Oooo itu…”, maklum kita sering mendengar nama-nama mereka namun baru malam itu melihat dan bertatapan serta berkenalan langsung dengan mereka.
Ya, sabtu lalu atau tepatnya 31 Maret 2007 adik-adikku tercinta di Tenokra mengadakan Reuni Akbar, dengan mendatangkan para senior Teknokra. Mulai dari tahun 1976 hingga 2002. Awalnya aku berpikir acaranya akan BT, karena pasti alumni yang dating hanya segelintir. Tapi malam itu, alumni-alumni yang hanya bisa aku tahu lewat milist teknokra, banyak yang hadir.

Mendengar senior-senior ku yang sudah pada sukses, ada yang di politik, ekonomi, media, pemerintahan dan lainnya membuatku bertambah bangga dengan Teknokra. Namun Sabtu lalu, membuatku agak malu juga dengan Teknokra yang telah “membesarkan” diriku. Sudah salah dress code, aku juga belum mampu memberikan “apa-apa” pada Teknokra. Maklum, baru jadi pengangguran.
Tapi aku sangat bangga dengan adik-adikku, yang bisa mempertemukan kami semua dari berbagai decade, mulai dari angkatan tua hingga muda Applause untuk TEKNOKRA!!
Mudah-mudahan beberapa tahun kedepan, saat kalian mengadakan Reunian Akbar kembali, aku bisa hadir ditengah-tengah kalian dan sukses seperti senior-senor ku saat ini (amin).
LUV U TEKNOKRA

Sunday, April 01, 2007

Gunung Pulo Sari


PS

“Gila kabutnya turun lagi nih, cepetan yuk!” ajakku.
“Ka, keluarin senternya dong!” pintaku pada Ka’Andi.
“Senter ngga bawa. Lilin aja ngga bawa,” jawabnya.
“Terus lighting kita gimana dunk? Agak tebel nih kabutnya. Trus nesting bawa ngga?”
“Ngga bawa. Kompor aja ngga bawa. Kan tadinya kita mau ke Badui, jadi ngga bawa-bawa yang kayak gituan”.
“Hah! Jadi ngga bawa apa-apa nih. Jangan bilang kalo kita ngga bawa tenda ya, kita mau tidur dimane bro?” seru ku. Mendengar preparation untuk hiking kurang, aku agak-agak risih juga.

“Udah ngga usah ribut, didepan ada gubuk tuh, sapa tau ada orang nya. Sekarang jam berapa khe?” Tanya Iduy.
“Lima lewat lima belas,” jawabku “Dah cepetan yuk!” padahal diantara mereka aku yang paling lambat jalannya.
“Kayaknya dulu ngga lewat-lewat kayak ginian deh. Yakin ini pasti kesasar,” celetukku.
“Shutt! Ngga boleh ngomong gitu,” seru Ka’Andi.
“Eh Astagfirullahhalaizim”.
“Wooiiiiiii………….,” Teriak Dede
Jangankan ada yang membalas sahutan, gema suara sendiri saja ngga kedengaran karena kabut sore itu memang tebal sekali.

***
Dua minggu yang lalu, atau tepatnya 18 Maret 2007, ketiga bro-bro ku datang ke Serang. Mereka adalah Iduy, Dede dan Ka’Andi. Awalnya mereka berniat untuk naik ke Gunung Karang (Pandeglang), tapi aku sarankan ke mereka untuk ke Badui. Karena menurut kawanku yang sudah pernah kesana, di Gunung Karang tidak ada apa-apa.
“Katanya sih disana Cuma ada tujuh sumur gitu aja. Dah gitu kecil-kecil lagi sumurnya. Tapi kita juga ngga bisa ke Badui, kata kawan ijin kesana ribet, ngga bias cepet. Dah kita ke PS aja yuk!” ajakku.
“Hah! Kita maen playstation khe?” Tanya Dede
“Ya bukan lah, dasar O’on,” jawabku sembari menjitak kepala Dede.
“Dimana tuh?” Tanya Iduy
“Di Pari, kesononya Mengger. Masih Pandeglang juga kok,” jawabku.
“Lo dah pernah khe?” Tanya Dede
“Udah pernah sih, tapi lama banget. Kalo dari curug ke kawahnya gue apal, tapi kalo dari kaki ke curugnya gue lupa”.
“Tapi jalan dari sini kesana tau kan?” Tanya Ka’Andi.
“Ya iyalah, secara gue orang sini gitu loh, hehehe…”.
Dengan menjabat sebagai Guide, aku ajak mereka bertiga ke Gunung Pulo Sari yang terletak di Desa Cileuntung Kecamatan Pari Kelurahan Mengger Kabupaten Pandeglang. (kayaknya sih urutannya gitu ;p)
Setelah jalan kaki cukup jauh dari Pari, akhirnya kita sampai di Desa Cileuntung pukul setengah tiga sore. Beristirahat sejenak di warung Emak. Disebut dekimian karena setiap pendaki yang mau ke PS pasti mampir diwarung ini, walaupun Cuma untuk nyelonjorin kaki doang. Tadinya kita ngegunain bahasa sunda biar terdengar akrab dengan Emak, tapi kayaknya Emak tau kalo kita “sunda gadungan” jadi setiap pertanyaan kita dijawabnya dengan bahasa Indonesia.
“Emak mah anaknya banyak neng. Kalo pada mau keatas (gunung PS) pasti mampir kesini dulu. Ada yang udah lama ngga kesini juga pasti inget,” kata si emak.
Tubuhnya kecil mungil, dari suaranya dan cara ia berbicara, kelihatan kalo Emak orangnya ramah dengan siapa saja.
Warungnya juga terbilang kecil, satu ruangan dibagi tiga sekat, satu ruangan untuk para pendaki istirahat, disediakan juga alat solat didalamnya. Satu ruang yang lainnya adalah dapur dan ruang lainnya yang agak besar tempat ia menyimpan jajanannya.
Emak memang kelihatan banyak “anak”nya, beberapa bendera Pencinta Alam terpampang di dinding warung Emak. Kata Emak itu semua pemberian “anak-anak” nya. “Banyak anak kan banyak rejeki,” katanya sambil mengupas pisang untuk dijadikan molen.
“Kalo mau minum mah ambil-ambil aja, ngga usah malu-malu,” seru Emak.

Diwarung Emak sudah ada beberapa pendaki yang beristirahat. Ada yang baru akan naik sama seperti kita berempat, ada juga yang baru turun dari “atas”.
Setelah kita cukup beristirahat, lepas Ashar kira-kira setengah empat kita mulai jalan menuju kaki Gunung PS. Dari jauh terlihat kabut tebal menyelimuti sebagian Gunung PS.
Sawah yang melintang dikanan-kiri jalan membuat kita berhenti untuk foto-foto terlebih dahulu.
“Duy, backgroundnya mesti keliatan. Pake timer aja biar lo juga bias masuk,” seru Dede sambil menunjuk Gunung PS.
“Sip!” bales Iduy.
1..2..3…click cheerrr



“Curug Putri, Kawah, Puncak Pulo Sari”. Begitu kata-kata yang tertulis pada papan yang berdiri sebelah kiri jalan. Mengarahkan kita untuk belok kekiri. Itu berarti kita telah sampai di kaki gunung. Dari kata-kata itu berarti untuk mencapai camp di kawah, kita semua harus melewati curug terlebih dahulu. Setelah sampai di kawah, baru kita bisa melanjutkan perjalanan menuju puncak gunung.
Ternyata setelah mulai mendaki, banyak cabang jalan menuju Curug Putri, ada yang agak kekiri dan satu lagi kekanan. Tanpa memperdulikan jalan yang kekiri, kita semua langsung berjalan kearah kanan, menuju persawahan penduduk. Sawah yang dibuat terasering, laut yang membentang serta Gunung Asepan yang etrletak disamping Gunung PS membuat kita semua terlena, dan membiarkan kaki ini berjalan menuju kearah sana.
“Yakin khe lewat sini?”
“Kayaknya sih gitu. Perasaan dulu pernah kesini deh,” jawabku.
Namun setelah berjalan lebih dari satu jam, suara air curug semakin tidak terdengar. Lereng gunung pun semakin tajam. Batas perkebunan petani sudah terlewati dan jarak pandang mata hanya beberapa meter, akibat kabut yang tebal.

***
“Kayaknya ngga lewat-lewat ginian deh,” seruku.
“Gue pikir kita udah ampe puncak. Cuma bedanya ngga lewat curug,” ungkap Iduy.
“Ngga mungkin! Kalo mau kepuncak kita mesti lewatin kawah dulu,” jawabku sambil mengeluh. Rasanya kaki ini sudah tidak mau diajak untuk berjalan lagi. Tapi kalo dilihat dari lerengnya, rasa-rasanya kita memang berada dipunggung puncak.
“Udah kita potong kompas aja!” celetuk Dede.
Tanpa ada yang menjawab, ia berjalan kekiri. Mengganti arah berjalan kita yang awalnya kekanan.
Sampai tak berapa lama kemudian, gubuk petani terlihat. Tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan didalamnya. Jam ditangan sudah menunjukkan lima lewat tiga puluh. Itu berarti tiga puluh menit lagi waktu Magrib akan tiba dan itu berarti juga gelap akan meneyertai perjalanan kita.
“Gini aja deh. Mending malam ini kita minep digubuk ini dulu. Secara lighting kita juga ngga ada, udah gitu kabut makin tebal. Besok kalo cuaca baik kita terusin lagi perjalanan. Pokoknya patokannya curug kan khe?” saran Iduy. Belum sempat ku jawab, Ka’Andi sudah membalasnya.
“Udah kita lanjutin perjalanan aja. Lumayan masih agak keliatan. Ntar kalo emang ngga ketemu jalan, kita balik lagi kesini,” jawab Ka’Andi.
“Ya udah kalo gitu gue browsing dulu ama Dede. Lo ma Rieke jalan pelan-pelan aja. Ntar kalo gue dapet jalan, balik lagi,” ujar Iduy.
“Tapi lo mesti teriak-teriak duy. Ntar yang ada malah kita pisah lagi,” jawabku agak risih juga mendengar ide Iduy.
“Shutt ngga boleh ngomong gitu,” seru Ka’ Andi.
Akhirnya kita semua berjalan lagi. Iduy serta Dede berjalan paling depan. Karena jalan menuju arah kekiri agak menurun, jadi perjalanan kita pun sedikit lebih cepat. Iduy sudah berlari didepan dan Dede membuntutinya. Sedang aku dan Ka’Andi berjalan cukup santai, sambil berteriak-teriak.
“Woiiiii….De, Duy…,” teriakku
“Wooiiii…juga…,” sahut mereka.
Kira-kira duapuluh menit perjalanan, suara curug mulai terdengar. Itu berarti perjalanan kita mengarah kesana. Dan tak lama terdengar suara orang berbicang-bincang.
“Ka denger suara orang ngga?”
“Iya. Kayaknya dibawah udah curug deh”.
Woiii…De, Duy…
Tak berapa lama aku dan Ka’Andi sudah sampai ditempat Dede dan Iduy berdiri. Ternyata mereka berdua sedang berbicara dengan seorang bapak tua dan seorang bocah laki-laki.
“Muhun bah, kita semua teh kasasar. Tadina bade ka curug, tapi malah nyasab kadiye,” ujar Iduy yang kembali menjadi “Sunda gadungan”.
Bapak yang dipanggil abah ini tubuhnya kurus, dari perawakannya ia berumur berkisar 70an. Beruntung kita semua bertemu dengan dia, walaupun awalnya Iduy dan Dede sempat agak ketakutan juga, karena pakaian abah yang mirip jawara dengan muka yang tertutup syal layaknya ninja.
Kemudian kita semua mengikuti ia berjalan, beberapa menit kemudian kita sampai digubuk abah. Disana telah ada beberapa pendaki yang memang sudah turun dari kawah. Kita pun berkenalan, dan mereka sedikit kaget mendengar kita semua berasal dari Lampung. Karena rata-rata dari mereka semua berasal dari daerah Pandeglang.
“Oh harusnya kalian jangan kakanan lewat sawah, tapi agak kekiri. Padahal dari kaki kecurug tuh ngga lama lho,” seru pria yang terakhir kita kenal bernama ompong.
“Trus kalian masih mau ke kawah? Kalo kita baru aja turun, habis disana dingin banget. Kabutnya juga tebel pisan”.

Abah pun menyarankan agar kita beristirahat digubuknya saja. Namun setelah berunding kita sepakat untuk meneruskan perjalanan hingga ke kawah.
“Nanggung bah udah nyampe sini,” Seru Iduy.
Karena kita semua tidak membawa senter, abah pun menyarankan kepada anaknya beserta dua orang dari mereka untuk mengantar kami hingga ke kawah.
Baju dibandan sudah basah semua , belum lagi ditambah gerimis yang sejak magrib tadi belum juga usai, membuat tubuh ini basah kuyup. Dengan disertai dua buah senter dan satu buah korek, kami berjalan beriringan menuju curug baru setelah itu naik kembali menuju kawah yang derajat kemiringannya hingga 60 derajat.
“Ambil kanan…ambil kanan…kiri jurang!” seru Ompong memberi komando.
Kami semua pun berjalan menghindari kiri, karena bila selip sedikit saja kita semua jatuh ke jurang.
“Tahan Pong, istirahat dulu,” seru seseorang dibelakangku.
Setelah menempuh perjalanan kira-kira satu setengah jam kami sampai di kawah. Tenda yang berdiri dipaling depan menyambut kedatangan kami. Mereka adalah pendaki dari Pandenglang yang sempat berpapasan dengan kami di warung Emak tadi sore.
Kami tidak dapat melihat dengan jelas ada berapa tenda yang beridir di kawah hari itu. Setelah mencari lahan yang cukup datar, kami pun mendirikan tenda dibelakang tenda orang yang akhirnya kita kenal adalah para pendaki dari Tangerang.
Gerimis sudah mulai reda namun kabut tetap masih tebal. Baju yang basah kuyup membuat tubuh ini menggigil kedinginan, bahkan Iduy mengaku kalau telapak tangannya sudah mati rasa. Namun tak berapa lama tenda pun berdiri dan kami bersama pendaki dari Tangerang membuat api unggun, sambil menyeruput kopi panas.

***
Keesokkan pagi baru keliatan jelas kalau hari itu ada banyak tenda yang berdiri. Bahkan kabarnya ada dua tenda yang nge-camp di puncak sejak hari kemarin. Karena kami tidak membawa kompor dan nesting, maka kami memasak mie dengan menyeburkannya ke air belerang yang mendidih. Orang sekitar biasa menyebutnya “memancing” ala PS. Tidak perlu kompor, tidak perlu nesting apalagi minyak tanah. Cukup mie diremuk-remuk lalu diberi air dan diikat dengan seuntai tali kemudian kita celup-celupkan di air belerang yang mendidih, mie rebus ala PS sudah siap saji. Tidak membutuhkan waktu yang cukup lama pula, hanya beberapa menit saja kita sudah bisa menyantapnya.
“De, foto dunk gue lagi mancing! Keliatan mie nya ya. Aneh juga masak mie pake cara begini, hee..,” ujar Iduy.
Clikk…jeprett

Satu roll film telah kita habiskan untuk foto-foto dikawah. “Tenang, masih ada satu roll lagi,” ujar Iduy.
Sekitar pukul sepuluhan kita beres-beres. Tendapun kita rubuhkan dan mulai membakar sampah-sampah bekas tadi malam. Pendaki asal Tangerang sudah “turun” dari pukul sembilan pagi tadi. Ada beberapa tenda yang masih berdiri namun sebagian besar mereka juga “turun” hari ini. Selain berkenalan dengan pendaki Tangerang, kami pun berkenalan dengan Tari, wanita perantau yang ternyata memiliki kampung di Lampung juga, atau tepatnya didaerah Talang Padang Tanggamus.

Ternyata perjalanan pulang menuju curug tidak memakan waktu lama. Mungkin karena tadi malam kita semua kecapean karena tersesat, jadi perjalanan curug-kawah seolah-olah lama sekali. Sesampainya di Curug ada banyak pendaki yang sedang mandi. Kita pun berhenti untuk berfoto dan main air. Disana kembali kita bertemu dengan Tari. Ujungnya ia pun ikut pulang menuju kaki gunung bersama-sama kami.

Sesampai di warung Emak, kita beristirahat cukup lama. Seperti biasa “anak-anak” Emak sedang duduk didepan warung.

“Makan dulu yuk?” ajak Ka’Andi pada kami. Kecuali aku, mereka semua makan siang dengan mie buatan Emak.

Baru sekitar pukul dua siang kita bersiap-siap untuk pulang ke Serang, dan ijin pulang pada Emak.

“Ati-ati di jalan. Kalau kesini lagi mampir ke Emak ya,” ujarnya sambil menepuk-nepuk pundak kami. Kami pun masuk kedalam mobil angkot menuju Padeglang baru setelah itu dilanjutkan ke Serang.

Kurang lebih satu setengah jam perjalanan menuju Serang. Cukup lumayan untuk memejamkan mata di dalam mobil.

Huhh..perjalanan yang lelah, namun sangat menyenangkan. Sayang, tidak seluruh foto kami yang tercetak dengan bagus, tapi kenangan itu pasti akan selalu ada.

Mudah-mudahan kita bisa bersama lagi...


fotografi oleh : deemonz

Tuesday, March 27, 2007

Ndeso

Sudah beberapa hari ini kita di "jejelin" ama berita masuknya Laptop ke gedung MPR/DPR. ampe-ampe di infoteiment aja sering ditampilin berita "masuk nya laptop" ini.(yaiyalah secara banyak juga gitu loh artis yang jadi anggota) jadi wajar kalo masuk tayangan hot gosip.
beberapa hari lalu juga saya mendapat email dari seorang senior di Teknokra, yang isinya kurang lebih seperti ini:
HUMOR ANGGOTA DPR DAN LAPTOP
Anggota DPR : "Mba, laptopnya salah."
CS : "Salah gimana pak?"
Anggota DPR : "Laptopnya nggak mau hidup."
CS : "Sudah tekan tombol power pak?"
Anggota DPR : "Tombol powernya sebelah mana mba?"


Anggota DPR : "Mba, saya mau konek ke internet nggak bisa, kenapa ya?"
CS : "Nggak bisanya kenapa?"
Anggota DPR : "Saya ketik www.playboy. com, gambarnya nggak keluar."
CS : "Pesan errornya apa pak?"
Anggota DPR : "Nggak ada pesan error, pokoknya saya ketik playboy.com di
addressnya, nggak muncul gambar sama sekali."
CS : "Bapak koneksi internetnya pakai apa, dial up, hotspot?"
Anggota DPR : "Pakai gambar yang ada tulisan e (maksudnya internet
explorer)."
CS : "Maksudku, bapak langganan internetnya pakai ISP apa,
lalu cara koneksi internetnya pakai dial-up atau hotspot, mungkin
settingnya ada yang salah."
Anggota DPR : "ISP itu apa sih mba?"
CS : "Wah ini sih 50 x 2 pak.."
Anggota DPR : "Apa tuh mba?"
CS : "CAPE' DEH!!"

******

Anggota DPR : "Mba' saya ingin daftar account di yahoo.com kok nggak bisa ya?"
CS : "Nggak bisa kenapa pak?"
Anggota DPR : "Ada tulisan, paswort is nat long inof, suld bi mor ten 8 karakter"
CS : "Itu maksudnya, password bapak minimal 8 huruf."
Anggota DPR : "Oooo...oke deh.., saya coba dulu."
Anggota DPR : "Mba password minimal delapan huruf itu delapannya pakai angka
8 atau ejaan delapan?"
CS : "Maksudnya?"
Anggota DPR : "Saya suda tulis di kolom password minimal 8 huruf, tapi bingung mau
tulis delapannya, pakai angka delapan atau ejaan huruf 'delapan'."
CS : "Ketik ini aja pak..C Spasi D."
Anggota DPR : "Apa tuh?"
CS : "CAPE' DEH !!!"

****
Anggota DPR : "Mba' kalau muter film di laptop, gimana caranya ya?
CS : "Ada dvd playernya kan pak?"
Anggota DPR : "Sebelah mana tuh mba?"
CS : "Disamping kanan, pak. kalau di tekan tombolnya nanti, piringan
discnya keluar."
Anggota DPR : "Ooooo.... yang keluar itu, piringan disc ya? Udah patah tuh kemarin."
CS : "Kok bisa patah?"
Anggota DPR : "Saya kira tempat buat naruh gelas minuman."

******
Anggota DPR : "Komputer saya rasanya kena virus"
CS : "Virus apa tuh pak?"
Anggota DPR : "Kurang tahu juga, setiap mau cetak ke printer, selalu ada tulisan
kennot fain printer."
CS : "Itu mungkin salah setting pak."
Anggota DPR : "Settingnya udah bener kok, kemarin aja bisa nyetak, tapi sekarang
nggak bisa. Saya sudah tunjukkin printernya di depan laptop,tetap
aja dia terus-terusan "searchng printer not found." Kayanya webcamnya
rusak,nggak bisa lihat printer."
CS : "Mendadak laper nih Pak, ingin makan tape.."
Anggota DPR : "Lho..kok begitu?"
CS : "TAPE DEH !!!!"

********
Anggota DPR : "Mba, kalau mau baca blognya si artist anu dimana ya?"
CS : "Bapak cari aja di google."
Anggota DPR : "Tapi si artist anu nggak kerja di google kok mba, saya tahu persis."
Capeeek deeehhh..... ......... .... !!!!

melihat percapakan anggota DPR dengan custemer Service diatas, miris juga ya.orangkota kok ndeso? mendingan tukul yang murni ngaku seorang ndeso karna dirinya memang berasal dari deso.
belum lagi kemarin pagi salah satu televisi swasta menayangkan kisah seorang bocah kelas 5 SD yang tidak berani masuk sekolah karena dimarahi oleh kepala sekolah nya, lantaran dirinya ketauan berjualan koran memakai seragam sekolah (katanya itu bukan cerminan bangsa Indonesia)
dilematis sekali bangsa ini ya, kalo dipikir-pikir memang CAPEK DEH
puas...puas...begitu kata tukul

akhirnya

akhirnya setelah sekian lama, gue bisa up date juga ni blog
pertama-pertama gue ucapin terimakasih banyak buat my bro (*#&*^) yang telah memenuhi permintaan tolong gue. thanks so much bro
selanjutnya gue juga mau mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya untuk para pengunjung blog gue, sorry banget blog nya terlalu legaaa....
maklum masih suka itung-itungan untk dateng ke warnet heheh...
ok selanjutnya terserah anda sekalian
silakan melihat-lihat blog yang tidak seberapa ini,
mudah-mudahan gue bisa terus menulis lagi

Friday, November 10, 2006

si Karpet biru

Ngga kerasa masa jabatan ditekno dah mau kelar.kalo di inget kaya nya baru kemaren aku dilantik menjadi pengurus,e ngga taunya dah empat taun lebih aku 'bercengkrama' dengan karpet biru ditekno.mulai dari karpet itu berwarna abu-abu hingga berganti biru tetap menjadi idaman buat penghuni yang biasa minep ditekno.walaupun ada kamar kos,dengan kasur empuk tetap saja tidak akan mengalahkan si karpet biru.maklum karpet itu sudah ibarat spring bed buat anak-anak tekno.

banyak fungsi yang dimiliki karpet biru, itu selain untuk tidur,kami juga biasa makan2 diatasnya.walaupun kepala sekretariatan sering mengomel agar jangan membuat kotor karpet tetapi tetap saja bukan masalah buat kami.walaupun kotor karena bekas makanan,kalau malam tiba tetap karpet biru itu lah yang menampung kami tidur.

saat rapat malam,karpet itu pula yang menjadi alas kami berdebat.sekarang karpet itu sudah robek-robek tapi kami tidak kehilangan akal.disaat kami mengundang kawan2 dari organisasi lain untuk berdiskusi bagian yang robek itu sering ditutupi dengan tikar.

karpet itu banyak memberikan fungsi walaupun dalam kondisi yang penuh dengan robekan.mulai dari sitting,eating,sleeping,meeting dan ing-ing lainnya.pokonya tidak sedikit karpet biru itu memberikan kenangan.

bulan depan teknokra suksesi,saat nya angkatan kami 'meninggalkan' si karpet biru.sudah waktunya angkatan dibawahku yang meneruskan kenangan dengan si karpet biru.agar karpet biru terus dikenang,dan tidak pernah berhenti kerja dan fungsinya.
apalagi untuk adik-adik magang ku yang baru,aku berharap kalian mulai berkenalan dengan si karpet biru,agar bisa merasakan karpet biru bisa menjadi empuk layaknya spring bed di kamar kita yang hangat.

Tuesday, October 31, 2006

Bingung

delapan hari menjelang lebaran aku pulang ke serang.sebenarnya agak-agak ngga enak hati juga sih ninggalin temen-temen yang lagi sibuk ngejar terbitan di teknokra.tapi mau gimana lagi,mama telepon aku terus-terusan.mungkin beliau tau kalo anaknya sudah tidak ada kuliah jadi ia menyuruhku untuk cepat pulang.walapun dari awal ramadhan ia sudah memintaku untuk pulang,tapi alasan "mengerjakan skripsi" menjadi jurusku untuk menjawab pertanyaan mama.
bukan karna aku tidak mau pulang,tapi selain ada tanggungjawab diteknokra aku juga mengingat ongkos untuk pulang tidaklah sedikit jadi kupikir sekalian aja lebaran.

namun sesampainya dirumah aku seperti tidak punya saudara.kedua orang tuaku,nenek,bibi,paman semuanya selalu bertanya "kapan selesai kuliah?" "skripsinya cepetan diselesain!" "pokonya kalo skripsi belum selesai jangan pulang dulu!"
aneh kan?bikin bete sih.
jadi bingung,dilain pihak aku disuruh pulang dilain pihak aku juga disuruh jangan pulang.ternyata mereka menyuruhku pulang hanya untuk memastikan kapan aku selesai kuliah...

belum lagi saat lebaran tiba.semua sanak saudara yang datang hampir 99 persen menanyakan hal yang serupa.aku memang memakluminya,mungkin karna skripsi ku telah kutunda satu tahun.jadi wajar kalo mereka menanyakan "kapan aku selesai?"
sebenarnya sudah beberpa kali aku memberikan jawaban.walau ku bilang data skripsi yang kupakai agak sulit,tetap saja mereka tidak mau tahu.

merasa tidak enak juga dengan mereka yang terus memberiku support.belum lagi tanggung jawab kepada orang tua juga.lusa aku kembali pulang ke lampung,sebenarnya sudah sejak senin aku mau pulang,tapi mama menahanku untuk tinggal lebih lama.
mama kadang buat aku bingung,disuruh tinggal lebih lama dirumah tapi aku juga disuruh cepat menyelesaikan skripsi agar cepat lulus.huh capek dech...

Saturday, September 02, 2006

tukang tipu

beberapa hari yang lalu aku berjalan di sekitar Pasar Tengah. aku sendiri tidak tau mengapa pasar ini disebut Pasar Tengah, mungkin karena letaknya diantara dua pasar yakni pasar bawah dan pasar bambu kuning.
bukan hanya padat oleh banyak pedagang saja, namun gedung-gedung kantor perbankan juga banyak berdiri di kawasan Pasar Tengah ini.

kembali pada perjalananku di sekitar kawasan Pasar Tengah. kebetulan siang itu ada tukang buah-buahan keliling mangkal disamping gedung salah satu bank disana.teman pun mengajak untuk membeli buah jeruk. tawar menawar pun terjadi antara kami dengan penjual buah-buahan itu, sampai akhirnya harga jeruk yang semula 8 ribu rupiah sepakat dengan 6 ribu rupiah.

abang tukang buah itu cukup humoris, berbagai joke ia keluarkan, kita pun tertawa.sambil memasukkan jeruk kedalam plastik abang itu terus mengajak kita mengobrol, karena memang abang itu cukup asik untuk diajak bincang-bincang.uang 20ribu pun aku keluarkan dari dalam dompet, kulihat uang saku ku tingga 10 ribu lagi.
abang jeruk pun memberikan kembaliannya.tiba tiba teman ku mengajak buru buru naik angkot.kembalian yang tadi abang jeruk itu kasih aku masukkan di kantong depan tas.sesampianya didalam angkot,aku bermaksud memasukkan uang tadi kedalam dompet.ternyata e ternyata abang itu nipu, kembalian yang seharusnya ia kasih 14 ribu yang ada hanya 4 ribu rupiah.

kesal aku dibuat abang tukang jeruk itu.bukan hanya masalh uang kembalian itu tapi abang itu ternyata sengaja mengajak kita semua obrol untuk mengelabui agar kita lengah.
karena penasaran dua hari setelah kejadian itu kami kembali ke tukang abang buah-buahan itu.saat itu kami membeli mangga yang harganya 13ribu rupiah untuk 2 kilo.abang itu kembali mengajak kami semua ngobrol. rupanya ia lupa dengan wajah aku.selembar uang 50ribu pun kami keluarkan untuk bayar buah itu.dan ternyata benar,setelah kami cek uang yang ia berikan kurang 10 ribu.
abang itu pura pura 'bego' ketika kami bilang kembaliannya kurang 10ribu dan karena kesal dengannya mangga yang sudah ia masukkan kedalam palstik pun kami kembalikan dan uang 50ribu yang ia pegang kami ambil kembali.
kami pun langsung berbalik arah dan masuk kedalam angkot.abang itu teriak marah-marah tapi tidak kami pedulikan.
esoknya saat kami kembali lewat jalan itu abang tukang buah-buahan itu sudah tidak ada.kata tukang becak sih bilangnya pindah ke pasar bambu kuning.
yah..mudah mudahan sih dia ngga nipu lagi.
makanya hati hati bila kalian bertemu dengan orang yang 'gacor' suka ngobrol karena siapa tau barang bawaan anda lenyap.

Tuesday, August 08, 2006

Susahnya Mau Sekolah

kira-kira tiga minggu yang lalu aku pulang ke Serang. karena sudah beberapa hari mama di rumah selalu menelepon dan menanyakan kapan pulang keserang. akhirnya dengan meninggalkan pekerjaanku diteknokra, aku pamit pada punggawa2 teknokra, yudi, erik and doni.
sesampainya diserang, aku baru teringat kalau adikku baru akan masuk sekolah menengah pertama. sekalian kasih selamat padanya karena lulus ujian aku berikan ia hadiah.ya..ngga mewah2 amat sih, hanya sekotak peralatan menulis.

mama bercerita kalau ia baru saja bayar daftar ulang sekolah adikku.ketika mendengar jumlahnya aku sedikit kaget juga yakni Rp2 juta, padahal sekolah adikku negeri.kalau pada jaman aku dulu mungkin jumlah sekian sudah bisa masuk kuliah, bahkan masih ada kembaliannya kali.

kata mama jumlah sekian sudah beserta baju dan buku.lalu aku bilang mengapa tidak pakai buku Oki saja. Oki adalah adik sepupuku yang duduk dikelas 3 SMP.aku pikir pelajaran yang diberikan sama dan pastinya buku yang dipakaipun sama.namun mama bilang setiap anak wajib untuk membeli buku disekolah.guru disekolah itu bilang kalau buku yang terdahulu sudah tidak bisa dipakai lagi.dan lagi pula setiap sekolahnya menggunakan buku yang berbeda-beda.
mendengar berita itu aku tambah kaget.sudah mahal buku yang dibeli tidak bisa diturunkan pula.apa maksudnya ini?

belum lagi saat aku mendengar cerita dari bibiku(mamanya Oki) saat ia membayar buku untuk anaknya disekolah.sekolah negeri memang tidak membayar SPP karena ada dana BOS, namun tetap saja murid diharuskan membayar uang bangunan yang padahal dari semenjak aku SMP bangunan sekoalh itu hanya sedikit mengalami perubahan.

setelah dipikir-pikir, itu berarti mamaku yang sudah mengumpulkan buku pelajaran milik aku mulai dari SMP hingga mau masuk kuliah keliatan sia-sia.tadinya dipikir bisa diturunkan untuk adik saat ia sekolah nantinya tapi keliatannya lebih baik disumbangkan ketaman bacaan aja kali ya.tapi kalo disekolah saja sudah tidak terpakai apa anak-anak mau membacanya.mudah-mudahan sih mereka masih punya semangat buat baca.

ya ampun bagaimana ini pendidikan di negara tercinta kita.mau sekolah aja sulitnya minta ampun.apalagi mau kerja.mau sekolah sampai wajib belajar sembilan tahun saja susah apalagi sampai kebangku kuliah.diindonesia kan pekerjaan dilihat dari ijasahnya dan sedikit yang dilihat dari skill.sudah tidak bisa terbayangkan lagi bila orang-orang yang tidak mampu ingin bersekolah.

katanya sekolah negeri itu untuk sekolah rakyat.boro-boro sekolah rakyat yang ada juga sekolah bikin melarat dan hanya untuk orang-orang kaya saja.
maap bila berkata berlebihan, saya hanya menangis saja bila melihat anak-anak yang dipinggir jalan itu masih mengais-ngais sambil mengangkat-angkatkan tangannya.

Monday, July 10, 2006

i love 24








terinspirasi oleh kisahku bersama-sama teman di pantai mutun. kadang kalo teringat suka ketawa-ketawa sendiri.
awalnya aku benci mendengar kata "pantai" saat mayna, teman seangkatan diteknokra berkata "Eh kita maen ke pantai yuk?ke mutun aja.yuk...yuk...yuk".
duh pantai lagi, udah kayak film dono aja sukanya pergi kepantai. yang lebih parah lagi, pantai yang dituju lagi-lagi 'mutun'. padahal baru sebulan yang lalu kru teknokra maen ke pantai mutun, masa belum ada hitungan dua bulan udah mau kesana lagi.
"ada alternatif lain ngga sih selain pantai, panas banget nich"
"pantai kan murah. lagian kalo ketempat lain pasti ngabisin duit"
huh...lagi-lagi duit. kendala dari kebanyakan manusia emang duit. tapi walau begitu rencana ke pantai mutun tetap berjalan.

kumpulnya angkatan 24 teknokra untuk pergi kepantai itu adalah sekalian melepas heni yang sudah tidak lagi berdomisili di lampung. ia sudah berkemas untuk pulang ke kotanya yaitu Serang. walaupun diadji dan dwi juga sudah tidak lagi berkecimpung di teknokra namun mereka masih tinggal di lampung, jadi besar kemungkinannya masih bisa ketemu. tapi kalo heni kan mesti nyebrang pulo dulu baru bisa ketemu dan kumpul
kurang lebih satu jam perjalanan empat kendaraan roda dua melaju menuju arah hanura padang cermin. aku-dwi,mayna-diadji,heni-yudi dan diova-erik.
kira-kira pukul setengah lima sore kita tiba disana. mayna dan diadji sudah sampai terlebih dahulu. sedang yang lainnya belakangan.
kamera hasil pinjaman diam-diam, aku keluarkan dari dalam tas. maklum petinggi teknokra kebanyakan ada disana, jadi atas seijin yudi selaku pemimpin umum aku bawa kamera digital canon itu.
ceprett...ceprett...ceprett...
kebanyakan dari kita emang gila poto, mulai dari pose angkat kaki kiri, kaki kanan, ampe pantat menungging. alhasil hasilnya pun berantakan.tapi walau begitu kita semua senang.
usai lepas magrib, kita semua adakan permainan. 'truth or dead' keluar dari mulut Mayna."pake kacang-kacang pendek aja"
setuju tisak setuju permainan itu dimulai. dengan dikomandoi aku, tangan-tangan delapan orang tarik ulur.
"kacang-kacang pendek yang panjang tidak jadi" semua tangan menjulur kedepan, kecuali tangan diova.
waaaa..........suara ribut keluar dari mulut tujuh orang lainnya. "diova kena"
karena setuju tidak setuju harus nurut, diova pun menyerah. berbagai macam pertanyaan mulai dari privasi ampe provokasi dilempar ke diova.
permainan ini direkam oleh yudi dengan hp baru nya. nokia comunicator yang baru dibeli tiga hari sebelumnya. kaya yudi walau ngga ada pulsa yang penting keren.
diova pun tersipu-sipu malu saat menjawab satu pertanyaan dari heni. tapi kita semua berjanji semua jawaban dan pertanyaan yang kita keluarkan sore itu tidak akan dipublikasikan. kecuali hanya comunicator yudi yang bisa mengingkarinya.
hingga jam ditangan menunjukkan pukul 07.30, kita semua berhenti bermain. diakhir permainan yang direkam itu, kita memberikan kesan dan pesannya. "mudah-mudahan kita semua bisa berkumpul lagi empat tahun mendatang, dengan waktu yang sama, tempat yang sama, permainan yang sama dan tentuny dengan cerita yang berbeda"
ya empat tahun lagi, mudah-mudahan Tuhan masih memberikan kita semua jodoh untuk bertemu dan berkumpul lagi.
sepulang dari sana kita makan di Ratu. dan lagi-lagi ketawa mengiringi makan malam kita.
huh..hari yang tidak akan pernah aku lupakan.